Menengok Sebentar ke 2012

, , 18 comments
Assalamu'alaikum

Telah banyak peristiwa yang aku alami di tahun 2012 kemarin #tsaaah
Ada suka, ada duka, ada campuran suka duka, gundah gulana, dan sebagainya. Aku akan merangkumnya untuk kalian, wahai sahabat yang selalu setia berkunjung ke blogku, silent reader, maupun yang sedang nyasar dan iseng baca-baca disini :)

1. Aku kehilangan beberapa orang yang aku cintai
a. Pakpuhku (kakak ibuku pas di atasnya), yang juga merupakan anak tertua dari 8 bersaudara dari garis ibuku. Namanya Pak Imam Subekti. Sebenernya beliau meninggal Oktober 2011, tapi tahun 2012 kemarin masih terasa kehilangan itu. Beliau sakit kanker usus awalnya (terdeteksi akhir 2009), yang membuat beliau dirawat di Graha Amerta Surabaya. Aku sempat menginap di RS tersebut selama kurang lebih sebulan (Januari 2010), dan pulang-pergi dari RS ke kantorku, lalu pulang kantor langsung ke RS lagi. Makan, mandi, tidur disana. Mbakku yang bertugas mengantarkan baju-bajuku ke RS dan kadang membawakan makanan. Saat itu dia sedang sibuk kuliah dan kerja, jadi praktis aku yang bisa menemani budheku (istri pakpuh) disana. Sedangkan saudara-saudara kami lainnya sempat juga ada beberapa yang tidur di RS, tapi tidak lama. Alhamdulillah karena RS nya bersih dan makanannya di beberapa tempat kuliner disana enak, jadinya aku oke-oke saja "tinggal" disana sebulan. Tapi walau bagaimanapun, itu rumah sakit gitu loh :( :( :(

Setelah pulang dari RS, pakpuhku yang tinggal di Kediri ini rutin kontrol ke RS tersebut untuk kemoterapi. Entah karena ada 1 jadwal kemo yang tidak ditepati, atau memang sudah jalan Tuhan, sekitar pertengahan 2011, pakpuhku masuk RS lagi, tapi kali ini di Kediri. Kanker yang harusnya sudah sirna berkat kemoterapi, nyatanya justru menyebar ke paru-paru, liver, entah apa lagi. Dokter yang menangani beliau di Graha Amerta sudah angkat tangan dan menyarankan dirawat di Kediri saja, tidak perlu dibawa ke Surabaya. Hanya mukjizat Tuhan yang bisa menyembuhkannya. Terakhir aku menjenguk beliau di RS Bhayangkara Kediri, beliau sudah setengah tidak sadar, bicaranya tidak nyambung dan terbata-bata, badannya menguning, makin kurus kering. Beberapa hari setelah itu, beliau meninggal dunia. 

Rasanya begitu sesak mendengar kabar itu. Terbayang-bayang lagi bagaimana segala sakit yang dirasakan pakpuhku selama dirawat di RS, ketika perawat menyuntikkan cairan tertentu ke selang infusnya dan itu katanya sangat sakit, panas, dan nyeri di kulit tangannya. Bagaimana luka di perutnya yang dijahit dengan sangat rapi, pasca operasi pemotongan usus yang membusuk karena kanker tersebut. Bagaimana budheku dengan sabar membuang (maaf) tinja yang ditampung di kantong di perutnya, karena oleh dokter dibuatkan anus buatan disana. Bagaimana ketika suatu malam beliau sesak nafas dan budheku dengan panik membangunkanku yang tidur di lantai dengan cara menyepak-nyepak kakiku secara brutal dan menyuruhku memanggil perawat, kemudian perawat datang memasukkan semacam suction ke mulut beliau dan melakukan entah apa hingga pakpuhku merasa tenang kembali. Bagaimana kalimat beliau di RS kepadaku yang sampai sekarang aku ingat, "Ndhuk, kowe wis ora nduwe bapak. Yo aku iki saiki bapakmu. Kowe ngopeni aku." (Ndhuk, kamu sekarang sudah tidak punya ayah. Ya aku ini sekarang ayahmu. Kamu merawat aku). Kalau mengingat itu, aku kadang masih menangis.

Pengamatan (amatir)ku sendiri terhadap penyakit beliau adalah disebabkan karena pola hidup yang kurang sehat, mempunyai banyak beban mental/ pikiran yang tidak dapat diatasi secara tuntas, dan juga perokok berat. Entah apapun yang menjadi penyumbang terbesar meninggalnya pakpuhku, perilaku merokok tentu saja SELALU punya cara untuk membunuhmu! Aku benci perilaku merokok, seperti yang pernah aku tulis disini dengan judul "Maaf, Saya Hamil. Tolong Matikan Rokoknya".

b. Omku (adik ibuku pas di bawahnya). Namanya Pak Tris Waluyo Hadi. Beliau sampai waktu meninggalnya berstatus sebagai guru SMA Negeri 4 Malang, mengajar Bahasa Inggris. Sebenarnya beliau sakit stroke sudah sejak 16-an tahun yang lalu. Jalannya harus dipapah. Beliau setauku sudah menjalani begitu banyak perawatan, baik akupuntur maupun pengobatan alternatif lainnya. Beliau mempunyai istri yang hebat, yang sangat sabar, yang dapat diandalkan. Sejak awal menikah, omku "melarang" tanteku ini untuk bekerja. Jadi ibu rumah tangga saja. Biar beliau sebagai laki-laki dan kepala rumah tangga yang mencari nafkah untuk keluarga.

Pagi itu, om ku meninggal mendadak. Tidak dalam kondisi sakit (drop maksudnya), malam sebelumnya masih bisa keluar makan soto berdua sama tanteku, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa beliau akan meninggalkan kami semua. Tak dapat ditolak, Malaikat Izroil telah datang menjemput beliau. Beliau jam 4 pagi terbangun dan muntah-muntah. Setelah terlihat tenang dan tubuhnya dibersihkan, ternyata "tenang"nya justru adalah beliau sudah meninggal, sekitar jam 6 pagi, di pangkuan anak keduanya yang masih SMA. Seluruh keluarga kaget mendengar berita tersebut.

Yang membuatku percaya bahwa beliau insya Allah khusnul khotimah (memiliki akhir hidup yang baik) adalah jenazah beliau yang tersenyum. Iya, aku melihat beliau tersenyum. Dan yang takziyah ke rumah beliau saat itu sangat amat banyak sekali. Selain keluarga, tetangga, juga murid-muridnya di SMA. Yang menshalati beliau juga banyak. Insya Allah beliau dikenang sebagai orang yang baik, yang walau keras dan tegas, tapi prinsipnya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Beliau selalu senang jika kami, saudara-saudaranya menginap di rumah beliau. Beliau bisa "cerewet" sekali kepada istri dan anak-anaknya yang ketiganya lelaki, untuk membersihkan rumah, mengganti sprei, dll ketika ada rencana saudaranya akan datang.

c. "Adikku" (teman kantor mbakku yang sudah menganggap aku dan mbakku sebagai anggota keluarganya sendiri). Namanya Lukman Aris Purwanto. Ia meninggal pada usia 23 tahun karena kecelakaan tunggal motornya. Silahkan simak kisahnya di tulisanku berjudul "Ternyata Usiamu Cukup Segini, Le!"

d. Tetangga depan rumahku. Namanya Pak Suko Prayitno, tetapi kami sekeluarga (termasuk ibuku) memanggil beliau Pakpuh. Beliau meninggal karena sakit, selain karena usianya yang kalau tidak salah sudah 70 tahun lebih. Hubungan kami terbilang cukup dekat mengingat jaman aku kecil, aku sering dititipkan ke keluarga beliau yang saat itu beliau dan istrinya sama-sama berprofesi sebagai guru. Sebagai PNS di Dispenda (Dinas Pendapatan Daerah) Kota Kediri (yang sekarang namanya berubah menjadi DPPKA/ Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset), ibuku bekerja dari pagi hingga siang/ sore, bahkan tidak jarang lembur. Nenekku juga tidak punya banyak waktu untuk mengurusku. Jadi, siapa yang peduli sama akuuuhh? Aku anak siapaaah??? *lari ke hutan*. Tapi alhamdulillah aku gak pernah kekurangan kasih sayang secara psikis dari ibuku kok. Wanna be a mom as tough as my mom, someday :*

Pakpuh Suko ini sekeluarga Kristen. Karena mungkin darah "pendidik" di keluarga kali ya, jadi anak-anak beliau juga tumbuh dengan baik. Putra-putri beliau ada banyak. Bentar, aku itung dulu. Ada mas Totok, mbak Tutut, mbak Ambar, mbak Ririn, mas Agus, mas Didit, mas Yudi. Ada 7 berarti ya :) Mas Yudi yang terkecil saja sekarang sudah punya 2 anak. Jadi sebetulnya Pakpuh Suko ini seusia mbahku, dan putra-putrinya seusia om-om ku yang termuda. Tiap Lebaran, mas dan mbak tersebut bersama anak-anaknya, hampir PASTI berkunjung ke rumah kami. Bisa kalian bayangkan seluruh ruang tamu penuh dengan keluarga pakpuh Suko. Mana mereka kalau ketawa punya ciri khas yang serupa, yaitu tertawa menggelegar membahana, tapi dengan intonasi tertentu yang menarik (mungkin aku perlu rekamkan suara ketawanya kali ya :p). Setiap kali ngobrol bisa gayeng atau apa ya bahasa Indonesianya? Pokoknya seru, nge-blend, akrab banget. Apalagi dulu jaman mas Didit baru pulang dari Jepang (sempat beberapa tahun tinggal disana) dan cerita-cerita. Kemudian keesokan harinya, gantian keluarga kami yang bertandang ke rumah beliau. Kue-kue enak selalu tersedia di meja tamunya, walau keluarga beliau tidak merayakan Lebaran :)

e. Mantan asisten rumah tangga kami. Namanya mbok Nem. Semenjak mbok Nem bekerja di rumah kami (menyapu halaman depan dan belakang, mencuci baju, menyetrika, mencuci piring, menyapu dan kadang mengepel rumah - haduh pas nulis ini jadi merasa bersalah banget, banyak beudh pekerjaan beliau :-| ), sebenarnya mbok Nem sudah sering mengeluh sakit. Sakit yang karena memang capek, karena puluhan tahun hidupnya berpindah-pindah menjadi ART di beberapa keluarga. Itupun masih disambi berjualan bothok atau thiwul atau apapun yang bisa beliau bikin, di pasar. Suaminya tukang becak, tapi tampaknya justru mbok Nem lah yang jadi tulang punggung keluarga :(

Waktu aku pulang ke Kediri, mbok Nem pas akhirnya harus dirawat di RS Gambiran Kediri. Sempat sangat sesak di dadanya, yang kemudian beliau bilang siang itu cairan di paru-parunya habis diambil dokter (entah berapa liter), melalui punggungnya, dengan sebuah entah jarum atau selang. Tapi itu bukan sebuah operasi juga, jadi ya diambil gitu aja cairannya. Aku merinding mendengar ceritanya. Aku dan ibuku bukan orang yang tegel atau kuat mendengar cerita-cerita mengenai sakit seseorang, tapi mau gimana lagi, namanya juga menjenguk orang sakit.

Saat mbok Nem sakit itu, ibuku berusaha mengumpulkan uang dari para tetangga untuk memulangkan anak tunggal perempuan mbok Nem yang bekerja di Jayapura, karena anaknya mengaku tidak punya uang untuk naik pesawat. Ibuku sambil secara tidak langsung memberi tahu tetangga-tetangga untuk peduli kepada orang lain, dengan apapun atau berapapun "harta" yang dimiliki. Akhirnya setelah terkumpul kira-kira 2 juta rupiah (terakhir ditambahin beberapa ratus ribu rupiah oleh bu Suko), tiket itu terbeli juga, walau memang hanya cukup untuk 1 kali jalan pulang ke Jawa, dan tidak untuk kembalinya. Setelah beberapa hari di rumah, akhirnya anaknya harus kembali karena memang sudah tidak memungkinkan untuk cuti terlalu lama oleh bosnya. Konon katanya, ia bekerja di sebuah restoran di sana.

Terakhir kali aku dan ibuku menemui mbok Nem di rumahnya yang ada di samping jalan rumah kami, mbok Nem sudah cukup letih dan tidak berdaya untuk mengobrol dengan kami. Terdengar beberapa gumaman tak jelas ketika ibuku mengajaknya berbicara. Setelah aku kembali ke Surabaya, akhirnya mbok Nem meninggal dunia. Sungguh, mbok Nem adalah orang yang baik, jujur, pekerja keras, dan hormat kepada orang lain. Ya Allah, ampunilah segala dosanya dan masukkanlah ia ke dalam surgaMu. Amiin...

f. Dosenku. Namanya Bapak Christophorus Daniel Ino Yuwono (Pak Ino). Tulisan sedikit pengalamanku bersama beliau aku posting di tulisan berjudul "Makanan Favoritmu Apa? Ayo Taruhan! Seru Guruku". Tulisanku ini sepertinya (karena aku belum ngecek sendiri) masuk dalam kumpulan tulisan yang dibukukan berjudul Guru yang Tak Pernah Pergi: Inspirasi Pak Ino, yang diterbitkan melalui nulisbuku.com. Disitu ada sekitar 100 mahasiswa, rekan kerja, dosen, dan orang yang tidak kenal langsung dengan beliau, yang memberikan cerita, statements, maupun mengutip pelajaran-pelajaran hidup yang pernah disampaikan oleh Pak Ino dalam berbagai kesempatan. Ayo beli yah! :) Kata Pak Bukik, keuntungan penjualan buku akan digunakan untuk launching buku tersebut saat ulang tahun Fakultas Psikologi Unair bulan Februari 2013 besok.

2. Aku ketemu beberapa penulis idola
Alhamdulillah tahun 2012 aku sempat bertemu dengan beberapa penulis idolaku, yaitu Raditya Dika (bersama Christian Simamora - yang aku baru tau kalo dia Cristian dan penulis buku juga), bunda Asma Nadia, Ust. Fauzil Adhim, Ust. Salim A. Fillah, juga artis Kholidi Asadil Alam (a.k.a Khoirul Azzam di film Ketika Cinta Bertasbih) beserta Habiburrahman El Shirazy :) Kalo Raditya pas ada talkshow komik terbarunya di Gramedia Tunjungan Plaza, kalau bunda Asma pas ada seminar keputrian di Farmasi Unair, kalau Ust. Fauzil waktu ada talkshow di Fisip Unair memperingati hari ibu, kalo Ust. Salim ketemu pas talkshow tentang pernikahan di Psikologi Unair, sedangkan Kholidi dan Kang Abik waktu ada tabligh akbar di ITS. Pertemuan pertama dengan Kang Abik sebenarnya di Fisip itu, jadi di ITS adalah pertemuan kedua. Yiey!

3. Dua sahabat terbaikku menikah
Yang pertama adalah Afina Purnama Sari (menikah 1 Juli 2012) dan kedua adalah Lutfa Hasanah (7 September 2012 akad nikahnya, resepsi 8 September 2012). Postingan tentang Afina ada di tulisanku yang berjudul "Dua Tangis dan Ribuan Syukur". Sedangkan untuk Lutfa, maaf ya honey, sampe sekarang belum sempet nulisnya :(
Dan pertanyaan "menggoda" selalu dilontarkan oleh mbakku, "Gimana dek perasaanmu, Afina dan Lutfa udah menikah? Pengen yaaa???" *makan kemenyan*. Oya, alhamdulillah sekarang Afina dan Lutfa sedang hamidun alias hamil muda. Aku juga, tapi masih "mengandung" nasi :p

4. Adik sepupuku melamar gadis pujaannya
Namanya adalah Gema Sakti Adzan (@gmasakti), dia adalah anak tertua dari Pak Tris, om ku yang baru saja meninggal yang aku ceritakan di atas. Dek Gema berusia 25 tahun saat ini (setahun lebih muda dariku). Aku sangat menghargai keinginannya untuk menikah muda (sebenernya gak muda-muda amat sih, udah 25 tahun juga, hehe), dan keyakinannya untuk membina sebuah rumah tangga. Saat melamar tersebut, ia baru lulus kuliah S1 nya di UGM. Mereka cinlok: satu angkatan, satu jurusan, satu kelas. Saat ini calon istrinya menempuh S2 di UGM. Mereka dalam waktu dekat akan tinggal di Jogja dulu. Tapi sepertinya ada wacana untuk dek Gema pindah kerja ke Jakarta. Apapun, semoga pernikahannya besok 15 Februari 2013 lancar, sesuai rencana. I'm very excited about their wedding! (ngapain gue yang semangat coba?!). Dek Gema ini sepupu yang cukup dekat sama aku, jadi wajar donk kalo aku ikutan semangat :) Tulisan tentangnya ada di postingku berjudul "Kita Semua Bertumbuh".

5. "Someone" telah menikah
Ini adalah titik dimana aku harus berhenti berharap dengannya, dan saat aku menulis postingan berjudul "Air Mata Terakhir" ini, aku benar-benar berjanji bahwa aku tidak akan menangis (lagi), menangisi kepergiannya. Yaelaaahhh :p Dan aku harus membuka hati untuk orang lain.

6. Aku lulus kuliah S2
Alhamdulillah selesai sudah perjuanganku selama 2 tahun terakhir kemarin. Tsaaah. Aku Yudisium tanggal 19 Oktober 2012 kemarin dan insya Allah wisudanya Maret 2013 besok. Jika tidak ada halangan, bulannya barengan sama wisuda S2 mbakku juga. Dia sih masih mau sidang Thesis besok kamis. Mohon doanya ya semoga lancar dan langsung lulus :) Ini cerita akhir masa Praktik Kerja Profesiku dan ini adalah sedikit cerita dan foto Yudisiumku. 

Itu adalah sekedar catatan perjalananku selama tahun 2012. Beberapa sudah terdokumetasi di blog ini tahun lalu, beberapa pula baru aku tuliskan sedikit kisahnya disini, seperti meninggalnya pakpuh, om, tetangga, dan mantan ART kami. Waktu berlalu cepat kan ternyata? Semoga tahun ini, mimpi-mimpi baik kita terwujud dengan indah, yes? Tenang aja, Tuhan selalu tepat kok ngasih waktunya. Tapi kita juga harus berusaha yaaa... Selamat menempuh tahun baru, semuwaaah... *kecup*

Wassalamu'alaikum

nb: sumber gambar dari sini.

18 comments:

  1. met tahun baru jugaaaa.... wah komplit dan detil banget memori 2012-nya, ga kayak punyaku, 1 paragraf doank, heu heu heu :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. no problemo mbak'e... Lha wong aku liat archieves blogku selama 2012 kok, jadi ya inget semua mbak, wkwkwk *menulis tetep butuh energi kan ya ternyata* :)

      Delete
  2. Selamat tahun baru buat dirimu... walaupun isi tulisan ini kesannya sedih sedih... tapi begitulah warnanya hidup ya khan.. semoga tahun ini ada 'someone' yang baru ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya yang sedih cuma nomor 1 aja kok mas :)
      begitulah hidup... amin amin amin ya Robbal 'alamiinn... makasih

      Delete
  3. Aku hampir menangis baca di bagian kamu kehilangan Pakpuh-mu. Yang ikhlas ya, Pety... *peluk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. *kasih tisu ke Kimi*
      iya Kimi, makasih *peyuk erat*. Anak pakpuhku itu sekarang masih SMP...

      Delete
  4. Ada suka dan suka, ada tawa dan tangis, itulah warna-warni kehidupan….

    Satu hal yang aku petik dari kejadian-kejadian yang mengisi hidupku bahwa : “HIDUP ITU PENUH DENGAN KEJUTAN”, Kejutan yang Manis dari Allah. Mungkin menurut kita pahit, namun percaya bahwa itu yang terbaik. Manusia tidak bisa memprediksi apa yang menjadi garis kehidupannya, hanya ALLAH Maha Tahu Segalanya….

    Alhamdulillah, semoga kisah perjalanan di tahun 2012 menjadi pembelajaran yang berharga untuk menjalani lembaran cerita di tahun 2013 dan tahun-tahun berikutnya…..
    Semoga kita bisa meraih dan memeluk mimpi-mimpi indah kita yang telah kita ukir bersama….

    Keep Smile Honey…. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin... terima kasih doanya, tante Lutfa. Komennya bagus dan puitis, hihi :*
      yes, life is unexpected!

      Delete
    2. sama-sama mbak pety yang baik hati... :)
      Life is Unexpected... saya ndak ngira kalo bertemu jodoh di waktu yg tidak disangka...

      Saya percaya Allah jg sudah menyiapkan "Kejutan Spesial" untuk Sahabatku ini.. :))

      Selain penulis, kamu pantes jadi Guru Bahasa Indonesia... hehe..

      Delete
    3. amiiiin amiiin amiiin ya Robbal 'alamiinn... :*
      I do believe it too, honey!

      ngelamar jadi guru bahasa Indonesia aja aaaah :p

      Delete
  5. 1. Ya ampun... umur 23 sudah meninggal :| *wondering umur sendiri...
    Banyak juga ya kamu kehilangan orang yg disayangi... Turut berduka ya :(

    2. Cie ketemu raditya dika... kalo ketemu aku termasuk penulis idolamu ga? hahaha *dikemplang

    3. Nah yg lain sudah menikah. Pety kapan? xD

    4. Congrats buat kelulusan S2 nya yah... siap mengajar dimana nanti? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. iya Ivan, makasih :)

      2. ih, emang Ivan penulis yah? Mau doonnk ketemu trus poto bareng :p

      3. kamu sendiri kapan, Van? Jangan di Jepang terus, jodohmu orang Indonesia tuh. Ayo balik *sotoy* :p

      4. tengkyu, berkat doa teman2 juga :) Aku ngajar plus mendidik anakku nanti di rumah :D Amiiinn...

      Delete
  6. Replies
    1. ikut membaca apa menyimak? #eh #bedanyaApa? :))

      Delete