Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa aku mendambakan perjalanan ini selama 15 tahun terakhir dalam hidupku. Aku selalu bermimpi untuk terbang kembali ke belahan bumi timur Indonesia.
Ya, Papua.
Pertama (dan satu-satunya kepergian ke Papua saat itu) adalah ketika aku SMP. Berangkat naik kapal penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, berlayar dengan kepasrahan total apakah akan hidup atau mati di tengah samudera selama 7 hari 7 malam. Pulangnya naik pesawat Hercules, yang saat itu lazim untuk penerbangan awak sipil, mampir di Biak 1-2 malam entah untuk mengambil anggota TNI-AU atau loading barang penumpang, dan mendarat di bandara Iswahyudi Madiun.
Ya, Papua.
Pertama (dan satu-satunya kepergian ke Papua saat itu) adalah ketika aku SMP. Berangkat naik kapal penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, berlayar dengan kepasrahan total apakah akan hidup atau mati di tengah samudera selama 7 hari 7 malam. Pulangnya naik pesawat Hercules, yang saat itu lazim untuk penerbangan awak sipil, mampir di Biak 1-2 malam entah untuk mengambil anggota TNI-AU atau loading barang penumpang, dan mendarat di bandara Iswahyudi Madiun.