Pertemuanku dengan Nina Van Poll (baca: Nina Vhong Pho) berawal dari ketika melihatnya gegoleran sendirian di sofa penginapan dan tetiba terpikir untuk mengajaknya ngopi bareng malam itu, Jumat 28 April 2017, saat aku berkunjung ke Aceh. Tak dinyana, dia menyambut dengan baik.

Sebelumnya, aku bertanya ke dia, sedang apa? Apakah menunggu seseorang? Dia bilang, sedang cari koneksi wi-fi saja dan tidak sedang menunggu siapa-siapa.

Nina dari Holland alias Netherland alias Deutch alias Belanda. Kami berangkat menuju Kedai Kopi Solong, Banda Aceh, salah satu warung kopi yang direkomendasikan teman-teman. Aslinya aku ini bukan peminum kopi. Cuma penasaran saja dengan kepopuleran kedainya. Dan katanya, kopi Aceh itu enak. Bah! Bahkan aku tidak bisa membedakan apa enaknya kopi ini dan itu. Haha...



“Ibnu,” katanya tanpa menoleh ke arahku.

Aku memandang wajahnya di keremangan malam setengah pekat. Hanya lampu teplok yang membuat siluet tubuhnya pada pagar rumah. Ah, keterlaluan sekali. Lelaki ini bertahun-tahun melintas di depan rumah, tapi bahkan aku baru tahu namanya malam ini.

Tubuhnya mungil, jika tidak disebut kurus dan pendek. Parasnya masih sama dengan 20 tahun lalu ketika ia mengaku pertama kali menyisir kampung ini. Mungkin sekarang sudah bertambah tiga-empat kerutan di sekitar mata dan bibirnya, juga puluhan uban di rambutnya... jika saja aku bisa melihatnya di siang hari. Ditambah topi bundar, yang selalu menjadi ciri khasnya sejak dulu.
Aku melongok melalui jendela rumah, apa suara ribut di depan. Kudengar suara dua sabetan dan kemudian seorang anak menangis tergugu sambil mengusap-usap kepalanya. Oh! Aku spontan menutup mulut ketika melihat seorang ayah memukulkan topi yang tadinya dikenakan kepada seorang anak lelaki gembul yang sedang bermain di taman bacaku.

Tak lama kemudian, suara makian yang tak jelas pun meluncur lancar dari mulut si bapak. Ibuku yang juga kaget juga bergegas keluar dari rumah. “Pak, pak, wonten napa niki?” (Pak, pak, ada apa ini?). Si bapak bergeming dan terus memandang wajah si anak yang mengusap air matanya dengan wajah suram. Sementara aku hanya mengamati dari balik jendela saja karena sudah ada ibuku dan seorang tetanggaku yang turun tangan. Jika aku ikut-ikut keluar, mungkin malah menjadi perhatian orang-orang yang lewat.
Perempuan itu menengadah pada langit yang basah. Rasa-rasanya sudah bertahun berlalu sejak ia mengenali wajah hujan yang megah. Ditutupkan matanya menikmati angin yang semilir menerpa ujung bajunya yang merah. Dingin tapi lubuknya gerah.

Pada suatu masa, perempuan itu pernah menantang Tuhan dengan pongah di atas sajadah tergenang air mata. Jika saja apa-apa yang melekat pada tubuhnya, yang dimilikinya, yang dilakukannya menyebabkan fitnah yang menyakitkan, ia meminta Tuhan untuk mengambilnya saja. Biarkan ia pada keadaan yang orang lain ingin lihat.

Pulang.
Tidak pernah ada dalam kamusku dulu bahwa aku akan kembali pulang. Ke kota kelahiranku, Kediri.
Cita-citaku dulu tinggi: lulus kuliah dengan nilai bagus kemudian bekerja di ibukota Jakarta.
Mendefinisikan kesuksesan sebagai berharta banyak, menaklukkan tantangan-tantangan di hiruk-pikuk kota besar.
Seperti teman-temanku terdahulu.
Keren adalah memiliki pekerjaan mentereng, berbaju parlente, bersepatu hak 10 senti, bergaji dua digit, dan ketika ditanya bekerja dimana, akan kujawab dengan penuh kebanggaan, “Jakarta!”
Sangat beruntung kemarin aku bisa mengikuti Safari Seminar Disiplin Positif yang diadakan oleh Sekolah Alam Ramadhani Kediri. Seperti halnya Gerilya Nonton Bareng Film “The Beginning of Life, aku merasa dua acara ini wajib ikut. Selain karena temanya sangat dekat dengan Psikologi, juga aku berpikir bahwa caraku dalam menghadapi anak-anak (iya, anak-anaknya orang) juga masih sering terlalu kaku, sesuka hati sendiri, keliru, terlalu memaksa, keras, pemahaman yang kurang menyeluruh, dan sebagainya. Ditambah dengan yang menginisiasi acara ini adalah Pak Bukik Setiawan (konon bernama asli Budi Setiawan Muhammad), dosenku dulu di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, tambah semangat lah aku.