Merawat Kasih Sayang

, , 4 comments
Aku melongok melalui jendela rumah, apa suara ribut di depan. Kudengar suara dua sabetan dan kemudian seorang anak menangis tergugu sambil mengusap-usap kepalanya. Oh! Aku spontan menutup mulut ketika melihat seorang ayah memukulkan topi yang tadinya dikenakan kepada seorang anak lelaki gembul yang sedang bermain di taman bacaku.

Tak lama kemudian, suara makian yang tak jelas pun meluncur lancar dari mulut si bapak. Ibuku yang juga kaget juga bergegas keluar dari rumah. “Pak, pak, wonten napa niki?” (Pak, pak, ada apa ini?). Si bapak bergeming dan terus memandang wajah si anak yang mengusap air matanya dengan wajah suram. Sementara aku hanya mengamati dari balik jendela saja karena sudah ada ibuku dan seorang tetanggaku yang turun tangan. Jika aku ikut-ikut keluar, mungkin malah menjadi perhatian orang-orang yang lewat.

Karena si bapak yang juga berperut gembul dan berkulit legam itu masih saja diam sambil menggerutu seolah bicara pada diri sendiri, ibuku pun melanjutkan pembicaraan dengan nada lebih tinggi, “Anak enak-enak baca buku kok dimarahi to pak?” Bapak itu sama sekali tidak menatap ibuku. “Kalau anak-anak di halaman ini, ini rumah ini, di taman baca ini, itu jadi tanggung jawab saya. Jadi anak saya. Bapak nggak boleh seenaknya mukul orang di rumah ini!”

“Ayo pulang, pulang!” si bapak dengan isyarat tangan menyuruh anaknya untuk keluar dari taman baca dengan paksa. Ia mengabaikan apa yang dikatakan ibuku. “Bocah kok dikasih tau malah nggak nurut! Tadi disuruh beli sesuatu bilangnya iya-iya, tapi malah mampir kesini, gak langsung pulang ke rumah!”

Suara gerungan tangis si anak masih terdengar dari tempat aku mengamatinya di jendela rumah. Si anak dengan bergegas walau langkahnya lambat, menuju sepeda yang diparkir di sebelah taman baca dengan air mata masih berleleran di pipi tembemnya.

Demi melihat pemandangan menyedihkan itu, ibuku yang terpancing juga emosinya, berkata tegas kepada si bapak, “Pak, bapak boleh ngajak anak bapak pulang. Bapak boleh melarang anak bapak untuk tidak kesini. Tapi saya tidak rela bapak mukul anak bapak seperti itu!” Namun rupanya si bapak kurang terampil dalam berhadapan dengan orang lain. Jangankan menjawab pertanyaan ibuku, menatap lawan bicaranya saja tidak. Seolah tidak ada siapapun di sana, dan ia fokus untuk memulangkan si anak.

Beberapa teman sebaya yang sedang bermain dengan anak itu juga ikut keluar dari taman baca dengan ekspresi ngeri sambil berimpitan di punggung satu sama lain. Takut-takut tapi ingin tahu juga. Mereka meninggalkan kertas, crayon, dan buku yang sedang mereka pegang. Akhirnya si anak gembul menaikkan jagang dan berbalik arah langsung mengayuh sepedanya kuat-kuat meninggalkan halaman rumah kami. Dan si bapak, masih sama sekali tidak melihat wajah ibuku dan tanpa sepatah kata pun, langsung men-start motornya pergi.


Ah, aku jadi membayangkan, bagaimana perlakuan bapak itu terhadap anak-anaknya di rumah sehari-hari. Jika di depan orang lain yang tidak dikenalnya, di rumah orang lain, berani memukul dan memaki anaknya, bagaimana dengan di rumah? Diapakan saja anaknya di rumah jika anaknya tidak mau menurut kata-katanya atau berbuat sesuatu yang tidak cocok dengan kehendaknya?

Ibuku bertanya kepada anak-anak yang masih melongo di depan taman baca, siapa nama anak itu dan orangtuanya. Rumahnya dimana, dan orangtuanya bekerja sebagai apa. Menurut tetangga, si bapak ternyata juga pernah memukul dan memaki anak tersebut di sekolah. Kebetulan cucu tetangga dan anak itu satu sekolah, dan tetangga pernah memergoki kejadian tersebut dengan mata kepala sendiri.

Aku jadi ingat status FB sahabatku, Elok Widya Kirana, beberapa waktu lalu. Intinya, bu dokter sekaligus ibu rumah tangga dua anak ini mengatakan, “Mungkin satu-satunya keterampilan hidup yang tidak diajarkan secara langsung di sekolah mulai SD hingga kuliah adalah, bagaimana menjadi istri/ suami dan ibu/ ayah yang baik bagi keluarga kelak.” Yah, benar-benar menyentil. Status itu kalau tidak salah ketika beliau merasakan sendiri bagaimana repotnya mengurus pekerjaan rumah tangga, anak-anak dengan polah yang beragam, mengelola emosi sendiri ketika dalam stres, mengomunikasikan masalah dengan pasangan, belum ditambah ketika anak sakit, kebutuhan me time, dan sebagainya.

Kita diajari matematika, IPA, IPS, sejarah, geografi, fisika, kimia, ekonomi, akuntansi, bahasa Inggris, tapi tidak diajari suatu keterampilan yang hampir pasti akan dialami semua umat manusia: menghadapi pernikahan dan memiliki anak.

Sikap dan perilaku seseorang dalam menghadapi masalah tidaklah terbentuk secara instan atau semata hasil dari turunan gen yang diwariskan kedua orangtua. Perlu pembelajaran sepanjang hayat bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Belajar dari buku, mengamati perilaku dan situasi sekitar, mengobrol dengan orangtua atau teman atau siapapun untuk mendiskusikan berbagai hal, adalah beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menjadi manusia yang lebih bijak.

Wahai bapak gembul, selesaikanlah urusan dengan dirimu sendiri dulu. Berdamailah dengan apa yang sudah kamu terima di masa lalu. Aku tidak tahu sekeras apa hidup yang pernah dan sedang kau jalani sehingga kau mudah menggerakkan tangan untuk memukul dan mulutmu lancar meluncurkan makian untuk anakmu yang masih polos.

Ingat pak, anakmu ketika kamu suruh sesuatu berani mengabaikan dan malah belok ke rumah orang, itu juga hasil didikanmu. Mengapa ia lebih senang berada di rumah orang daripada di rumahnya sendiri? Mengapa ia berani berbuat yang tidak sesuai dengan kehendakmu?
Kamu pikir, anakmu itu didikan siapa? Ibunya semata? Tetangganya? Aku? Jokowi? Atau Habib Rizieq? Perilaku anakmu mencerminkan bagaimana kau membersamainya setiap hari.

Yang jelas, aku dan ibuku akan terus merawat kasih sayang kepada siapapun yang bertandang ke rumah atau taman baca kami. Bukan karena apa-apa, tapi mungkin karena hanya itulah yang kami punya.

Tidak boleh ada adegan kekerasan ke dua lagi di rumah ini!

4 comments:

  1. seharusnya ada kuliah atau minimal matkul how to be a good father/mother. tp sblmnya tentu hrs ada matkul how to be a good wife/husband. tp yg paling pokok sblmnya hrs ada jg materi how to get married soon :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. why soon?
      jawablah dengan filsafat logika. #eaaaa

      Delete
  2. Seperti halnya kisah saya itu bu sama persis dengan anak kecil itu.....hiks hiks hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. owh. boleh tahu kisah lengkapmu? mungkin kapan2 jika bertemu :)

      Delete