Perempuan di Bawah Hujan

, , 2 comments
Perempuan itu menengadah pada langit yang basah. Rasa-rasanya sudah bertahun berlalu sejak ia mengenali wajah hujan yang megah. Ditutupkan matanya menikmati angin yang semilir menerpa ujung bajunya yang merah. Dingin tapi lubuknya gerah.

Pada suatu masa, perempuan itu pernah menantang Tuhan dengan pongah di atas sajadah tergenang air mata. Jika saja apa-apa yang melekat pada tubuhnya, yang dimilikinya, yang dilakukannya menyebabkan fitnah yang menyakitkan, ia meminta Tuhan untuk mengambilnya saja. Biarkan ia pada keadaan yang orang lain ingin lihat.


Namun itu tak bertahan lama. Karena seminggu kemudian, seperti hewan bodoh yang terbangun dari tidur, ia baru menemukan bahwa ia memang tak pernah memiliki apa-apa selain titipan-Nya.

Perempuan itu menghembuskan napas berat. Tatkala orang senang menyebutnya sebagai perempuan yang suka bekerja berkeliling mencari kesenangan. Kemudian pulang dengan membawa segudang uang, untuk kemudian habis pada sudut-sudut pandang orang. Seolah setiap mereka tahu persis jumlah debet-kredit pada rekeningnya yang kadang kerontang.

Sebuah kalimat menyakitkan bahkan hingga kini masih terngiang ketika kantuk masih belum hilang dari peraduan. “Harusnya kamu tidak bersenang-senang mencari uang, memakan makanan sajian mahal, dan tidur nyenyak di ranjang hotel tempat pelacur-pelacur menghabiskan malam bersama pasangan!” Hati perempuan itu bagai tertusuk sembilu hingga tembus ke belakang. “Harusnya kamu lebih banyak lagi bersimpuh di tanah, tirakat, biar kelanjutan hidupmu diberikan jalan lapang!”

Ada juga orang yang menganggap perempuan itu selalu memiliki uang. Kran-nya banyak, begitu mereka senang menerka-nerka sendiri. Hingga ratusan kalimat serupa datang, ia ingin sekali membuktikan kebenaran orang-orang. Di sakunya ada uang sepuluh ribu. Dipakainya membeli nasi tujuh ribu. Ia berharap setelah kembalian tiga ribu masuk saku, saat ia mengeluarkan lagi uang itu, akan berubah wujud menjadi sepuluh ribu. Bahkan jika perlu dua puluh ribu. Tapi sayang, itu tidak pernah terjadi. Ia pun memiliki uang yang sama dengan orang lain. Jika dibelanjakan, maka akan berkurang.

Kemudian orang masih berdalih bahwa ya, memang uangnya berkurang. Tapi esok pagi ketika ayam belum berkokok, uang itu akan kembali berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tiba-tiba perempuan itu ingin berdoa sekali lagi, “Tuhan, jika soal uang sepele itu mengundang komentar orang, ambil saja semuanya, Tuhan. Aku mohon ambil saja!” Dan ya... bisa ditebak, doa itu tidak bertahan lama, seiring dia menyadari uang itu juga bukan miliknya, tapi cuma titipan-Nya.

Perempuan itu menggigit bibirnya di tengah hujan yang gerah. Sesekali memilin bajunya yang bercampur bau tanah menguar.

“Jadi perempuan jangan punya cita-cita terlalu tinggi. Nanti semua pada takut padamu!” Kata-kata itu halus tapi menyayat didengar. Pada rasa teh yang hambar, ia tercenung mengira-ngira, cita-cita tinggi yang dimaksud itu, setinggi apa? Dan cita-cita yang rendah, yang menurut orang-orang lebih patut dimiliki, itu yang seperti apa?

Tak terbayang tetes-tetes darah yang dikeluarkan orangtuanya untuk membiayai sekolah hanya berakhir menjadi fitnah. Tetes keringat dan air mata perempuan itu menuntut ilmu dalam kondisi serba kekurangan dan dihina-dina, kini berada di tong sampah sebagai bahan fitnah.

Berkali-kali perempuan itu mengadu, “Apakah keadaannya lebih baik jika aku tidak bersekolah saja, Tuhan? Apakah mungkin orang-orang akan senang jika aku hanya menjadi manusia yang tinggal di dalam rumah, diam, berpikir seadanya, bertindak seadanya?” Malam lain, ia bermimpi Tuhan menjawab, “Jangan bodoh, bodoh! Aku bisa saja membuatmu bodoh dalam sekejap jika Aku memang menginginkan kamu menjadi bodoh, bodoh!”

Perempuan itu menggigil. Dingin telah mengerutkan ujung-ujung jari tangan dan kakinya. Ia hendak beranjak tapi roboh kembali. Membiarkan percik-percik coklat merembesi bawahannya.

sumber

Perempuan itu kadang hanya rindu tidur. Yang mengenyahkannya dari cibiran dunia. Menurunkan kesadaran untuk sejenak pergi dari tatapan orang-orang... yang mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang terlalu bekerja keras dan sibuk. Kesana-kemari mengumpulkan harta, untuk... yang mereka sendiri tidak pernah tahu untuk apa tapi lebih senang memercayai bahwa perempuan itu memiliki gunung emas yang tak habis tujuh turunan.

Hujan mereda. Jari tangan perempuan itu merenda corak langit dengan ujung jarinya. Satu dua tetes masih menuruni pipinya yang kuyup. 

Akhirnya ia tahu apa yang ia butuhkan untuk bahagia. Cukup menikmati diri di bawah hujan. Sederas apapun air menghantam badan. Seganas apapun angin berkesiur kencang. Atau sedahsyat apapun sambaran petir memelintir dari kaki mega yang mengirimkan peri kematian.

2 comments: