Catatan 10 Ramadhan 1438 H: JANGAN MEMINTA OLEH-OLEH (1)

, , 2 comments
Seringkali aku tidak bisa berbicara ketika ditanya, “Mana oleh-olehnya?” setelah pulang dari bepergian. Entah mengapa, seolah seseorang yang pergi (untuk urusan apapun) wajib membawakan oleh-oleh berupa barang atau makanan bagi yang tidak pergi.

Padahal, bepergian bukanlah sesuatu yang amat mudah dijalani. Ada lika-likunya tersendiri. Tentu bepergian dengan agen perjalanan dan bepergian sendiri akan berbeda pengalamannya. Pergi dengan agen biasanya lebih nyaman, aman, dan tidak terlalu banyak mikir. Kita sudah membayar segala “fasilitas” di muka, sehingga tinggal duduk manis menikmati perjalanan. Sedangkan jika pergi sendiri, boro-boro dengan mudahnya duduk manis. Yang ada adalah kita selancar di internet mencari penginapan murah, makan murah, transportasi murah, dan segala yang murah-murah lainnya. Khususnya ketika melakukan budget-traveling alias bepergian dengan biaya terbatas atau hemat. Kecuali kalau uang berlebih, nah baru bisa menikmati fasilitas di kelas yang lebih atas.

Seperti halnya ketika aku bepergian ke daerah lain, saat pulang dari Aceh pun aku masih saja ditagih oleh-oleh beberapa orang. Aku cuma bisa tersenyum... kecut.

Traveling memang banyak enaknya. Tapi yang orang lain kadang tidak tahu adalah, kami juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, yang kami memilih untuk tidak sering menceritakannya kepada siapapun. Nah, agar berimbang, ini beberapa cerita yang menyebalkan dan menyedihkan selama aku bepergian ke Aceh akhir April lalu:

KOPER DIBOBOL DI BANDARA
Badan langsung lemas ketika tahu resleting koperku terbuka mulai atas sampai bawah, begitu aku mengangkatnya dari pengambilan bagasi di Banda Aceh. Awalnya sempat menduga itu kerusakan yang tidak disengaja sebab terlempar selama proses memasukkan atau mengeluarkan koper dari dalam pesawat. Namun, demi melihat kerusakannya yang sistematis, dimana gembok tetap utuh tapi resleting terbuka lebar, pindah posisi dari atas ke bawah melintasi tali di tengah koper, maka aku yakin sekali itu ulah petugas bagasi yang mencari sesuatu di dalam koperku. Lebih yakin lagi ketika resleting di dalam koper juga terbuka, yang sepertinya tidak sempat dikembalikan seperti semula.

sumber: google
Dengan kepala mendidih, badan berkeringat mendadak, aku langsung melapor ke bagian pengaduan maskapai. Seorang petugas memintaku untuk membuka koper dan memastikan bahwa tidak ada barang yang hilang. Sambil mencari tempat yang lebih tersembunyi, aku mencoba membuka sedikit koperku dan memang tidak ada yang hilang.

“Mbak, dibuka yang lebar saja kopernya, biar bisa lihat ada barang yang hilang tidak”, pinta petugas.
Aku yang hafal betul ada pakaian dalam yang tidak terbungkus apa-apa di tumpukan paling atas, langsung memandang tajam petugas sambil berkata ketus, “Dibuka di depan mas, masnya mau liat pakaian dalam saya?!?!” Kemudian si petugas langsung mlipir ke pinggir.

Syukurlah tidak ada satu barang pun yang hilang dari dalam koper. Aku juga terbiasa memastikan bahwa di dalam koper tidak ada barang berharga yang disimpan. Sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi, seperti kali ini, tidak perlu ada penyesalan yang mendalam. Paling banter cuma baju yang hilang.

Petugas menjanjikan akan memperbaiki resleting koper begitu aku sudah check-in di hotel dan mengeluarkan barang-barang. Aku bilang, tidak akan lama tinggal di Banda Aceh, hanya 2 malam. Melihat tumpukan koper bernasib serupa, jiwa nyinyirku muncul. “Mas, itu banyak banget kopernya yang bermasalah dan perlu diperbaiki? Sering ya koper penumpang dibobol kayak begini?”
Di ruangan itu yang ada tiga orang petugas, salah satunya menjawab dengan agak tersinggung dengan kalimat menggantung, “Ya...”
“Emang kenapa gitu, sering rusak kopernya? Petugas bagasinya yang nakal ya? Biasanya dimana kejadiannya?” lanjutku.
“Ya nggak tahu, mbak. Kami kan petugas darat. Yang melakukan jelas bukan kami. Kami nggak tahu apa-apa. Jadi nggak bisa menjawab pertanyaan mbak. Tanya aja ke petugas bagasinya. Kami cuma melakukan pencatatan.” Terlihat sekali posisi mempertahankan dirinya.

Kemudian aku sengaja menghujaninya lagi dengan kalimat-kalimat hanya untuk memuaskan nafsu marahku, “Meskipun mas cuma petugas darat, harusnya bisa dong ikut mengevaluasi kejadian kayak gini. Mas bagian yang kena komplain, karena langsung menghadapi penumpang. Sedangkan mereka petugas bagasi, kami pun tidak tahu itu siapa. Bisa dicari solusinya bersama antar seluruh kru, masalahnya dimana. Ini kan juga menyangkut reputasi maskapai mas jika sering ada masalah seperti ini. Nih, tumpukan kopernya yang banyak begini, penumpang jadi bisa menilai, seperti apa layanan maskapai ini.”

Petugas buru-buru menyerahkan selembar kertas berisikan data diriku, alamat hotel, dan jenis kerusakan yang terjadi. berfungsi sebagai alat kontrol ketika memperbaiki koperku nanti.

Nah, jika di posisi seperti itu, apakah aku masih bisa berpikir untuk membeli oleh-oleh untuk orang lain di Banda Aceh? Tentu tidak. Bahkan ngenesku masih jauh lebih terasa nikmat diresapi daripada pergi ke toko kue atau souvenir untuk membeli oleh-oleh.

DIPINDAH KAMAR HOTEL SEPIHAK
Aku tidur di MARS HOTEL, Banda Aceh. Memang bukan hotel wah. Termasuk hotel kecil di tepi jalan besar. Harganya kalau tidak salah sekitar 400 ribuan semalam. Kasur berukuran double mepet di dinding kanan dan kirinya, yang langsung berbatasan dengan kamar mandi yang mungil, tanpa fasilitas air panas.

Sumber: google
Naas, AC nya bocor. Awalnya aku tidak menyadari ada yang aneh. Namun setelah beberapa jam AC kunyalakan, dan ketika melewati lantai di bawah AC, aku sedikit terpeleset karena ada air yang menggenang. Aku cek, dari mana asal air. Kemudian kepalaku tiba-tiba kena tetesan air dari atas. Oalah, AC nya bocor. Kemudian aku mengambil keset kamar mandi. Pagi hari, keset sudah tidak mampu menampung air, sehingga air cukup meluber kemana-mana.

Kesal, tentu saja. Baru kali ini selama sejarah aku menginap, AC bocor begitu parahnya. Saat sarapan, aku melapor ke resepsionis. Aku hanya minta tolong kamarku dibersihkan dan dicek AC nya. Lalu seharian itu aku ada kegiatan formal. Masih diselingi juga dengan telpon-telponan dengan pihak masakapai untuk memastikan jam berapa koperku diambil dan diperbaiki. Berkali-kali telepon, tetap tidak diangkat. Antara cemas dan gemas, karena esok paginya aku sudah harus menyeberang ke Sabang. Tapi akhirnya setelah malamnya sampai hotel, resepsionis bilang koperku sudah diambil dan dikembalikan sore tadi. Alhamdulillah.

Kamar di Mars Hotel. Mepet kanan kiri. Sebelah kanan mepet kamar mandi. Sumber: google
Aku meminta kunci nomor 214, kamarku di lantai 2. Begitu masuk kamar, aku kaget bukan kepalang. Semua barangku tidak ada di tempat. Berusaha untuk emosi tidak meledak, aku melapor ke resepsionis. Petugas juga terlihat bingung dan menghubungi temannya yang mungkin shift tadi pagi. Setelah ditelusur, ternyata kamarku dipindah ke lantai 1, dekat resepsionis. Benar saja, barang-barangku sudah di sana semua.

Bagiku, ini sudah pelanggaran etika. Barang yang ketika kutinggalkan memang tergeletak semua di atas kasur dan meja karena koper akan dibetulkan oleh pihak maskapai, tentu tersentuh sepenuhnya oleh tangan petugas. Dipindahkan tanpa izin, pula. Lalu aku menegaskan ke petugas resepsionis bahwa hal tersebut tidak etis dan memohon untuk tidak melakukannya lagi kepada tamu siapapun.

Di tengah kekesalan ini, masih mungkinkah aku berpikir untuk mencari oleh-oleh untuk orang rumah atau siapapun yang meminta? Hehe, sayangnya tidak.

(bersambung)

2 comments:

  1. kalo aku, kalo bawa oleh-oleh malah dibilang gak usah bawa. dan kalo dibawakan, malah gak disentuh / gak dimakan. jadi akhire biasa gak bawa oleh2 jkwwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha enak kalo gitu ya.
      pernah sih dulu ibuku tak belikan kain khas Sulbar kalo gak salah mas, eh ternyata gak suka. padahal harganya ratusan ribu, ekekek. trus bilang, "wis lek nyang endi2 gak usah tuku kain2 maneh" :))

      Delete