Catatan 15 Ramadhan 1437 H: BERSYUKUR SAAT IBUK SAKIT

, , 6 comments
Semoga aku tidak menjadi anak durhaka seperti di sinetron yang justru bersyukur saat ibunya sakit.

Bersyukur tidak sama dengan bahagia. Tapi jika rasa syukur menghasilkan kebahagiaan, mengapa tidak? Dan ya, aku bersyukur kemarin-kemarin dan hari ini ibuk masih dalam kondisi kurang sehat.

Bersyukur atas waktu yang sangat amat tepat
Ibuk mulai jatuh sakit tepat seminggu setelah kampusku libur. Setelah anak-anak selesai UAS, yang mana aku lebih senang melaksanakan UAS pada minggu pertama daripada ke dua. Tanggal 13 Juni 2016 ibuk mulai merasakan telinganya berdenging, dan seterusnya yang sudah pernah aku ceritakan di postingan sebelum ini.


Ajaibnya, aku juga sama sekali tidak ada job untuk bertugas ke luar kota sebulan penuh Ramadhan ini. Padahal Ramadhan tahun lalu dan tahun lalunya lagi seringkali puasaan justru aku melanglang buana, baik di Jawa maupun luar Jawa. Seolah-olah semua pekerjaan sudah selesai pada bulan Mei lalu. Kesibukanku Ramadhan ini hanya mengoreksi ujian, merekapitulasi nilai, membaca, menulis, dan bengong. Dan seolah-olahnya lagi, bukan puasa ini aku tinggal menerima bayaran atas pekerjaanku bulan lalu, yang nominalnya alhamdulillah lebih besar daripada biasanya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku masih aktif mengajar atau sedang berada di laur kota, sedangkan ibuku tiba-tiba jatuh sakit seperti kemarin. Betapa akan susahnya aku mengatur waktu antara ke kampus dan menjaga ibuk di rumah serta mengantarnya ke dokter. Jadwal dengan mahasiswa pasti berantakan yang hanya meninggalkan pertemuan-pertemuan kosong lebih banyak lagi daripada sebelumnya.

Ramadhan di rumah kali ini amat hening. Aku tidak kemana-mana. Ibuk lebih banyak menghabiskan waktu di kasur dan tidur karena minum obat. Sementara aku, bisa melakukan apa saja selepas ibuk tidur. Seperti... mendengarkan rintik hujan dan petir yang gemar menyapa Kediri akhir-akhir ini. #yaelah

Bersyukur atas nikmat mendengar
Sakit pada salah satu dari panca indera memang akan terasa signifikan bedanya. Pendengaran ibuk yang mungkin tinggal kurang dari separuh membuat ibuk berkali-kali menyadari, bahwa ketika Tuhan memberikan kebutuhan kita secara lengkap, manusia seringkali lupa mensyukuri. Sedangkan ketika diambil sedikit saja nikmat itu, misalnya nikmat mendengar, maka manusia akan bingung mencari obat kesana-kemari untuk menyembuhkan.

Betapa Tuhan mengingatkan manusia dengan berbagai cara yang Ia suka. Beberapa kali ibuk memang mengeluh, mengapa minum obat ini belum sembuh, mengapa belum ada perubahan, dan mengapa ternyata cukup banyak dokter yang harus ditemui (penyakit dalam, THT, dan syaraf).

Kami cukup beruntung beberapa saudara dan teman ibuk datang menjenguk. Tetangga depan rumah juga sering berkunjung. Mereka menguatkan bahwa apapun kondisinya, tetap harus bersyukur. Bersyukur hanya bagian itu saja yang sakit, tidak seluruh tubuh. Bersyukur anaknya sedang libur. Bersyukur ada yang menemani. Bersyukur masih bisa berobat ke dokter dan rumah sakit. Bersyukur masih nafsu makan. Dan bersyukur selain kesakitan ini, semuanya masih berjalan baik-baik saja. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebih atas sakit yang diberikan Tuhan.

Semoga rasa syukurku jauh lebih banyak daripada ibuk. Baru tadi pagi seolah aku diingatkan kembali, bahwa memang ujian Tuhan selalu sesuai dengan kapasitas hambaNya. Istri tetangga kami dua tahun lalu mengalami stroke ringan saat di gereja, dengan tekanan darah saat itu 170/110. Aku bandingkan dengan tekanan darah ibuk yang terparah adalah 200/120, lalu kemarin saat ke IGD 180/120, dan ibuk masih baik-baik saja. Ada juga cerita orang yang tiba-tiba nggeblak dengan tensi 200-an. Dan ibuk juga masih baik-baik saja. Maka alasan apa bagi kami tidak bersyukur, sedangkan ibuk masih bisa “sehat” di angka tensi yang sama. Setidaknya ibuk tidak pernah pingsan, atau terjatuh, atau mengalami hal yang lebih buruk daripada itu. Dan kami tidak pernah meminta demikian. Selamanya.

Bersyukur ibuk mau potong rambut
Mungkin cerita ini agak aneh. Tapi percayalah, ibuk tidak pernah mau memotong rambutnya hingga pendek, kecuali hanya beberapa senti saja. Kemarin-kemarin rambut ibuk hampir sepinggang panjangnya. Tentu saja beruban. Dan dengan kondisi tidak berani mandi dan keramas selama beberapa hari, maka kondisi rambut menjadi sangat acakadul.

Setelah ibuk membaik dan berani mandi dengan air hangat, aku langsung menodong untuk memotong rambutnya pendek sebahu, dengan alasan agar aku lebih mudah membantunya keramas. Malas berdebat berulang kali soal potong rambut, akhirnya ibuk setuju. Kres... kres... kres... 5 menit potong rambut selesai ala aku. Aku bahagia, aku lega. Proses keramas pun lebih mudah. Hahaha.

Bersyukur aku lebih sering ke dapur
Aku bukanlah perempuan yang hobi mengerjakan hal-hal yang “cewek banget”, misalnya dandan sebelum pergi, bikin kue, atau masak. Masak sih bisa yang gampang-gampang, tapi ya itu tadi, bukan hobi. Masak kalau lagi mood atau kepepet aja. #errrrr

Semenjak ibuk sakit dan jauh lebih banyak menghabiskan hari di tempat tidur karena kalau bangun rasanya dunia masih berputar (vertigo), aku lah yang ngurusi sembarang kalir, termasuk soal makan ibuk. Aku sendiri sudah tidak makan neko-neko. Aku sedikit sekali makan nasi dan tidak minum yang manis-manis. Jadi alhamdulillah buka puasa di rumah tahun ini tidak pernah heboh menunya.

Nafsu makan ibuk sendiri syukurnya tidak banyak berubah, hanya lebih sering ingin makan bubur dan nasi yang lembek. Perutnya tidak nyaman kalau makan nasi biasa dan sayur mayur serta lauk yang kasar. Om rajin mengirimkan bubur ayam kesukaan ibuk dari jalan Panglima Polim setiap pagi. Untuk makan pagi dan makan siang, relatif aman.

Dengan pola makan yang menjadi lebih sering tapi sedikit (mudah lapar dan mudah kenyang), jam makan ibuk tidak tentu. Beberapa jam sekali, dan yang masuk perut harus sesuatu yang hangat. Minum pun air putih hangat atau madu dicampur air hangat.

Beberapa kali aku berhasil membuat bubur ayam sederhana dan ibuk bilang enak. Aku senang. Dan kalau pas tidak enak, ibuk akan bilang tidak enak. Aku sedih. Bahkan kemarin aku harus membuang sepanci kecil tahu-yang-kubuat-seperti-bakso karena ibuk bilang tidak enak. Haha. Jangan berharap ibuk akan sok menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Ibuk akan bilang terus terang. Apalagi sama anak-anaknya sendiri. Kalau sama orang lain, beda lah ya.

Bersyukur bisa jadi ladang ibadah
Aku seolah kaget ketika ada rekan ibuk yang melihat ketika aku menyuapi obat sirup ke mulut ibuk dan berkata, “Wah mbak Fatma, pahalanya banyak ya...” Aku sebelumnya tidak berpikiran sama sekali bahwa apa yang kulakukan ke ibuk mendatangkan pahala atau apalah yang berhubungan dengan kebaikan. Apalagi kalau soal suap-menyuap, aku dan ibuk terbiasa saling menyuapi dalam kondisi tertentu. Kalau aku sedang sakit dan malas makan, ibuk yang akan menyuapi aku. Dan seminggu semenjak sakit ini, gantian aku yang menyuapi ibuk. Tidak kikuk karena sudah biasa.

Dengan rekan ibuk bilang demikian, aku baru sadar, aku harusnya meluruskan niat kembali. Ketika mangkel dengan pelayanan rumah sakit yang na'udzubillah setan berbelit-belit, ketika sedih saat ibuk tidak menyentuh masakanku karena tidak sesuai seleranya, ketika aku baru bisa santai ketika ibuk tidur, ketika aku harus siap selalu di dekatnya karena sewaktu-waktu dipanggil, dan seterusnya... harusnya aku bisa sabarrrrr dan sabarrrrr... dan justru meniatkan untuk menjadikan semua ini ladang pahala, apalagi di bulan Ramadhan.

Kalau ada yang mengira aku ini senang terus, hidupnya enak terus, tidak pernah khawatir, setrooong selalu, bisa menyelesaikan segala masalah sendirian, sangat mandiri, maka itu adalah salah. Aku sering menangis, aku juga memiliki kekhawatiran terhadap beberapa hal, aku takut akan status kesehatan ibuku, aku sensitif terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan idealismeku, and i repeatly think that i am so weak. Really really weak. And yes, that’s why i depend on nothing but God.

6 comments:

  1. alhamdulillah berarti reuni 2-9 di rumah pety aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai kau, Jok! ayuklah kalo disini. btw itu Kuro punya grup sebenernya, tapi belum omong-omongan soal reuni. haha

      Delete
  2. Replies
    1. aamiin. makasih mbak Nay. sekarang kondisi ibuk sudah jauh lebih baik alhamdulillah.
      peyuk jugaaa

      Delete