NIKAH. Kapan?!?! Besok.

, , 5 comments
Assalamu'alaikum...

“Hey, kapan nikah?”
“Eh si ini udah nikah loh, kamu kapan?”
“Wah, udah cukup umur nih. Kapan nikah?”

Yup. Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali hinggap di telingaku, baik oleh keluarga, sahabat, rekan kerja, dll. Agak gerah memang. Trus jawabannya apa donk? Au ah lap. Paling simpel ya aku jawab “amin, semoga secepatnya ya!” Lha gimana mau jawab? Wong calonnya belum ada. Oke, ini emang sedikit curhat =)

Bagiku, gak ada yang mudah dalam pernikahan. Setidaknya bagi orang yang belum nikah kayak aku, biasanya punya perasaan “Wah, bisa jalanin dengan baik gak ya pernikahan ntar?” Hayo ngaku aja deh, kita sama kok! =) Mungkin sebagian lagi orang (khususnya yang udah nikah) berfalsafah KISS (Keep It Simple Stupid!), alias jalanin aja lah, masalah itu PASTI ada, tapi bukan berarti gak ada penyelesaiannya kan?

So guys, menurutku berikut ini yang harus DICAMKAN sebelum menikah, hehe:


Cari calon bapaknya dulu laaaahhh 
Masak iya nikah gak ada pasangannya? Jujur jaman dulu aku SANGAT mendambakan punya suami yang berkulit putih. Bukan rasis ato apa-apa, tapi karena aku menyadari kalo aku termasuk kategori “manusia berkulit gelap”, jadi sebaiknya tau diri donk kalo pengen punya keturunan yang lebih “oke” dari emaknya. Gini deh gambarannya, setidaknya dari pelajaran biologi pas SMA tentang probabilitas keturunan *ngawur* :

Ibu hitam vs Ayah hitam = anak hitam 100% (kecuali dari gen di atasnya ada yang putih), entah dari nenek atau kakek buyutnya.
Ibu hitam vs Ayah putih = anak hitam; anak abu-abu/ coklat/ belang; anak putih (oke, emang sedikit mirip kucing jadinya). Tuh kan, masih ada kemungkinan setidaknya 66,67% kami punya anak berkulit selain kulit gelap ;p
Mungkin udah cukup jelas ya kenapa dulu aku ngebet pengen punya suami berkulit putih. Tapi sekarang mah harus mikir lagi mau ngomong kayak gitu. Emang ada yang mau? Naaah, pertanyaan bagus ;p
sumber: google.com

Jadi sebetulnya, apa sih pertimbangan cewek milih cowok buat jadi calon suaminya? Paling tidak berdasarkan hasil survey terhadap temen-temenku sendiri, mereka milih yang… ehm…

Cakep (tenang aja wahai cowok, kan ini relatif),
Punya pekerjaan yang halalan thoyyibah (yang halal dan baik, mapan, plus bisa menghidupi keluarga secara mandiri tentunya),
Paham dan mau mengamalkan pengetahuannya tentang hak dan kewajiban sebagai suami dan ayah (percuma cakep dan kaya kalo gak tau apa yang harus dilakukan dalam rumah tangga kan?),
Dari keluarga dan keturunan yang baik (bisa dilihat dari latar belakang keluarga, track record selama ini, halaah),
Dan yang paling mak nyuss adalah yang SHALEH (nah, ini indikatornya apa aja? Penjelasan temenku yang aku cukup sepakat dengan beliau adalah bahwa: yang istiqomah dalam beribadah. Yang gimana tuh? Yang ibadahnya bolehlah yang wajib-wajib aja dulu, tapi istiqomah alias rutin, daripada ibadahnya macem-macem bin bejibun, tapi pas lagi gak mood, jadi banyak bolongnya. Emang celana, bolong???).

Nah lo, emang ada paket komplit yang sempurna kayak gitu? Ehm, kurang tau juga yaaaa… Ada kali, tapi mungkin gak banyak. Tapi tenang aja mai meeenn. Dalam agamaku (Islam), diajarkan bahwa “Jika ingin beruntung dunia akhirat, pilihlah yang paling baik agamanya. Jika ada lelaki yang baik agamanya tetapi kau tolak, maka tunggulah kehancuranmu. Juga bila ada lelaki yang buruk agamanya tetapi kau terima pinangannya karena kau silau akan harta bendanya, maka tunggu pula kehancuranmu.” Kurang lebih begitu, wallahu a’lam.

Trus gimana kalo ada 2 orang yang sama-sama baik agamanya plus baik semuanya? Ehm, ISTIKHARAH aje ye mpoookkk =)

Waaa… gimana cara ngasuh anaaakkk??? 
Gimana yaaa? *garuk-garuk kepala*

Pasti rumah bakal sedikit rusuh nih kalo ada anak-anak. Hahaha ini bukan umpatan ato sumpah serapah loh. Lagian asik juga kan, kalo di rumah rame gara-gara ada anak yang nangis lah, yang ngompol lah, berak lah, minta makan lah, minta dimandiin lah, mana si bapaknya juga minta diperhatiin juga!!!!! Wazzap with this situation??? Akankah tetap jadi baiti jannati (rumahku surgaku?)
sumber: google.com
 Satu hal yang selalu ditekankan ibuku kepada aku dan mbakku sebagai anak-anaknya dan calon ibu di masa depan (ceileee), adalah bahwa pendidikan AGAMA itu sangat amat penting sekali ditanamkan sejak dini. Boleh deh dibilang sejak dalam kandungan. Ibu sebaiknya sering baca ayat-ayat Al-Qur’an pas lagi hamil (dan di berbagai kesempatan juga sih), bicara yang halus, didoakan yang baik-baik, trus kalo udah lahir, diberi nama yang bagus, dijari baca tulis Al-Qur’an (karena ini sumber ilmunya para muslim di seluruh dunia, biar gak buta aksara), diajak berkenalan dengan Tuhan yang menciptakannya, pokoknya yang baik-baik deh, hehe.

Once more, Moms and Dads, ceritakan kisah-kisah inspiratif kepada anak-anak secara menarik yah, biar berkembang tuh imajinasinya. Percaya deh, banyak manfaat lainnya dengan cara bercerita kepada anak-anak kayak gini =)


Ngurus rumah = pembantu??? Alamaaaakk 
Nope! Rumah juga tempat tinggal kita sendiri kan? Masak mau ngotori tapi gak mau bersihin? Emang ada banyak sih keluarga yang milih buat gak punya khadimat (pembantu rumah tangga), yang artinya semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri, tentunya dengan pembagian tugas yang adil antara seluruh anggota keluarga =) Mereka juga mungkin berpikir bahwa dengan tidak adanya PRT, selain bisa menghemat anggaran rumah tangga, juga mengajari anak-anaknya kelak (baik laki-laki maupun perempuan) untuk mengurus rumahnya sendiri.
Mungkin perempuan ditakdirkan multitasking :)

Aku pribadi sih salut dan seneng banget kalo liat ada suami/ bapak yang “peduli” dengan urusan rumah. Kayak Oom-ku sendiri contohnya. Beliau yang dasarnya emang suka kebersihan dan suka bersih-bersih, gak pernah rikuh dan malu tuh kalo cuma buat nyapu, ngepel, bersihin tumpahan makan anak-anaknya, dan seabrek “pekerjaan perempuan” lainnya. Tentunya istrinya juga sudah mendapat “porsi” pekerjaan sendiri. Mantab kaaann? =)


Istri bekerja? Harus gak??? Perlu gak??? 
Well, ini tergantung kondisi keluarga masing-masing ya. Yang jelas, dalam Islam diajarkan bahwa yang BERKEWAJIBAN bekerja dan memberi nafkah lahir batin kepada keluarga adalah sang SUAMI. Dan tugas istri adalah mengurus urusan rumah tangga dan mendidik anak-anak di rumah (kalo mendidik anak sih sebenernya kewajiban suami dan istri secara bersama-sama).
Menyeimbangkan antara urusan pekerjaan & urusan keluarga

So, sudah jelas bahwa istri TIDAK HARUS bekerja, kan? Kecuali dalam kondisi tertentu, misalnya sang suami sakit terus-menerus, yang ketika istrinya tidak bekerja, maka tidak akan ada pemasukan keluarga, sehingga dikhawatirkan kondisi keluarga tidak baik dan timbul keburukan-keburukan yang lain. Mau gak mau, istri jadi HARUS bekerja.

And for me, bahwa istri mempunyai KETERAMPILAN tertentu, itu agaknya sudah menjadi KEHARUSAN. Bukannya bergaya jadi wanita jaman sekarang yaaa, cuma kalo dipikir pake logika, orang yang gak punya keterampilan gak akan survive. Keterampilan itu bentuknya bisa apa saja, misalnya keterampilan membuat kerajinan tangan, membuat aneka kue dan makanan, maupun keahlian sesuai bidang pendidikannya (ahli dalam bidang hukum, ekonomi, kedokteran, teknik, dsb). Mengapa??? Karena kita gak akan tau kan, apa yang akan terjadi di masa depan nanti? Misalnya saja (naudzubillahi min dzalik), terjadi sesuatu dengan suami (sakit, meninggal, di-PHK, dll), si istri masih bisa “bekerja dan berkarya” sesuai keterampilan dan keahliannya tersebut.

Masalah istri yang ingin berkarir sampai sukses, itu persoalan lain. Asal tidak melupakan kewajiban dan kodratnya sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya, masih mampu membagi waktu antara karir dan keluarga, serta mendapat restu dari suaminya, sapa pikir sah-sah saja. Gak usah menggembar-gemborkan emansipasi wanita lah, pokoknya gak keluar dari jalur agama, silahkan dilakukan, kalo itu memang untuk kebaikan dirinya dan umat =)


Finally, go on! Jemputlah jodohmu! ^_^ 
Huaahh, kok jadi geli sendiri habis nulis kalimat di atas. Haha. Well, selamat menjemput jodoh ya teman-teman bagi yang masih jomblo, wkwkwk. Baik laki-laki maupun perempuan, saya tetep yakin tuh, kalo jodoh gak dijemput, juga gak akan datang. Entah “menjemputnya” dengan doa, harapan, kata-kata yang hanya tersirat dalam hati, atau berbagai usaha mati-matian mendapatkan si doi, pokoknya tetep kudu dijemput. Jemputlah seseorang yang namanya telah dituliskan Allah untukmu di Lauhul Mahfudz, di dalam kitab rahasia yang disimpan Allah dengan rapat-rapat di langitNya =)
sumber: google.com
Dan tetep inget ya, “laki-laki baik adalah untuk perempuan baik, dan laki-laki buruk untuk perempuan buruk!”

Mari menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, agar Allah memberikan jodoh yang terbaik pula untuk kita. Amin ya robbal ‘alamin… =)

Wassalamu'alaikum...

5 comments:

  1. Nice Story... Honey...

    Selamat Berjuang untuk menjadi wanita yang baik dan lebih baik dari hari ke hari, agar Allah menganugerahkan pasangan yang terbaik untuk kita. Amiin... Tengkyu.... ^_^

    ReplyDelete
  2. wuuuaaahh mbak krabby-pety yg abis ini nikah dan beranak reekk.. lgsg posting ttg nikah :))
    blognya bbbbaguuusss!!! kasih 4 jempol dah. :P

    ReplyDelete
  3. @Lutfa:amiiiiiiinn... semangaaaaatt!!!

    @Riski Putri: lho,kamu kok tau panggilanku Krabby Pety? haha...
    makasih ya... 10 jempol buat kamu juga :)

    ReplyDelete
  4. wahahahaha,,,,, blogxa kereeennn,,,!!! sepertixa sy semakin menCINTAI mu kawan...^_^

    "btw kapan nikah?” :P

    hyuuuukkk mariii kita minta restu dulu ma Sang maha PECINTA bwt menjemput jodoh kita masing2 dgn do'a n'harapan, Insya Allah Saat kita berniat BAIK dan meminta yang TERBAIK,
    itulah yang kan DIA beri... MERDEKAAA!!!! ^_^

    ReplyDelete
  5. @Afeena Khan: hehe makasih tante...saya juga makin cinta sama tante *semoga gak ada pembaca yg salah menafsirkan kalimat ini*

    merdekaaaaaaaaaa!!!!!!
    yuk mari berdoa & berusaha :)
    don't worry, kalo jodoh gak bakal lari kemana kok, iya kan? :)

    ReplyDelete