Cerita 2 Ramadhan 1436 H: TANPA JET WASHER

, , 10 comments
Mudah kebelet buang air kecil (BAK) atau pipis, adalah salah satu kelebihanku. Ah entahlah, kelebihan atau kekurangan. Aku bisa mudah kebelet BAK di manapun. Di mall, terminal, stasiun, bandara, tempat makan, hotel, di dalam pesawat, dan lain-lain.

Pagi itu ketika aku mengikuti sebuah acara seminar di salah satu hotel lawas dan tenar di daerah Surabaya barat, sebelum mulai pun aku sudah ingin ke toilet. Terburu-buru aku menuju deretan kamar mandi sebelum ngompol (ya keleus).

Begitu masuk, aku begitu kecewa dan sedih melihat kondisi kloset duduk yang ada. Bukan kotor atau bau atau basah dimana-mana, tapi karena..... tidak ada jet washer atau closet shower atau selang air untuk cebok paska BAK, yang biasanya ditaruh di sisi kanan kloset itu tuh. Dan ini adalah kondisi yang aku benci. Toilet kering yang saking keringnya, bahkan tidak mengizinkan penggunanya untuk menyemprotkan air untuk cebok. Hanya ada tombol flush untuk mengguyur kloset setelah digunakan.


Inilah jet shower yang kumaksud
Mau gak mau, aku keluar lagi dengan sebelumnya mengambil segulung tisu agak tebal, membasahinya di wastafel depan deretan toilet, baru kemudian BAK. Proses membersihkan atau basuh-membasuh organ kewanitaan hanya dengan tisu basah tak pernah membuatku puas. Yah mungkin karena selama ini bisa dengan leganya byar-byur membersihkan bekas BAK dengan air yang melimpah.

MULAI LAZIM

Sudah sejak bertahun-tahun lalu sebetulnya aku mendapati jenis toilet dan model kloset seperti ini. Tanpa jet washer. Tentu bagiku, yang ideal adalah kloset duduk dengan jet washer terpisah berupa selang di sisi kanan kloset (dan bukan di kiri karena aku tidak kidal!) yang mudah diraih tangan, dan flush yang sekali tekan bisa menyiram “hasil pembuangan” kita hingga bersih tak bersisa.

Pun air cebok yang mancur keluar dari belakang ke depan pun bukan model yang ideal buatku. Hal ini memungkinkan air menyemprot ke bagian belakang tubuh kita terlebih dulu, baru mengarah ke depan. Kotoran yang harusnya dibilas dari depan ke belakang, menjadi terbalik. Bagaimana jika “kotoran” justru masuk ke bagian depan organ kewanitaan kita?

Kloset duduk dengan pancuran belakang
Toilet-toilet yang mengusung gaya yang menurutnya kekinian, kebarat-baratan, justru mungkin tidak pro dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang biasa cebok dengan cara tradisional. Masyarakat Indonesia atau cuma aku ya yang merasa seperti itu? Di mall yang terbilang mewah, di bioskop kota besar, di hotel berbintang banyak, mestinya sudah lazim ditemui toilet macam ini.

Mungkin adaptasiku yang lambat, atau memang aku merasa tidak “bersih” sesaat setelah keluar dari toilet tersebut.

LEBIH WAJAR BILA ITU DI LUAR NEGERI

Di Thailand, hotel yang aku inapi juga memiliki toilet kering tanpa jet washer, tanpa pancuran air belakang. Aku dan Nanda (teman seperjalananku) kebingungan setiap pagi ketika akan Buang Air Besar (BAB) alias pup. Tidak bisa membayangkan bagaimana jika kami harus membersihkan BAB menggunakan tisu layaknya orang barat eropah dan amerikah sana. Yang ada merinding lebih dulu.

Untungnya (cuma sedikit untungnya), di setiap kamar mandi hotel minimal bintang 3 disediakan gelas kosong untuk berkumur atau sikat gigi. Tak mau cebok hanya dengan menggunakan tisu, kami pun sepakat untuk menggunakan gelas kecil kaca tersebut sebagai pengganti gayung.

Masalah ke dua muncul: airnya dari mana? Secara ya, bathtub kami memiliki head shower, bukan hand shower, alias shower-nya nempel fix di dinding, gak bisa dinaikturunkan sekehendak hati barbie. Ketika kran shower mandi dibuka, tentu air yang memancar menyebar yang keluar. Lama dan terlalu jauh untuk menampungnya.

Tak kurang akal, akhirnya kami menggunakan air dari wastafel yang ada di sisi depan kanan kloset kami. Bagaimana cara mengambilnya? Setelah BAB, dengan kondisi yang masih “begitu kotornya” kami turun dari kloset dan menuju wastafel untuk menampung segelas kecil air, kembali ke kloset, cebok yang cuma cukup untuk satu kali siram, lalu kembali lagi ke wastafel mengambil air, kembali ke kloset, cebok, dan seterusnya sampai hati merasa bahwa itu sudah bersih. Antara kloset ke wastafel kira-kira 3 langkah kaki. Setelah kuhitung, tak kurang dari 10 kali bolak-balik baru merasa cukup bersih. Capeknya setengah mati.

Itu dalam satu kali ritual BAB ya. Kami menginap selama 4 hari 3 malam di hotel, dan sayangnya, sehari tak cukup sekali BAB bila kondisi perut kurang nyaman. Oh well...

Sekembalinya ke Surabaya, pihak travel agent menanyakan ke kami para peserta, bagaimana rasanya setelah trip, dan apakah ada kritik serta saran untu mereka.

Aku langsung nyerocos, bahwa seharusnya kami dipilihkan hotel yang pro Muslim, karena sebagian besar peserta adalah Muslim. Dan tentu saja, maksudku adalah yang toiletnya memiliki sanitary equipments yang layak untuk membersihkan diri, khususnya jet washer di toiletnya. Karena penting bagi setiap Muslim untuk benar-benar bersih dari najis dan kotoran, khususnya ketika akan shalat. Aspek thoharoh (bersuci) harus diperhatikan.

Kloset duduk ideal versiku. #halah
Kemudian si agen menjelaskan bahwa tidak mudah mencari hotel seperti itu. Apalagi Thailand bukan negara mayoritas Islam, tetapi Buddha. Ia merupakan destinasi wisata dari seluruh dunia, yang mana hotel sering diinapi bule dari seluruh penjuru dunia yang memang justru terbiasa dengan kloset seperti itu. Pakai tisu, lalu buang. Semudah dan secuek itu. Agen justru menyarankan aku untuk mulai membiasakan diri dan tidak terlalu berharap menemukan toilet yang “umum” seperti di Indonesia ketika aku berada di luar negeri.

Huft, mau tak mau aku harus menerima penjelasan seperti itu, karena memang kenyataannya demikian. Okelah, lain kali aku harus lebih siap mental. Toh tidak semua spot wisata di Thailand berkloset seperti itu. Ada yang normal lengkap dengan jet washer-nya.

***
Sampai sekarang aku masih sering membayangkan, apakah konsep cebok-dengan-tisu-lalu-buang itu adalah begitu selesai, tisu yang belepotan “kotoran” itu langsung dibuang ke tempat sampah? Apa kabar para pemungut sampah yang menemukan “harta karun” itu? Atau tisunya langsung dihancurkan, didaur ulang entah menjadi apa?

Dan yang lebih mengerikan adalah membayangkan apa yang ditulis Trinity di buku-bukunya terdahulu (The Naked Traveler series), bahwa di daratan Cina/ Tiongkok, toilet umum hanya dibatasi sekat setinggi leher dewasa ketika jongkok. Ketika berdiri, nah tampaklah segala yang tidak ingin (atau ingin) anda lihat. Malah ada juga toilet umum yang sangat amat bau pesing, yang ternyata para pengunjung tua-muda, cantik-jelek bisa BAK langsung di lubang/ kloset jongkok yang disediakan, dan.... ya udah gitu aja ditinggal pergi setelah selesai BAK. Orang yang antri di belakangnya ya... langsung aja BAK di lubang itu juga secara bergantian. Gak disiram, mungkin juga gak cebok. Glek!

***
Oya, kalau cowok, gimana sih cara membersihkan najis setelah BAK, baik di kloset biasa maupun urinoir (tempat BAK berdiri khusus cowok)?
Apakah langsung pergi begitu saja setelah menyiram kloset, atau bagaimana?
Bagaimana jika tidak ada air sama sekali untuk membersihkan diri?
Apalagi untuk sebagian orang, sangat penting untuk menjaga kesucian diri (menjaga wudhu - kembali wudhu saat batal) sepanjang hari.

Sumprit, ini jadi pertanyaan sepanjang hidupku, karena aku juga belum punya anak cowok ya :)

10 comments:

  1. Di Bandung aja skrg mall2 udah pake kloset yg. Kyk gini, soalnya model kyk gtu, lebih hemat air..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih hemat air dan lebih risih sih ya kalo buat ane

      Delete
  2. Yang ga suka juga pispot cowok yang model auto pake sensor LED itu. Air yang keluar sedikit, ga bisa cebok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, pertanyaan serius nih mas.
      emang cowok itu ceboknya gimana sih setelah BAK? huft... *nahan kepo*
      kalo urinoir kan nyiram air seninya aja to?

      Delete
  3. hihi urusan ini memang bisa bikin riweuh ya. kalo kebanyakan orang Indonesia yang domisili di luar sih pada bawa gayung dari tanah air! serius lho gayungnya impor hehe. ada juga kok yg jual gayung di toko2 cina di sini. kalo bandara-bandara internasional biasanya sudah mengakomodasi kebutuhan kaum muslim. jadi mereka selalu punya toilet kering, toilet kering + jet washer, bahkan ada yang juga menyediakan toilet jongkok, secara banyak juga traveller yg cuma bisa 'melakukannya' di toilet jongkok hehe. di bandara Dubai yang segede gaban juga fasilitas komplit. mungkin hotel2 di Thailand harus tanggap dengan kebutuhan customer yang beda-beda karena sekarang semua sudah global. kalo ngeyel ikut satu cara saja mungkin customer ga balik lagi ke situ hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo mbak Nay sendiri di rumah Inggris pake model toilet apaan?
      apa udah terbiasa pake toilet kering kerontang juga? hihi...

      iya mbak, sebenernya di Thailand yang di area muslim (restoran muslim lengkap dengan mushola cantik) juga pake toilet yang "ramah muslim" sih, ada jet washer nya.

      Delete
    2. Rumahku selayaknya rumah2 di inggris modelnya kering kerontang donk :P coba diintip lagi postingan yang berjudul interior hihi. Tapi kamarku ensuite yang jarak dari toilet ke shower cubicle cuma 30 sentimeter atau berjarak 1 ubin doank haha, jadi meski toiletnya kering ceboknya di shower puas :D Siasat lain pas travelling, pake tisu basahnya Ethan hehe. Banyak jalan menuju Roma lahhh

      Delete
    3. woooo ngono... siplah, tetep mempertahankan cebok ala jawa tengahan ya. hahaha
      mbak, masak kita kenal udah tahunan tapi belum punya kontak telpon sih. pake whatsapp mbak? :)))

      Delete
    4. Lha gara2 pertanyaanmu ini aku malah baru nyadar kalo aku dah lama ga buka WA, ternyata app nya expired haha. Setelah donlot dan install ulang, woalaahhhh udah 3 bulanan notifikasi ga masuk sampe ratusan message ga kebaca. Bukan buatku sih, itu lho yg grup2an hehe. Aku inbox yo nomerku di FB

      Delete
    5. yuhuuu mbak, i got ur number.
      kalau di sana, aplikasi chatting yang mayoritas dipake orang apa mbak?
      aku cuma pake whatsapp, BBM, sama Line aja. itupun Line jarang tak pake, hehe.

      Delete