Ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul sama sebelumnya, tentang mengapa alasanku tidak selalu membawa oleh-oleh ketika pergi. Tentang bagaimana situasi, kondisi, pikiran, dan perasaan memengaruhi pengambilan keputusan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan tentang, hidup kita yang tidak perlu selalu membahagiakan orang lain, jika membuatnya tidak sedih saja sudah cukup.

DIKIBULI TUKANG OJEK
Dari Pelabuhan Balohan-Sabang, aku dan dua temanku yang baru aku kenal dari Malaysia dan Padang, langsung mencari moda transportasi yang dapat mengantar kami kemana-mana secara fleksibel. Ojek ternyata yang paling memungkinkan.

Hal menjengkelkan dimulai ketika tukang ojek yang kunaiki awalnya meminta tarif 70 ribu untuk keliling seharian di Sabang, mengantar mencari penginapan, hingga besoknya dijemput kembali dari penginapan ke pelabuhan. Karena esok paginya jam 08.00 aku harus sudah kembali ke Banda Aceh untuk terbang pulang ke Surabaya. Muter-muternya sih enak, hanya terasa panas nyelekit semakin siang. Aku yang cuma memakai sandal jepit, sudah pasrah jika nanti punggung kaki, tangan, dan wajah gosong.

Namun ketika sudah sampai di Pantai Iboih yang mana berjajar penginapan, snorkeling and diving agencies, warung makan, dan pantai bening di sepanjang jalan, pak ojek mulai berulah. Kan aku bilang minta ditemani cari penginapan paling murah, di bawah 100 ribu/malam. Fasilitas minim tidak masalah, kamar mandi di luar tidak masalah, pakai kipas angin dan kamar sempit juga oke. Demi menghemat biaya tentunya. Eh, dia ngeyel menurunkan aku di tempat dia kongkalikong dengan pemilik penginapan setempat. Sebetulnya kalau dipikir secara jernih, wajar saja begitu. Dengan mengantar penumpang ke penginapan langganan, pak ojek mendapatkan komisi sejumlah tertentu dari pemilik karena dianggap sudah mempromosikan penginapan tersebut. Setelah balik kanan-kiri sambil dongkol, akhirnya aku menyerah dengan harga kamar 150 ribu/ malam. Dua kali lipat jauh lebih mahal daripada yang aku anggarkan.

Master Bungalow. Tempatku menginap di Sabang. Paling capek saat mengangkat koper berat melalui tangga sempit di sisi kiri bangunan itu menuju lantai 2. Sumber: google
Selasar lantai 2. Dimana aku menjumpai para penginap lain gegoleran tidur malam di selasar ini pakai tikar. Mungkin untuk menghemat duit kali ya, daripada membuka satu kamar lagi. Sedangkan teman mereka cewek-cewek bebarengan menginap di dalam kamar. Tampak seperti serombongan muda-mudi yang berlibur bersama. Untung daerah pantai ini cukup hangat ketika malam. Sumber: google.
Kamar seharga 150 ribu/malam. Jika untuk sendiri, kamar ini tergolong luas. Longgar untuk meletakkan barang-barang dan sholat. Tapi sayang, kamarku yang jendelanya menghadap ke belakang, tidak cukup baik aliran udaranya, jadi agak pengap dan gerah. Sumber: google
Aku minta harga antara 70-80 ribu/ malam sebetulnya juga tidak ngawur karena aku sudah selancar di internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Namun alasannya waktu itu cukup logis, yaitu saat aku ke sana hari Sabtu siang, merupakan liburan akhir pekan yang panjang. Yaitu Sabtu-Minggu-Senin. Sehingga hampir semua penginapan penuh.

Tidak sampai di situ. Pak ojek juga meminta bayaran lebih kepadaku. Memang sih, uangnya baru akan aku berikan esok hari ketika aku dijemput. Dijelaskan dengan logika yang aku sengaja bolak-balik, untuk ngeyel bahwa yang dia sampaikan tidak masuk akal dan mengingkari perjanjian di awal, sampai suara dia yang keras ikut meninggi, akhirnya aku terpaksa menyerah (lagi). Tarif 70 ribu menjadi 150 ribu. Dua kali lipat lebih dari perjanjian awal. Sebetulnya bukan hanya punya atau tidak punya uang, tapi aku tidak suka orang yang tidak fair di awal. Bilang murah, ternyata “nggepuk” di belakang. Lha sudah jelas-jelas aku beri gambaran rute yang akan dikunjungi, artinya sejak awal kan dia bisa mengira-ngira itu seberapa jauh, butuh bensin berapa, berapa jam perjalanan, dan tarifnya berapa. Jika kemudian tiba-tiba dia minta bayaran lebih, itu sangat amat menjengkelkan.

Mungkin kalian bayangkan mengeluarkan uang ekstra 150 ribu (tambahan anggaran ojek dan penginapan) itu termasuk sedikit. Tapi jangan salah, 150 ribu itu bisa untuk makan 5 kali ketika bepergian. Atau beli tiket kapal Banda Aceh-Sabang PP. Atau urunan 1x snorkeling ke tengah laut bebarengan. Intinya, anggaran harus diperhitungkan secermat mungkin. Karena kalau sampai kehabisan duit dan tidak mungkin minta orang rumah mengirimi uang, hanya satu jalan yang bisa dilakukan: pulang!

Bisa bayangkan, dalam kondisi emosi naik turun begitu, apakah aku masih bernafsu membeli oleh-oleh? Tentu tidak. Dan sekali lagi, tidak semua orang yang bepergian tujuannya membeli oleh-oleh :)

TERSENGAT UBUR-UBUR API
Ini kali pertama pengalamanku disengat ubur-ubur. Itu loh, hewan yang menggemaskan, transparan, tubuh lunak, dan berekor panjang yang tampak anggun jika berenang. Sebetulnya ada jenis ubur-ubur yang tidak menyengat juga, tapi kok ya rezekiku, di Pantai Iboih jam 5-6 sore sedang banyak-banyaknya ubur-ubur itu. Sampai di garis pantai terluar juga. Kata pasutri tempat aku menyewa peralatan snorkeling lengkap seharga 40 ribu, bulan-bulan itu memang ubur-ubur sedang banyak di pantai.

Jenis ubur-ubur ada banyak. Intinya, dia cantik tapi mengerikan!
Setelah tersengat beberapa kali di tangan dan kaki yang memang tidak berpelindung, dengan rasa seketika yang membuat kaget karena campuran antara panas, perih, dan sedikit gatal, maka aku memutuskan untuk menyudahi snorkeling. Oleh agen, tangan dan kakiku ditaburi dan sedikit digosok dengan gula pasir kasar. Katanya untuk menetralisir racun. Aku yang belum berpengalaman soal pergulaan, manut saja. Ketika berbilas, ternyata masih terasa sangat perih. Memang tidak tampak luka dari luar sama sekali, hanya agak bengkak, merah, dan temperatur kulit meningkat.

Tangan bergula
Malamnya, aku jalan kaki sendirian di pulau kecil paling ujung barat Indonesia ini dengan perasaan tak menentu. Ada bahagia yang membuncah, ada syukur yang melimpah, juga ada ketakutan akan keselamatan jiwaku karena aku tak mengenal seorang pun di sana.

Aku berjalan untuk mencari makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Ada beberapa orang yang masih hilir mudik menikmati malam, turis domestik maupun mancanegara. Di warung tempatku makan yang rasa masakannya seperti makanan padang, rupanya aku pengunjung terakhir. Makan dengan ditatap ibu-ibu penjual seolah berkata, “Ayo cepatlah selesaikan makan, aku sudah ngantuk!”.

Aku juga ke dermaga kecil untuk untuk melihat beberapa bulu babi, ikan bertubuh panjang, serta semacam teripang yang jelas terlihat dari atas saking jernihnya air. Sebetulnya aku ingin sedikit mendaki ke atas, melihat beberapa penginapan yang aku cari di internet, juga rekomendasi Nina Van Poll. Jika sendirian, aku disarankan ke Iboih Inn karena kadang ada pertunjukan musik akustik gratis di sana. “You can chilling out there!”, kata Nina. Tapi aku urung. Selain belum cukup berani untuk ke atas sendiri melewati anak tangga banyak, aku juga agak tidak enak badan.

Sesampai kembali ke penginapan, aku rebahan sejenak di kursi biru depan penginapan sambil menikmati sate gurita yang lezat. Aku memandang sekeliling yang gelap, menyimak beberapa tembang lawas dan country yang dimainkan beberapa pemusik dari penginapan sebelah. Mendengarkan desir air pantai, merasakan tangan dan suhu badanku yang menghangat karena tersengat ubur-ubur, serta berpikir berulang kali, “Apa yang sedang aku lakukan di sini? Apa sebenarnya yang aku cari? Berkelana sendirian di pulau asing. Bahagiakah aku? Pengalaman apa saja yang sudah aku dapat?” Dan pikiran lain yang berkecamuk dalam kantuk. Kemudian semuanya bermuara pada kesimpulan firman Tuhan, “Sesungguhnya Kami memberimu nikmat yang sangat banyak. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Lalu aku tersenyum dengan puas dan kembali ke kamar untuk istirahat. Aku merasa cukup dalam perjalananku. Aku tidak berpikir hal lain di luar petualangan ini. Apalagi berpikir membeli oleh-oleh.

Sabang, 45 menit naik kapal cepat dari Banda Aceh. Pulau paling barat Indonesia, diabadikan dalam lagu nasional "Dari Sabang sampai Merauke".
Akhir kata, terima kasih kepada yang tidak meminta oleh-oleh kepadaku ketika aku bepergian. Terima kasih juga kepada yang meminta oleh-oleh tapi tidak aku penuhi. Karena kalianlah, tulisan ini ada sebagai responnya.

Seringkali aku tidak bisa berbicara ketika ditanya, “Mana oleh-olehnya?” setelah pulang dari bepergian. Entah mengapa, seolah seseorang yang pergi (untuk urusan apapun) wajib membawakan oleh-oleh berupa barang atau makanan bagi yang tidak pergi.

Padahal, bepergian bukanlah sesuatu yang amat mudah dijalani. Ada lika-likunya tersendiri. Tentu bepergian dengan agen perjalanan dan bepergian sendiri akan berbeda pengalamannya. Pergi dengan agen biasanya lebih nyaman, aman, dan tidak terlalu banyak mikir. Kita sudah membayar segala “fasilitas” di muka, sehingga tinggal duduk manis menikmati perjalanan. Sedangkan jika pergi sendiri, boro-boro dengan mudahnya duduk manis. Yang ada adalah kita selancar di internet mencari penginapan murah, makan murah, transportasi murah, dan segala yang murah-murah lainnya. Khususnya ketika melakukan budget-traveling alias bepergian dengan biaya terbatas atau hemat. Kecuali kalau uang berlebih, nah baru bisa menikmati fasilitas di kelas yang lebih atas.

Seperti halnya ketika aku bepergian ke daerah lain, saat pulang dari Aceh pun aku masih saja ditagih oleh-oleh beberapa orang. Aku cuma bisa tersenyum... kecut.

Traveling memang banyak enaknya. Tapi yang orang lain kadang tidak tahu adalah, kami juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, yang kami memilih untuk tidak sering menceritakannya kepada siapapun. Nah, agar berimbang, ini beberapa cerita yang menyebalkan dan menyedihkan selama aku bepergian ke Aceh akhir April lalu:

KOPER DIBOBOL DI BANDARA
Badan langsung lemas ketika tahu resleting koperku terbuka mulai atas sampai bawah, begitu aku mengangkatnya dari pengambilan bagasi di Banda Aceh. Awalnya sempat menduga itu kerusakan yang tidak disengaja sebab terlempar selama proses memasukkan atau mengeluarkan koper dari dalam pesawat. Namun, demi melihat kerusakannya yang sistematis, dimana gembok tetap utuh tapi resleting terbuka lebar, pindah posisi dari atas ke bawah melintasi tali di tengah koper, maka aku yakin sekali itu ulah petugas bagasi yang mencari sesuatu di dalam koperku. Lebih yakin lagi ketika resleting di dalam koper juga terbuka, yang sepertinya tidak sempat dikembalikan seperti semula.

sumber: google
Dengan kepala mendidih, badan berkeringat mendadak, aku langsung melapor ke bagian pengaduan maskapai. Seorang petugas memintaku untuk membuka koper dan memastikan bahwa tidak ada barang yang hilang. Sambil mencari tempat yang lebih tersembunyi, aku mencoba membuka sedikit koperku dan memang tidak ada yang hilang.

“Mbak, dibuka yang lebar saja kopernya, biar bisa lihat ada barang yang hilang tidak”, pinta petugas.
Aku yang hafal betul ada pakaian dalam yang tidak terbungkus apa-apa di tumpukan paling atas, langsung memandang tajam petugas sambil berkata ketus, “Dibuka di depan mas, masnya mau liat pakaian dalam saya?!?!” Kemudian si petugas langsung mlipir ke pinggir.

Syukurlah tidak ada satu barang pun yang hilang dari dalam koper. Aku juga terbiasa memastikan bahwa di dalam koper tidak ada barang berharga yang disimpan. Sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi, seperti kali ini, tidak perlu ada penyesalan yang mendalam. Paling banter cuma baju yang hilang.

Petugas menjanjikan akan memperbaiki resleting koper begitu aku sudah check-in di hotel dan mengeluarkan barang-barang. Aku bilang, tidak akan lama tinggal di Banda Aceh, hanya 2 malam. Melihat tumpukan koper bernasib serupa, jiwa nyinyirku muncul. “Mas, itu banyak banget kopernya yang bermasalah dan perlu diperbaiki? Sering ya koper penumpang dibobol kayak begini?”
Di ruangan itu yang ada tiga orang petugas, salah satunya menjawab dengan agak tersinggung dengan kalimat menggantung, “Ya...”
“Emang kenapa gitu, sering rusak kopernya? Petugas bagasinya yang nakal ya? Biasanya dimana kejadiannya?” lanjutku.
“Ya nggak tahu, mbak. Kami kan petugas darat. Yang melakukan jelas bukan kami. Kami nggak tahu apa-apa. Jadi nggak bisa menjawab pertanyaan mbak. Tanya aja ke petugas bagasinya. Kami cuma melakukan pencatatan.” Terlihat sekali posisi mempertahankan dirinya.

Kemudian aku sengaja menghujaninya lagi dengan kalimat-kalimat hanya untuk memuaskan nafsu marahku, “Meskipun mas cuma petugas darat, harusnya bisa dong ikut mengevaluasi kejadian kayak gini. Mas bagian yang kena komplain, karena langsung menghadapi penumpang. Sedangkan mereka petugas bagasi, kami pun tidak tahu itu siapa. Bisa dicari solusinya bersama antar seluruh kru, masalahnya dimana. Ini kan juga menyangkut reputasi maskapai mas jika sering ada masalah seperti ini. Nih, tumpukan kopernya yang banyak begini, penumpang jadi bisa menilai, seperti apa layanan maskapai ini.”

Petugas buru-buru menyerahkan selembar kertas berisikan data diriku, alamat hotel, dan jenis kerusakan yang terjadi. berfungsi sebagai alat kontrol ketika memperbaiki koperku nanti.

Nah, jika di posisi seperti itu, apakah aku masih bisa berpikir untuk membeli oleh-oleh untuk orang lain di Banda Aceh? Tentu tidak. Bahkan ngenesku masih jauh lebih terasa nikmat diresapi daripada pergi ke toko kue atau souvenir untuk membeli oleh-oleh.

DIPINDAH KAMAR HOTEL SEPIHAK
Aku tidur di MARS HOTEL, Banda Aceh. Memang bukan hotel wah. Termasuk hotel kecil di tepi jalan besar. Harganya kalau tidak salah sekitar 400 ribuan semalam. Kasur berukuran double mepet di dinding kanan dan kirinya, yang langsung berbatasan dengan kamar mandi yang mungil, tanpa fasilitas air panas.

Sumber: google
Naas, AC nya bocor. Awalnya aku tidak menyadari ada yang aneh. Namun setelah beberapa jam AC kunyalakan, dan ketika melewati lantai di bawah AC, aku sedikit terpeleset karena ada air yang menggenang. Aku cek, dari mana asal air. Kemudian kepalaku tiba-tiba kena tetesan air dari atas. Oalah, AC nya bocor. Kemudian aku mengambil keset kamar mandi. Pagi hari, keset sudah tidak mampu menampung air, sehingga air cukup meluber kemana-mana.

Kesal, tentu saja. Baru kali ini selama sejarah aku menginap, AC bocor begitu parahnya. Saat sarapan, aku melapor ke resepsionis. Aku hanya minta tolong kamarku dibersihkan dan dicek AC nya. Lalu seharian itu aku ada kegiatan formal. Masih diselingi juga dengan telpon-telponan dengan pihak masakapai untuk memastikan jam berapa koperku diambil dan diperbaiki. Berkali-kali telepon, tetap tidak diangkat. Antara cemas dan gemas, karena esok paginya aku sudah harus menyeberang ke Sabang. Tapi akhirnya setelah malamnya sampai hotel, resepsionis bilang koperku sudah diambil dan dikembalikan sore tadi. Alhamdulillah.

Kamar di Mars Hotel. Mepet kanan kiri. Sebelah kanan mepet kamar mandi. Sumber: google
Aku meminta kunci nomor 214, kamarku di lantai 2. Begitu masuk kamar, aku kaget bukan kepalang. Semua barangku tidak ada di tempat. Berusaha untuk emosi tidak meledak, aku melapor ke resepsionis. Petugas juga terlihat bingung dan menghubungi temannya yang mungkin shift tadi pagi. Setelah ditelusur, ternyata kamarku dipindah ke lantai 1, dekat resepsionis. Benar saja, barang-barangku sudah di sana semua.

Bagiku, ini sudah pelanggaran etika. Barang yang ketika kutinggalkan memang tergeletak semua di atas kasur dan meja karena koper akan dibetulkan oleh pihak maskapai, tentu tersentuh sepenuhnya oleh tangan petugas. Dipindahkan tanpa izin, pula. Lalu aku menegaskan ke petugas resepsionis bahwa hal tersebut tidak etis dan memohon untuk tidak melakukannya lagi kepada tamu siapapun.

Di tengah kekesalan ini, masih mungkinkah aku berpikir untuk mencari oleh-oleh untuk orang rumah atau siapapun yang meminta? Hehe, sayangnya tidak.

(bersambung)
Setelah semua yang terjadi berbulan-bulan ini,
Saatnya memberi jeda sejenak pada ruang hati yang penuh berpeluh.

Bulan-bulan sarat tantangan, jika tak boleh mengatakan sebagai tanggung jawab yang terbeban.
Pelajaran baru, belajar hal-hal baru. Menghadapi orang baru, dengan karakter mengejutkan dan tak jarang membuat mengelus dada.

Protes sana-sini, keluhan sana-sini, salah paham sana-sini, miss komunikasi sana-sini, air mata sana-sini.
Cukup berat menjadi seorang yang kurang asertif dalam beberapa situasi. Mencoba membuat nyaman semua orang, yang mana itu tidak mungkin terjadi.
Mewadahi semua keinginan, syarat, menimbang keadilan, berurusan dengan politik, yang membuat sering sekali hati ini berkata, “Hayati lelah.”

Senyum menjadi terbendung karena hal-hal berjalan tidak sesuai dengan rencana yang disusun matang-matang.
Menyelaraskan apa yang dipikirkan dengan yang orang lain pikirkan, ternyata menguras energi tersendiri dalam keseharian.
Ketika apa yang disampaikan, ditangkap berbeda oleh orang yang hanya memandang dari luarnya saja. Secara dangkal.

Kerja keras menghadapi generasi milenial yang erat dengan teknologi, menjadi bahasan lain lagi.
Bagaimana membuat orang-orang terhubung secara harmonis dengan membangunkan kesadaran akan perlunya saling menghargai, menghormati, dan menempatkan diri pada posisi yang tepat.
Maksud hati menunjukkan bagaimana masa depan diukir melalui sikap-sikap kecil hari ini. Bagaimana cita-cita harus digantungkan pada langit-langit usaha dan doa yang sempurna. Bagaimana kebijaksanaan terbentuk dari pekanya hati pada situasi.

Mungkin hari terburuk adalah ketika meninggalkan kelas dengan penuh kemarahan.
Tapi yakin, hari yang lebih buruk daripada hari terburuk adalah melihat generasi yang sedang dipupuk ini tidak mendapatkan apa-apa di kemudian hari kecuali penyesalan dan menghidupi hidupnya dengan kepasrahan yang keliru pada nasib.
Mengharapkan belas kasihan pada orang lain untuk memberi pekerjaan, karena tidak mampu memberdayakan diri sendiri menjadi manusia unggul yang penuh keterampilan dan kebaikan hati.



Aku ingin mengistirahatkan hatiku sejenak.
Mundur selangkah dari dunia yang serba ramai.

I WILL GIVE MY HEART A BREAK.
Beberapa orang mengatakan desain blogku yang saat ini bagus. Hehe. Aku pun menyukainya.

Aku lupa bagaimana awal mulanya temanku, Putut Heru Susilo (atau biasa dipanggil Pe), menawarkan diri untuk mendesainkan blogku. Sepertinya waktu itu aku juga antusias karena mengenalnya sebagai website dan logo designer. Di tengah kuliah S1nya semester kesekian belas dan memasuki sibuk-sibuknya skripsi serta mengejar ketinggalan beberapa mata kuliah di sebuah kampus di Malang, aku merepoti dia dengan meminta me-redesain blogku. Bukannya apa-apa, aku hanya bosan mengganti tampilan yang terbatas pada template yang tersedia di blogger.com saja. Aku menemukan beberapa tampilan blog yang serupa pada beberapa orang, dan memang mereka hanya memakai template yang itu-itu juga.

Pertemuanku dengan Nina Van Poll (baca: Nina Vhong Pho) berawal dari ketika melihatnya gegoleran sendirian di sofa penginapan dan tetiba terpikir untuk mengajaknya ngopi bareng malam itu, Jumat 28 April 2017, saat aku berkunjung ke Aceh. Tak dinyana, dia menyambut dengan baik.

Sebelumnya, aku bertanya ke dia, sedang apa? Apakah menunggu seseorang? Dia bilang, sedang cari koneksi wi-fi saja dan tidak sedang menunggu siapa-siapa.

Nina dari Holland alias Netherland alias Deutch alias Belanda. Kami berangkat menuju Kedai Kopi Solong, Banda Aceh, salah satu warung kopi yang direkomendasikan teman-teman. Aslinya aku ini bukan peminum kopi. Cuma penasaran saja dengan kepopuleran kedainya. Dan katanya, kopi Aceh itu enak. Bah! Bahkan aku tidak bisa membedakan apa enaknya kopi ini dan itu. Haha...



“Ibnu,” katanya tanpa menoleh ke arahku.

Aku memandang wajahnya di keremangan malam setengah pekat. Hanya lampu teplok yang membuat siluet tubuhnya pada pagar rumah. Ah, keterlaluan sekali. Lelaki ini bertahun-tahun melintas di depan rumah, tapi bahkan aku baru tahu namanya malam ini.

Tubuhnya mungil, jika tidak disebut kurus dan pendek. Parasnya masih sama dengan 20 tahun lalu ketika ia mengaku pertama kali menyisir kampung ini. Mungkin sekarang sudah bertambah tiga-empat kerutan di sekitar mata dan bibirnya, juga puluhan uban di rambutnya... jika saja aku bisa melihatnya di siang hari. Ditambah topi bundar, yang selalu menjadi ciri khasnya sejak dulu.