Jawaban untuk Nina Van Poll

, , 2 comments

Pertemuanku dengan Nina Van Poll (baca: Nina Vhong Pho) berawal dari ketika melihatnya gegoleran sendirian di sofa penginapan dan tetiba terpikir untuk mengajaknya ngopi bareng malam itu, Jumat 28 April 2017, saat aku berkunjung ke Aceh. Tak dinyana, dia menyambut dengan baik.

Sebelumnya, aku bertanya ke dia, sedang apa? Apakah menunggu seseorang? Dia bilang, sedang cari koneksi wi-fi saja dan tidak sedang menunggu siapa-siapa.

Nina dari Holland alias Netherland alias Deutch alias Belanda. Kami berangkat menuju Kedai Kopi Solong, Banda Aceh, salah satu warung kopi yang direkomendasikan teman-teman. Aslinya aku ini bukan peminum kopi. Cuma penasaran saja dengan kepopuleran kedainya. Dan katanya, kopi Aceh itu enak. Bah! Bahkan aku tidak bisa membedakan apa enaknya kopi ini dan itu. Haha...


Kami ngobrol ngalor ngidul. Tak disangka, temanku, si Budi, yang memiliki wajah eksotis dan kulit gelap itu jago juga ngomong bahasa Inggris. Usia Budi dan Nina sama, 19 tahun. Tahun lalu mereka baru saja lulus SMA. Umum di Eropa bahwa setelah SMA, anak-anak traveling keliling dunia sebelum memasuki bangku kuliah setahun kemudian.

Nina Van Poll, aku, Budi

Nina sendiri sudah traveling sejak Desember 2016 dan akan kembali ke Belanda Juli 2017 mendatang. 8 bulan ia melakukan solo traveling keliling negara-negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Malaysia, Indonesia, Singapura, terakhir Filipina. Ayah, ibu, dan kedua kakak laki-lakinya juga senang traveling sejak muda. Ia pernah ke Amerika, kakak-kakaknya pernah ke Australia dan Afrika Selatan, dan ayah ibunya sudah tidak terhitung lagi ke berbagai negara.

Ayahnya bekerja sebagai wirausahawan suplemen kesehatan untuk membentuk massa otot (sedang tren di Belanda untuk body building), sementara ibunya semacam konselor di SMA yang menangani anak-anak dengan kesulitan belajar. Sedangkan Nina sendiri tahun depan ingin mengambil jurusan teknik khusus untuk alat-alat kesehatan atau kedokteran. Lebih bisa memilih kerja dimana dan tidak terlalu terikat waktu, alasannya.

Hingga di satu titik dia bertanya berapa kali dalam sehari aku shalat. Kemudian dia bilang dirinya (dan separuh orang Belanda) tidak beragama atau yang lebih dikenal dengan atheis. Jujur, aku kaget mendengarnya. Sekaligus antusias. Baru kali ini rasanya aku bertatap muka langsung dengan seorang atheis. Aku meminta izin apakah boleh ngobrol beberapa saat lagi soal itu. Dia menyambutnya dengan senyum terbaik.

Sesampainya kembali di penginapan, aku ajak dia masuk kamarku. Berawal dari sepatu ketsnya menginjak ujung sajadahku yang masih tergelar di lantai dan aku izin untuk melipatnya (sembari menjelaskan bahwa itu untuk alas shalat), dia jadi bertanya seputar shalat dan Islam. Aku pun juga bertanya soal atheisme dan kehidupan spiritualitas dia dan keluarganya.

Berikut beberapa cuplikan obrolan kami. Nina bertanya dan aku menjawab.

Sejak kapan pakai jilbab? Disuruh orangtuamu atau pakai sendiri?
Sejak SMA. Aku memakainya karena keinginan sendiri.

Apakah tidak gerah pakai jilbab di negara tropis?
Pada waktu-waktu tertentu memang sangat gerah. Apalagi jika udara panas, jadi keringetan. Tapi aku bisa memilih baju dan jilbab yang bahannya adem dan menyerap keringat. Jadi tidak masalah.
Oh, jadi kalian juga memilih bahan pakaian yang nyaman untuk dipakai juga?
Tentu saja.

Mengapa setelah puber tidak langsung pakai jilbab, tapi menunggu SMA?
Sebetulnya tidak bermaksud menunggu SMA saat itu. Hanya saja memang aku baru “sadar” saat SMA. Apalagi keluargaku tidak pernah menyuruh atau memaksa anak-anaknya untuk pakai jilbab sejak kecil. Jadi ya, seiring aku tahu kewajiban memakai jilbab bagi wanita muslim yang sudah puber (pubertas/ puberty), aku memakainya sendiri tanpa disuruh siapapun.

Apakah pernah terpikir untuk melepas jilbab?
Enggak sih. Kalau aku pribadi, sama sekali tidak pernah terpikir. Aku tahu dasarnya, aku tahu ini kewajiban, aku tahu dengan menutup seluruh badan ada manfaatnya buatku, jadi aku tidak ingin melepas jilbabku.
Memangnya, apa untungnya pakai jilbab?
Pertama, aku merasa lebih aman. Meminimalisasi orang lain, khususnya laki-laki untuk melihat anggota tubuhku, yang mana itu di Islam namanya “aurat”. Aurat hanya boleh dilihat oleh sesama wanita Muslim dan anggota keluarganya. (*untuk menyederhanakan konsep mahram*). Mungkin Nina juga merasa, mengapa setelah di kamar, aku tetap memakai jilbab di hadapannya.
Ke dua, jilbab sebagai identitas muslim. Pernah suatu ketika aku ke restoran, yang mana penjual makanannya langsung menyergahku membeli makanannya karena mengandung babi. Padahal aku tidak bilang bahwa aku muslim atau menghindari makan babi. Tapi mereka mengenaliku melalui jilbabku.

Aku suka rambutku dan senang jika keindahannya dilihat orang. Apakah kamu tidak begitu?
Ah... aku juga suka rambutku. Aku merawatnya, layaknya dirimu. Aku suka mengelus-elusnya juga dan senang jika ada keluarga yang melihat rambutku. Wanita muslim juga kadang pergi ke salon, memotong rambut, atau melakukan perawatan yang lain agar tetap sehat dan indah. Tapi ketika aku tahu bahwa memakai jilbab itu wajib, sekarang sudah tidak terpikir lagi atau tidak penting apakah orang menyenangi atau mengagumi rambutku. Ketika keluar rumah, sudah tidak sempat terpikir lagi apakah akan panas atau tidak, apakah sayang rambutku tidak dilihat orang atau tidak, jika aku memakai jilbab.

Apa perasaanmu ketika kamu menutup rambut, tangan, lengan, dan kakimu menggunakan baju panjang?
Aku merasa aman.

Apa pendapatmu soal wanita muslim yang masih banyak dianggap tidak berdaya, di bawah lelaki kedudukannya, ditindas?
*Wow, aku kaget. Ternyata anggapan itu masih terus ada ya sampai sekarang. Bahkan bule pun memperhatikan hal itu. Hiks.*
Itu kadang memang masih terjadi. Tapi kalau melihat dari orang sekelilingku, sudah sangat banyak dan mudah ditemui para wanita yang memiliki pendidikan tinggi hingga master, doktor dan profesor, bekerja dalam berbagai bidang apapun yang dia mau, serta mandiri secara finansial.
Aku sendiri untungnya tidak merasakan kondisi dimana perempuan dianggap tidak berdaya sehingga ditindas atau dilihat sebelah mata serta kedudukan di bawah lelaki. Aku dan kakakku, selayaknya perempuan umumnya di sini, sekolah dengan tenang, kuliah dengan baik, dan bekerja sesuai keinginan kami.
Mungkin pada beberapa lapis masyarakat menengah ke bawah yang perempuannya tidak bekerja sehingga memiliki ketergantungan ekonomi kepada suami/ lelaki saja, serta tidak cukup terampil memberdayakan dirinya, akan terjadi seperti yang kamu bilang, disepelekan. Mereka mau memberontak juga sulit, karena resikonya mereka akan kehilangan sumber nafkah dari suami. Tapi ingat, itu pada kasus tertentu saja.
Jadi aku berpikir seorang wanita bekerja itu oke-oke saja, selama tidak kehilangan fokus untuk mengurus keluarga dan rumah tangga.

Dia melihat Alquran di kamarku dan bertanya: Kamu bisa membacanya? Tahu artinya?
*Itu sebenarnya sajadah dan Alquran sudah disediakan di kamar penginapan. Agak kaget juga awalnya, tapi baru teringat: oh iya, ini kan Aceh, hehe*
Iya, bisa membaca. Artinya tidak seluruhnya tahu, hanya beberapa kata saja yang sering muncul dalam keseharian.
Jadi, muslim diajari membaca tulisan ini?
Iya, kebanyakan begitu. Alquran itu firman Allah, jadi kami wajib memelajarinya. Sudah umum disini, sejak kanak-kanak, kami dikirim ke sekolah agama untuk belajar membaca dan memahami isi Alquran.

Mengapa jumlah rakaat shalat ada 17 dalam sehari?
*Dieeeeeng! Nih bule kritis amat yak. Mana aku lupa lagi sejarah runtutnya kenapa ada 17 rakaat, bukan 16 atau 18 gitu. Pada saat begini, rasanya pengen tenggelam dalam bumi aja deh. Hiks hiks.*
Mmm... jadi awalnya perintah shalat itu turun pada saat Nabi Muhammad menjalani Isra’ Mi’raj. Kamu pernah dengar Nabi Muhammad?
Yeah!
Oke. Jadi Nabi Muhammad dibawa Gabriel alias Jibril ke langit menuju singgasana Allah untuk menerima perintah shalat untuk seluruh umat muslim. Pernah dengan Gabriel?
Angel?
Iya, angel. Malaikat. Awalnya sih Allah memerintahkan shalat puluhan rakaat dalam sehari, lalu Nabi Muhammad mengatakan, nanti umatku tidak sempat melakukan apapun, tidak sanggup bekerja, jika sehari shalatnya puluhan rakaat.
What? Puluhan?
Hehe, iya. Lalu akhirnya sampai deal-lah itu 17 rakaat dalam sehari. Shalat Subuh 2 rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya’ 4 rakaat. Jadi total ada 17 rakaat.
Jadi, rakaat itu artinya?
Satu gerakan mulai berdiri hingga duduk. * lalu aku memperagakan beberapa gerakan shalat*. Pernah lihat orang shalat?
Yeah. Kalian duduk dengan lutut menyentuh tanah.
Yuhuuu...

Apakah yang kalian ucapkan dalam shalat itu hanya seperti rapal mantra yang tidak ada artinya, atau ada maknanya?
Ada maknanya. Kami memuji Allah, berdoa, memohon kebaikan, ampunan atas segala dosa. Kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Allah. Setelah shalat, kami bisa berdoa apapun kepada Allah.

***

Aku dan Nina mengobrol sampai jam 23.00 atau lebih. Kami saling berterima kasih karena telah berbagi informasi secara terbuka. Nina mengajak berpelukan sebelum meninggalkan kamarku. Aku menyambutnya dengan hangat.

Malam itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pertanyaan-pertanyaan Nina soal Islam dan identitas muslimku sungguh mengorek keimananku. Aku terus berpikir, pasti ada maksudnya kenapa Tuhan mempertemukanku dengan Nina di ujung Indonesia pada malam yang dingin itu. Aku masih tidak percaya bisa berkenalan dengan seorang atheis dan berbicara dari hati ke hati dengan pikiran yang terbuka.

Aku baru bisa tidur jam 01.30, itupun diselingi mimpi-mimpi acak. Alarm HP aku setel jam 04.30 untuk berjaga-jaga jangan sampai kesiangan bangun karena akan mengejar kapal ke Sabang. Subuh di Aceh jam 06.00, dan aku terbangun jam 04.00, bahkan sebelum alarm berbunyi. Jadi aku hanya tidur 2,5 jam.

Begitu terbangun, yang terpikir pertama kali adalah obrolanku dengan Nina. Aku menghadap ke cermin. Adakah yang salah dari penjelasanku ke Nina semalam. Aku khawatir ada bagian-bagian yang tidak bisa dia tangkap dengan baik, atau deskripsiku justru membingungkannya soal Islam. Tiba-tiba aku merasa punya tanggung jawab besar terhadap identitas keislamanku. Aku melangkah ke kamar mandi dengan gontai, berwudhu, lalu melaksanakan shalat tahajjud dan shalat-shalat lain apapun yang terlintas di pikiranku. Aku beristighfar berulang kali. Memohon ampun jika belum menjadi hamba yang shalehah :(

2 comments:

  1. Tulisanmu kok selalu keren sih mbak! aku bocahmu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bayyyy... mentang2 wis jarang ngeblog, trus jenengmu malih "unknown". haha
      makasih Bay, berkat doa dan restumu juga :p

      Delete