Resensi buku: “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH” karya Tere-Liye

, , 2 comments

Assalamu'alaikum

Novel ini “iseng” aku beli di Gramedia Plaza Surabaya (Delta Plaza) pas jalan-jalan bersama sahabat baikku, Lutfa Hasanah :D “Iseng” karena sebenarnya aku belum tahu mau beli buku apa waktu itu (dan ini yang bikin susah), karena akan memakan waktu yang lama muter-muter toko buku dan pengen beli banyak buku tapi kantong lagi tipis.
Awalnya pengen beli buku dari Ust. Salim A. Fillah yang terbaru, tapi stok lagi kosong (*agak heran karena di beberapa toko buku, seringkali buku yang aku cari stoknya kosong dan berakhir nyengir-mungkin karena best seller kali ya*). Aku inget aku sudah punya salah satu novelnya Tere-Liye di kos, jadi gak ada salahnya untuk nambah koleksi dari penulis tersebut. Akhirnya pilihanku jatuh pada (dan memang satu-satunya buku Tere-Liye yang stoknya masih ada disitu-ugh!) novel ini :) Sebelumnya, ada juga resensi novel Tere-Liye yang aku tulis yang berjudul Bidadari-bidadari Surga. Cekidot juga yah :)


Judul               : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis             : Tere-Liye
Penerbit           : Republika
Tempat terbit   : Jakarta
Tahun terbit     : Cetakan pertama November 2006, cetakan ketujuh April 2010
Tebal buku      : v + 246 halaman
Ukuran buku   : 20,5 x 13,5 cm


Karang, seorang pemuda gagah yang amat mencintai anak-anak. Semasa kecilnya sudah yatim piatu dan mempunyai kehidupan yang “kurang beruntung”. Tetapi Karang kecil mempunyai tekad yang amat kuat untuk menjadikan kehidupannya sendiri lebih baik. Setelah tumbuh menjadi pemuda yang pintar, dia menularkan “janji-janji kehidupan yang lebih baik” itu kepada anak-anak di sekitarnya yang kurang beruntung. Ia bersama teman-temannya mendirikan belasan taman bacaan, memberikan dongeng-dongeng ringan tapi sarat makna kepada anak-anak tersebut, hingga ada seorang anak bernama Qintan (6 tahun) yang dari lahir lumpuh-layu, akhirnya bisa berlari, hanya karena mendengarkan cerita Karang yang memotivasi.
Hingga suatu hari Karang merasa sangat terpukul dan bersalah karena kejadian tenggelamnya kapal yang dia naiki bersama anak-anak binaannya dalam rangka berwisata bersama. 18 anak meninggal dunia, termasuk Qintan yang meninggal dalam pelukannya. Walau di pengadilan Karang dinyatakan tidak bersalah, namun perasaan tertekan itu terus menggelayuti pikirannya hingga 3 tahun lamanya dia menghilang dari kehidupan sebelumnya, menjadi pemuda mabuk-mabukan, pergi malam, pulang dini hari, dan tidur sepanjang pagi hingga siang. Kehidupan yang “kacau” selama 3 tahun.
Suatu hari seorang istri keluarga Tuan HK yang kaya-raya, memiliki banyak perusahaan, dan baik hati (namun kurang beruntung) mendatangi Karang ke rumahnya (lebih tepatnya rumah ibu-ibu gendut, istri bapak-bapak yang dahulu sebelum meninggal sempat mengasuh Karang, menolongnya dari kehidupan jalanan dan menampung di rumahnya). Orang tersebut adalah Bunda.
Bunda meminta tolong dengan sangat agar Karang membantu putri semata wayangnya, Melati, yang berusia 6 tahun tapi buta, tuli, dan otomatis menjadi bisu, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Melati telah ditangani berpuluh-puluh dokter dan terapis dalam dan luar negeri, namun belum berhasil mengembalikannya ke kehidupan normal seperti anak seusianya. Bunda yang mengetahui tentang “track-record” Karang dalam menangani anak-anak, sangat berharap kondisi Melati bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Bagaimanakah cara Karang menangani Melati? Hambatan apa saja yang ditemuinya selama “mengajari” Melati? Apakah Melati yang buta, tuli, dan bisu, sehingga mempunyai temperamen yang sangat emosional, frustrasi, dan putus asa mampu ditaklukkan oleh Karang? Dan ternyata di rumah mewah milik Bunda dan Tuan HK, Karang bertemu kembali dengan sosok Kinasih, dengan jilbab berwarna lembut dan lesung pipi manis yang selalu diingat Karang. Siapakah Kinasih ini dan bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua?
Baca novelnya donk, hehe… Happy reading, all!

Ps: Novel ini terinspirasi dari kisah nyata mengharukan sepanjang sejarah dari Hellen Adams Keller (Alabama, 1880-1968). Keller terlahir dari ayah Kapten Arthur H. Keller dan ibu Kate Adams Keller. Ia sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli (sekaligus bisu), hingga usia 19 bulan ketika keterbatasan semua itu datang. Beruntung dia bertemu dengan seorang guru yang hebat, Anne Sullivan, yang mengajarinya “melihat, mendengar, dan merasakan” – dengan caranya sendiri – hingga dapat merubah hidupnya selamanya :D

Meski demikian, jangan khawatir. Para pembaca tak akan kehilangan "nyawa" novel ini, bahkan walaupun anda sudah pernah membaca biografi Keller maupun melihat filmnya. Penyusunan kalimat yang baik dan alur maju-mundur yang mudah dipahami, menjadi salah dua kelebihan novel ini :D

Wassalamu'alaikum

2 comments:

  1. siip... truslah menulis, ditunggu kunjungan balasannya he...:)

    ReplyDelete
  2. @mbak Icha: siiiiiiiiippp mbak, insya Allah...
    sudah saya kunjungi blog-nya, menarik! :D

    ReplyDelete