Gatal-gatal di Maumere dan Jepara

, , 4 comments
Malam itu menjelang tidur, aku gundah. Aku menggaruk-garuk sebelah lengan kiriku ke bawah. Rasanya gatal sekali. Gatal yang bikin gemas. Kalau tidak digaruk, gatalnya semakin menjadi, sedangkan kalau digaruk terus, lama-lama pasti akan perih karena lecet.

Aku mengira-ngira, apa penyebab gatalku ini. Baju tidur, bersih. Sprei, bedcover, sarung bantal, bersih. Kamar hotel ini juga sejuk, ada AC nya. Faktor gatal karena panas tentu bisa dieliminasi. Aku galau di Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Rasa gatal tanpa sebab yang jelas ini juga pernah aku alami sewaktu bepergian ke Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1 atau 2 tahun lalu. Malam hari, tanganku gatal-gatal. Dan sedikit menjalar ke kaki.


Apa mungkin karena seafood yang aku makan ya? Kalau pergi ke daerah kepulauan atau yang dekat dengan laut, seafood tentu kuliner yang amat mudah ditemukan. Tidak selalu lebih murah daripada harga di Jawa, tapi gampang ditemukan, bahkan di warung kecil sekalipun. Kalaupun tidak semacam cumi-cumi atau udang, pasti ikan segala jenis yang seringkali baru aku dengar namanya, banyak terjejer rapi di box pendingin ber-es batu, atau dipajang begitu saja di atas meja. Sengaja di-display untuk menarik minat calon pembeli.

Kenapa gatal ini sulit kuidentifikasi? Karena sebenarnya aku tidak pernah punya riwayat alergi terhadap makanan apapun. Asyik ya? *liat ukuran perut*

Kalau mbak dan ibuku bisa langsung gatal lidah atau kulitnya setelah makan udang, maka tidak halnya dengan aku. Aku menter-menter saja. Pun termasuk seafood mulai ikan hingga kepiting, aku juga tidak pernah merasa ada reaksi alergi. Tapi sepertinya sejauh yang bisa aku ingat, di Maumere kemarin aku merasakan gatal setelah makan ikan-ikanan yang... tentu saja nikmat! Dan di Jepara dulu, aku gatal setelah makan kerang. Banyak sekali. Mungkin setengah baskom. Eaaaa...

Perkara mandi? Walaupun aku jarang mandi 2x sehari jika tidak perlu-perlu amat (silakan bully saya!), tapi rasa gatal tadi justru menyerang setelah aku mandi malam. Hipotesis tidak terbukti.

Akhir kesimpulanku, aku yakin sekali, bukan faktor jenis makanannya yang membuatku gatal. Tapi lebih karena faktor kebersihannya. Karena dalam makanan yang enak, katakanlah ikan bakar asin-manis favoritku, sesungguhnya aku tidak pernah tahu bagaimana proses pembersihan ikan tersebut. Memakai air sumur? Air kran PDAM yang mengalir? Air apalah-apalah yang sudah ditandon sebelumnya? Atau... tidak dicuci sama sekali?

Begitu juga di Jepara. Aku dan rombongan pesta makan kerang dan ikan bakar di semacam alun-alun Jepara. Ada los gerobak makanan berbentuk melingkar besaaar, dengan area makan lesehan di lantai yang dilapisi tikar. Lingkungannya tidak bisa dikatakan higienis, mengingat ketika jalan kaki, kami sempat mencium aroma sampah basah yang sungguh mengganggu. Pun sebagian penjual makanan membuang limbah makanannya (bekas air mencuci piring, gelas, dan air kobokan, minimal), juga di dekat gerobaknya. Meninggalkan genangan air yang berbau aduhai, dan juga jalanan aspal dan paving yang juga aduhai... hitamnya.

Dan malam di Maumere yang gelisah itu, temanku nyeletuk, “Mungkin kamu gatal justru karena di sana mandi 2x sehari. Padahal biasanya cuma mandi 1x sehari. Kulitmu justru gatal kalau bersih.”

Sial!

4 comments:

  1. nggak papa sih gatal, asal ada yang garukin....eaaaa :d

    coba olesin esperson pet ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. eaaaaaa ish!
      esperson? oke noted. thank you

      Delete
  2. alergi kayaknya bu :)

    itu kan habis makan seafood..

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaupun sebelumnya belum pernah ada riwayat alergi, bisa tiba2 mak bedunduk jadi alergi ya ini tubuh? hmmm

      Delete