Ketika Aku Membeli: Manusia Setengah Salmon (buku Raditya Dika)

, , 10 comments
Assalamu'alaikum

Jujur, buku ini udah lama banget aku tunggu *alay*
Sejak dijanjikan oleh Radith pas talkshow di Gramedia TP (Tunjungan Plaza) Surabaya awal tahun ini, bahwa buku ke-6 nya bakal terbit sekitar pertengahan tahun 2011, aku udah gak sabar pengen baca lagi cerita-cerita kocaknya. Dan sesuatu yang (mungkin) wajar jika akhirnya penerbitan buku ini molor sampe bener-bener rilis tanggal 24 Desember 2011 (kemaren).

Awalnya agak ketir-ketir gak bisa segera beli bukunya pas first-day release, karena kantong sudah tipis banget nget nget. Tapi alhamdulillah sehari sebelumnya (23/12/2011) kok ya ada rejeki mampir. Alhamdulillah, akhirnya bisa beli buku baru juga. Yiey! :D

Dan seperti buku Radith sebelumnya, Marmut Merah Jambu, bukunya kali ini, Manusia Setengah Salmon, juga aku beli di Gramedia Kediri. Iya, di Kediri juga ada toko buku Gramedia, kali! *sombong*

Ini covernya, dengan efek "cat air"
Lhaaa, kenapa juga bukunya harus beli disana? Bukannya di Surabaya juga banyak? Jadi begini sodara-sodara! Waktu itu karena di desa tempat tinggalku ada panggilan untuk ngurus e-KTP alias KTP elektronik, maka mau gak mau aku harus pulang ke Kediri, karena batas waktu pengurusannya cuma sampe 30 Desember 2011. Weekend sebelum-sebelumnya aku belum bisa pulang karena kebetulan pas ada acara juga di Surabaya. Sebenernya males juga harus pulang kemaren itu, apalagi ibuku lagi ke Jakarta, jadi gak ada yang aku "pulangi", alias mau ketemu siapa juga di rumah *mata berkaca-kaca*

Jadilah Sabtu pagi itu (24/12/2011) jam 7 dengan malas-malasan aku berangkat ke Kediri naik bus sendirian. Mbakku udah ngurus duluan sehari sebelumnya. Nyampe Kediri jam10-an. Trus karena teler, aku tiduran dulu sampe bener-bener ketiduran. Sendirian. Di rumah. Tanpa mengunci pintu.
Jam 11 bangun, langsung bergegas ke kantor Kecamatan Kota (sebelah lapangan Brawijaya tempat Persik biasanya maen, hehe). Naik motor. Sendirian. Antri bentar. Ketemu tetangga. Ngobrol bentar. Foto close up. Cetak sidik jari. Ambil gambar iris mata. Tanda tangan. Pulang.

Tapi emang udah diniatin banget, kalo pulangnya mau mampir Gramedia yang letaknya gak jauh dari kecamatan. Langsung deh mampir situ. Udah ketebak banget, buku barunya Radith PASTI ditaruh di bagian "new release" dan mungkin juga "best seller" :) Dan lokasi kedua kategori tersebut adalah tepat di depan pintu masuk Gramedia. Jadi emang sengaja aku gak nitipin tas di penitipan barang, soalnya tujuannya emang cuma mau beli buku itu doang trus pergi. Nututi waktu biar gak kesorean nyampe di Surabaya karena ada hal penting yang harus diurus *sok penting*

Bener aja, pak security nya bilang, "Mbak, tolong dititipkan dulu tasnya di sana", katanya sambil menunjuk tempat penitipan barang.
"Eh, saya cuma mau beli buku ini aja (sambil nunjuk bukunya Radith), jadi cuma bentar Pak", sahutku berusaha meyakinkan.
"Oh ya sudah", katanya pasrah sambil terus mengawasi jangan-jangan aku mengutil beberapa buku dan memasukkannya ke dalam tas ranselku.

Sesampainya di kasir, aku iseng tanya (dan ini hampir selalu aku lakukan ketika membeli buku), "Gak ada diskonnya nih mbak?" --> irit dan pelit emang beda tipis.
"Wah, udah gak ada mbak. Coba kemaren mbak pesen duluan, ada diskon 10% lho", jawab mbak-mbak kasir.
"Pre-order maksudnya, mbak?"
"Iya"
"Yowislah", jawabku. Padahal kalo ngitung-ngitung, lumayan tuh dapet diskon 10%. Harga aslinya Rp 42.000,-

Pas lagi bayar di kasir, ada beberapa cewek ribut di booth tempat bukunya Radith berada. Pada berisik sendiri, "Naaahh...ini, ini bukunya! Asiiikk..." (sambil mengangkat-ngangkat buku Manusia Setengah Salmon dan menunjukkan ke temen-temennya).
"Waaahhh iya, beneran sudah ada!" sahut temannya.
"Ya iyalah, kan hari ini mulai terbitnya!" kata si anak pertama tadi.
"Waaa...aaa...aaa...". Lalu Gramedia roboh saking hebohnya suara mereka.

Dalam hati aku berkata, "Gak papa Nak, hebohlah sebelum heboh itu dilarang! Saya juga pernah se-ababil kalian kok. Bahkan sampe saat ini!"
Aku senyum-senyum sendiri. Mengingat memang betapa excited-nya kita ketika seolah sedang melihat barang kesukaan yang sudah diincer berabad-abad.

Radith versi "keren" :)
Habis dari Gramedia, langsung menuju Hoka-Hoka Bento yang kebetulan sebelahan sama Gramedia. Iya, di Kediri juga ada Hokben! *sewot*
Perut keroncongan udah minta diisi. Mana di rumah gak ada apa-apa lagi buat dimakan (ya iyalah, kan gak ada orang). Beli paketan yang paling murah (Hoka Hemat 1) sama es. Duduk sendirian di pojok sambil mengamati para pramusaji yang hobi teriak-teriak kalo ada pembeli masuk dan keluar, semacam "Moshi-moshi... selamat dataaanggg!!!" atau "Arigatou gozaimasu... terima kasih atas kunjungannyaaaa!!!"

Tepat setengah 2 siang aku sudah di dalam bus menuju Surabaya kembali. Dan disitulah aku mulai membaca buku Radith yang barusan aku beli. Aku buka dan baca bab-bab bergambar (komik) dan tata letak yang menarik di mata terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak biasa aku lakukan. Biasanya aku selalu urut membacanya, mulai dari prakata, bab 1, sampe bab terakhir. Hingga akhirnya aku ketiduran di bus dan terbangun karena hujan yang mengguyur hampir seluruh perjalananku kemarin.

Trus, isi bukunya apaan???
Nah, ternyata buku ke-6 Radith ini emang cukup berbeda dari buku-buku sebelumnya. Yeah, setidaknya, setelah aku baca 1-2 bab, aku tidak tertawa tergelak-gelak dibuatnya. Tidak ada senyum-senyum sendiri mengingat kisahnya yang barusan aku baca. Buku ini bukan lagi buku "cemen bin ababil" yang isinya sekedar mengocok perut saja. Tapi jelas, segmen pasarnya bukanlah anak kecil maupun orang yang sudah tua, tetapi remaja dan manusia dewasa awal (sekitar 12-30 tahunan). Itu menurut analisaku saja :)

Dulu para pembacanya yang masih muda belia, mungkin sekarang udah remaja, kuliah, atau bahkan lulus kuliah. Aku sendiri pun, menjadi pembaca Radith sejak aku kuliah hingga lulus S1 sekarang ini, dan tak pernah bosan untuk mengikuti dan selalu membeli bukunya *widih, sebegitunya*

Jujur, agak out of my expectation sebenernya bukunya kali ini. Aku berharap aku bisa terpingkal-pingkal kembali membaca cerita demi ceritanya. Menjadi obat stresku yang bisa aku baca berulang kali dan tetap tertawa dibuatnya. Tapi nyatanya tidak. Tulisannya tetap berbau komedi, tetapi lebih banyak ke kontemplasi, refleksi diri, mengajak pembacanya untuk merenung tentang hal-hal yang mungkin sepele, tapi ada di sekitar kita, yang mungkin terlupakan atau terlewati begitu saja.

Benang merahnya adalah tentang "PINDAH" atau kepindahan. Mulai dari cerita tentang pindah rumah, pindah ke lain hati, sampai pindah hubungan keluarga.
Overall, tulisan ini lebih DEWASA daripada sebelum-sebelumnya. Tidak hanya cekikikan menertawakan kebodohan diri sendiri, tapi juga ke makna hidup.  Lebih dewasa lagi daripada yang Marmut Merah Jambu. Well, "pertumbuhan dan perkembangan" seorang penulis juga pasti turut menentukan apa yang ditulisnya, kan? Dan pada 28 Desember nanti Radith akan berusia 27 tahun. Dan dia udah lulus kuliah sekarang *akhirnyaaaa*
Radith versi "unyu"
Di Manusia Setengah Salmon ini, bab yang paling aku suka adalah yang berjudul "Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat", "Mencari Rumah Sempurna" dan "Manusia Setengah Salmon" itu sendiri :) Itu karena semuanya bicara tentang "hati", wkwkwk...

Buat yang lagi "bertumbuh" dan perlu bacaan untuk menemani tumbuh kembang kalian (halah), buku ini cocok untuk dipinjam dimiliki, sembari kalian akan tetap merasa terhibur. Dengan tebal buku 258 halaman, bagi yang emang doyan baca dan tahan godaan untuk tidak mau diinterupsi, aku rasa beberapa jam aja kalian udah bisa selesai kok bacanya :) Oya, pembatas bukunya menarik! Gak percaya? Silahkan beli sendiri! Hehehe

Ai laf You, Allah
Ai laf you, Rasul
Ai laf you, Mommy and Dad
Ai laf you, Radith *uhuk*
Can't wait to see his next crazy stand up comedy in Surabaya, then :D
Wassalamu'alaikum

Catatan: Gambar diambil dari beberapa sumber. Maaf belum mencantumkan link aslinya.

10 comments:

  1. tetep aja.. sy yg komen duluan.. sukses buat idolamu jeng...

    PERTAMAX GAN... ^_^

    ReplyDelete
  2. dari awal keluarnya buku ini aku udah gak tertarik mbak, lihat covernya aja udah gak lucu :d

    ReplyDelete
  3. what??? You don't love me? ckkckckck....
    haha...

    ReplyDelete
  4. @uzumaki imron: haha padahal gak di-tag, tetep aja PERTAMAX :p
    Amiinnn... doain saya juga mas :))

    @drg.Nella: haha iya, judulnya emang kurang "nendang" menurut saya. Tapi tetep kontemplatif kok Dok! :)

    @puritz: emang. I don't love you. But i heart you, haha *smash blast*

    ReplyDelete
  5. kalo beli buku di togamas bisa diskon 15%, di uranus bisa 20% (biasanya) :-D tapi kalo soal penataan dan kenyamanan membaca memang gramedia yg lebih unggul

    ReplyDelete
  6. @mas ridhoadhie: iyooo masss *nangis darah*
    malah beberapa hari setelah itu, aku ke Rumah Buku Ngagel, buku Radith ini didiskon 25%
    *pengen ngelabrak mbak-mbak kasirnya* lho!

    ReplyDelete
  7. Kalau saya bilang Radith semakin dewasa dalam menulis. tulisannya semakin apik, dan sekarang lebih mengikuti pakem EYD. coba deh iseng-iseng buka lagi buku kambing jantan. disitu terlihat kalau tulisan radith masih belum matang, dewasa, dan ditulis dengan EYD yang hancur-hancuran. intinya sih Radith dari segi umur dan penulisan semakin dewasa.

    btw salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  8. @hidupiniseperti: yak, setuju sekali!
    saya masih sering buka2 buku Radith yang lama, dan emang jauh lebih lucu yg lama, dan juga lebih "ancur" ceritanya awal2 dia nulis dulu, hehe
    human make revolution, so do we :)

    salam kenal juga, Deni Oktora :) blog kamu unik :)

    ReplyDelete
  9. Filmnya segera rilis juga nih

    ReplyDelete