Jujur, perasaan saya campur aduk saat membayangkan akan jalan-jalan sendirian satu setengah hari berikutnya di pulau yang baru kali pertama saya injak, tanpa saudara tanpa teman. Mules-mules sedap. 

Sejak semalam sebelumnya, saya sudah sibuk selancar di internet penginapan murah di Ambon Kota, yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat dari Teluk Ambon tempat kami menginap saat itu. Saya yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi tertentu untuk mencari penginapan, sepenuhnya mengandalkan arahan dari google. Di laman pertama memang dipenuhi oleh situs ternama seperti pegipegi.com, traveloka.com, agoda.com, dan trivago.co.id. Mereka memang mengkhususkan diri untuk mencari, membandingkan, serta memesan tiket pesawat maupun hotel secara daring (online). Saya masuk ke situs-situs tersebut hanya untuk mengetahui harga penginapan serta review dari para pengunjungnya. Penting untuk melihat kondisi kamarnya juga. Enggan saja dapat hotel murah tapi ternyata malah tidak bisa tidur nyenyak setelah lelah seharian beraktivitas.

Prinsipnya, saya mencari harga penginapan di bawah Rp 200.000,-/malam. Tidak ada penganggaran khusus ketika merencanakan extend alias memperpanjang waktu bepergian di sana. Yang jelas, harus berhemat sedapat mungkin. Jika ada harga yang memenuhi budget, saya akan mencari alamat dan nomor teleponnya. Termasuk juga melihat melalui google map, dimana letak penginapannya dan dekat dengan lokasi wisata apa saja. Akan lebih bagus jika bisa dijangkau dengan jalan kaki. 

Saya menelepon beberapa penginapan murah. Beberapa mengangkat telepon dan beberapa tidak. Ada yang sudah cocok dengan lokasi dan kamarnya, ternyata harganya masih Rp 275.000,-/malam. Tentu itu terlalu mahal buat kantong. Akhirnya saya deal memesan Golden Inn seharga Rp 175.000,-/malam. Dan ternyata, harga termurah tersebut ada di lantai... enam! Tanpa lift! Wajib memastikan bahwa akan ada room boy yang akan membantu mengangkat koper saya seberat 10 kilogram setinggi enam lantai. Yah, walaupun tidak ada, toh akan tetap terpaksa mengangkat koper sendirian demi menghemat pengeluaran.

Pesan penginapan beres.

Saya dan teman-teman menyempatkan untuk singgah di toko besi putih, yang merupakan kerajinan khas Ambon. Selepas dari sana, saya diantar ke Golden Inn, calon penginapan yang saya pesan melalui telepon. Rupanya di Ambon pun banyak jalan satu arah, sehingga jika tampak dari toko tersebut ke penginapan hanya beberapa menit perjalanan menurut google map, menjadi berputar-putar dan agak lama. “Lorong Arab”, begitu pesan mbak resepsionis penginapan untuk memudahkan mencari daerahnya. Wow, terbetik di imajinasi, Lorong Arab adalah sederet kompleks tempat para ras Arab tinggal dan berwirausaha. Juga kuliner-kuliner Arab dan segala hal yang berbau sakral karena kearab-arabannya.

Kami melalui perempatan Tugu Trikora, lalu jalan-jalan padat kendaraan, Masjid Al-Fatah, dan... pelabuhan! Tertulis jelas Port of Ambon di sana. Saya mulai cemas karena google map masih menunjukkan jalan menuju gang-gang sempit penuh para lelaki yang menggotong barang ini itu, toko kayu gelondongan, toko kelontong kecil-kecil, mas-mas yang berkumpul duduk di depan toko sambil mengobrol santai, truk yang menurunkan dan memuat barang, dan para lelaki bertelanjang dada. Teman saya lima orang bergantian mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin didengar saat itu, seperti:
“Lho mbak, ini daerah apa?”, 
“Beneran mbak, penginapannya di sini?”, 
“Mana ya, kok belum sampai-sampai?”, 
“Ati-ati lho mbak, ini wilayah pelabuhan?”, 
“Jangan keluar sendirian kalau malam lho mbak. Pokoknya maksimal jam 9 malam harus sudah di penginapan lagi!”, 
“Yakin mbak, mau nginap di sini?”

Aaarrgghhh...

Pelabuhan Ambon
Sebelum mereka cemas, sebenarnya saya sudah cemas sendirian sejak semalam. Tapi tolong lah, jangan menambah kecemasan lagi berkali-kali lipat.

Akhirnya sampai juga kami di Golden Inn. Saya sendiri pun tidak menyangka bahwa Lorong Arab itu benar-benar menyerupai lorong beberapa lajur... tapi tanpa ada Arab-arabnya sama sekali! Konon memang dahulu wilayah itu dihuni oleh ras Arab beserta keturunannya. Sepertinya mirip wilayah Ampel-nya Surabaya. Tapi sekarang tidak lagi. Sudah bercampur baur dengan segala suku bangsa.

Saya menurunkan koper di depan penginapan yang lebih mirip ruko tujuh lantai dengan pintu besi yang cara membukanya digeser ke kanan dan kiri. Tarik nafas panjang, buang nafas, sambil berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ketika mata tertumbuk pada rak minuman di belakang resepsionis yang berjejer bir bintang dan minuman beralkohol, saya tidak tahu apakah akan baik-baik saja satu setengah hari ke depan atau tidak. Dengan senyum yang terpaksa dimanis-maniskan, saya melongok ke dalam mobil dan mengatakan kepada teman-teman bahwa memang ini penginapannya, sudah browsing, yakin aman, dan akan mempercayai intuisi yang datang. Jika merasa tidak aman, mencurigai sesuatu, atau melihat potensi bahaya, tentu akan segera ambil tindakan.

Setelah teman-teman pergi, saya dengan sok percaya diri menuju resepsionis. Mengatakan bahwa tadi pagi sudah menelepon dan booking kamar di lantai enam. Mencoba berlagak jadi traveler berpengalaman yang pemberani, padahal kaki dan hati sudah keder lebih dulu. Setelah membayar kamar, tiba-tiba ada telepon oleh salah seorang teman yang mengantar tadi, ibu-ibu. “Mbak Fatma, ini lho di dekat tugu ada penginapan yang lebih bagus. Jangan disana ah, ngeri!” Saya menjelaskan, ini penginapannya juga sudah bagus kok, bersih. Si ibu masih bersikeras, “Iya, tapi itu tadi lho, jalannya sempit, banyak orang laki-lakinya,saya khawatir ah Mbak! Pindah saja sudah, pindah Mbak!”

Aaarrrggghhh...

Berusaha mengabaikan kekhawatiran si ibu, saya bertekad untuk tetap menginap di sini saja. Untuk naik ke lantai enam, ada mas-mas staf hotel yang membantu membawakan koper. Saya memberinya tips atau uang lelah sekedarnya, dan dia menolak dengan malu-malu. Biasanya di hotel besar pun, room boy hampir tidak pernah menolak tips dari tamu. Ini masnya kok menolak dan cara memandang saya agak berbeda. Saya jadi parno sendiri.

Penampakan kamar Golden Inn. Bersih dan nyaman kok. Karena bangunan baru.
Kamar mandinya juga bersih dan modern. Cuma saya parno bayangin ada kamera tersembunyi yang siap ngintip :(
Lima belas menit kemudian, ada yang mengetuk kamar. Saya parno lagi. Tidak ada yang berkepentingan dengan saya langsung di pulau antah barantah ini. Tidak mungkin ada tamu pribadi. Saya tidak kenal satupun makhluk di kota. Toh kalau ada apa-apa, resepsionis bisa menelepon langsung dari bawah ke kamar. Saya membuka pintu, ternyata mbak staf hotel yang saya lihat di bawah tadi yang mengetuk. Dia bilang, apakah bisa meminta nomor ponsel saya. “Untuk apa?” tanya saya. Karena sejak booking penginapan, saya sudah memberikan nomor ponsel ke resepsionis. Dia bilang ini beda. Mas-room boy tadi yang meminta nomor ponsel. Saya kaget. Dengan sopan tapi menahan geram, saya menjelaskan bahwa nomor ponsel tamu tidak boleh diberikan ke sembarang orang dan saya tidak mau memberikannya karena bersifat privasi. “Oh begitu Mbak, ya sudah. Saya juga nggak tahu, masnya tadi pokoknya yang menyuruh saya untuk memintakan ke mbak. Masnya pengen kenalan sama mbak,” ujarnya polos.

Aaarrrggghhh...


Hari yang bikin deg-degan!
Jatah sarapan dari penginapan. Agak tidak manusiawi untuk perut. Sesuap langsung habis.
Makan malam cuma mampu beli indomie goreng telor ceplok 15 ribu. Nyesek tapi tetep nikmat.

(bersambung)
Ini surat ke sekian puluh yang aku tuliskan tentang kita//
Tentang dua orang sahabat/ yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun//
Soal bahagia/ sedih/ luka/ duka dan ketawa//
Tentang engkau yang menua/ IBU//
Dan aku yang mendewasa//
Dan dua sahabat itu/ adalah kita//


Aku teringat kemarin/ saat akan pergi bekerja//
Engkau menangkupkan kedua tanganmu menengadah ke atas//
Meminta Tuhan agar menjaga diriku//
Menjadikanku anak yang terus berguna bagi nusa/ bangsa dan agama//
Yang baaaanyak rizkinya/ luuuuas pengetahuannya/ dan baaaaik akhlaknya//

Aku selalu hampir ketawa ketika engkau menyebutkan doa seperti ini/ “Semoga engkau jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama”.
Kenapa aku ketawa? Karena aku ingat betul//
Doa itu/ adalah doa yang kau panjatkan/ sejak anak-anakmu ini masih kecil//
Terlalu kecil tentunya/ untuk tahu apa itu makna menjadi manusia yang berguna//
Yang ada kemudian/ dahulu aku selalu bertanya dalam hati: Seperti apa sih menjadi manusia yang berguna itu?
Apakah seperti dokter? Polisi? Presiden? Atau apa?
Kemudian aku menyerah untuk mencari jawabannya. Itu dulu//

Ibu/
Terima kasih telah menjadi wanita terhebatku//
Engkau telah memperjuangkan/ segala yang perlu diperjuangkan dalam hidupmu//
Hanya demi anak-anakmu//

Terima kasih telah mengizinkanku untuk menjelajahi dunia yang lebih luas//
Melihat Sumatera sampai Papua//
Menjelajah/ berenang/ mengunjungi museum/ bermain di pantai//
Berkenalan dengan orang-orang baru/ dari banyak suku dan agama//
Belajar tentang ilmu Tuhan yang amat luas/ dengan keterbukaan pikiran dan kerendahan hati//

Ingatkah suatu kali aku pernah bertanya padamu, ibu?
“Mengapa engkau tidak khawatir anak perempuanmu pergi jauh sendirian? Menjelajah kota dengan jalan kaki/ tidak tahu arah/ uang terbatas/ menyeberangi lautan/ kemungkinan jatuh dari pesawat/ kemungkinan disakiti orang asing/ dicopet/ dirampok/ dan segala hal yang mungkin terjadi ketika traveling?”
Jawabmu hanya singkat, “Kan ada Allah, Yang Maha Menjaga? Tidak ada sebaik-baik pelindung kecuali Allah.”
Dan jawaban itu sudah cukup bagiku//

Ternyata… Engkau ingin melatihku menjadi perempuan yang tangguh/ yang banyak pengalaman berharga selagi muda/ yang mampu mengatasi berbagai rintangan di jalan/ yang mandiri dan tidak menggantungkan hidup pada orang lain//

Ibu/ mungkin cara mengajimu/ membaca Alquran mu/ tidak lebih indah daripada teman-temanku/ bahkan mahasiswaku//
Namun engkau adalah salah satu orang dengan kepercayaan pada Tuhan yang paling tinggi/ yang pernah kukenal//
Mungkin memang kita pernah sekali dua kali berkeluh kesah tentang hidup//
Tentang takdir yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan//
Tapi kemudian di ujung kalimat/ engkau selalu menyadari dengan mengatakan, “Ah, tidak boleh mengeluh, Tuhan Maha Adil. Tuhan Maha Kaya. Tuhan Maha Pemurah.”

Ibu, pada usia ini//
Aku telah memiliki segaaaaala apa yang Tuhan ingin aku miliki saat ini//
Aku punya teman-teman yang baik/ mahasiswa-mahasiswi yang baik/ perpustakaan yang penuh buku, seperti impianku saat sekolah dulu/ pekerjaan yang baik/ penghasilan yang halal/ dan lingkungan yang baik pula.
Sedangkan apa yang belum aku miliki pada usia ini, seolah Tuhan berkata, “AKU memang belum menginginkanmu memiliki itu!”
Dan aku tidak berani menggugatnya.

Engkau selalu berkata, “Sabar, nduk. Cukuplah Allah bagi kita. Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu apa-apa.”
Kemudian tidak ada kata lain selain selalu bersyukur/ berbaik sangka/ dan berbuat kebajikan//

Ibu/ doakan aku menjadi wanita hebat sepertimu//
Yang teguh pendirian/ yang sedikit mengeluh/ yang selalu memikirkan nasib orang lain/ yang profesional dalam bekerja/ yang mencintai anak-anak dengan tulus//
Bukan hanya cinta yang lebih banyak/ tetapi cinta yang lebih baik//
Menjadi wanita yang mudah memaafkan/ yang tidak berkata kecuali yang benar/ yang kuat menghadapi segala ujian hidup/ sekeras apapun itu//

Doakan aku mewujud seperti doamu sejak kami kecil dulu: MENJADI WANITA YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA DAN AGAMA//
Menjadi orang yang berdampak luas pada masyarakat//
Doakan aku menjadi pendampingmu di surga/ seperti mimpimu selalu/ untuk dapat bersanding dengan Rasulullah kelak di sana///
=========================================================


nb: Proses penulisan puisi di atas berlangsung beberapa jam, menjelang hingga lewat tengah malam. Semalam sebelum aku bacakan di depan teman-teman dosen dan mahasiswa di rumah. Ditemani lagu Virgoun berjudul "Surat Cinta untuk Starla" yang aku putar berulang kali. Semakin dalam aku renungi liriknya, semakin menunjukkan betapa besar cinta seorang ayah (Virgoun) untuk anaknya (Starla). Dan ini menambah inspirasi sekali mengenai hubungan cinta antara orangtua dan anak.

Kutuliskan kenangan tentang… caraku menemukan dirimu.
Tentang apa yang membuatku mudah… berikan hatiku padamu.
Takkan habis sejuta lagu… untuk menceritakan cantikmu.
Kan teramat panjang puisi... tuk menyuratkan cinta ini.
"Biadab!" makiku dalam hati ketika mendengar kasus semacam ini, untuk kesekian kalinya.
Hatiku tercabik karena kejahatan kepada sesama manusia terus terjadi. Ketika kulihat sorot mata anak 5 tahun itu dan ibunya, yang kulihat hanyalah kepedihan tak terperi.
Dan ini, aku, di sini, harus melakukan sesuatu. Atas nama Tuhan yang Maha Memberi Kekuatan dan Kemampuan, aku berdoa untuk semua.
=====

Liburan semester akan segera berakhir. Tapi justru hati rasanya masih kebat-kebit dengan hal-hal yang menggelisahkan. Semakin kemari aku semakin menyadari bahwa tanggung jawab sosial setiap manusia jauuuuh jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Jika manusia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin (minimal untuk dirinya sendiri) di muka bumi ini, rasa-rasanya waktu harus selalu dimanfaatkan sebaik mungkin, bahkan setiap detiknya.

Kemudian ketika ada yang berkomentar, "Klien lagi... Klien lagi! Sibuk banget sih!" ingin rasanya kubejek-bejek orang itu. Seandainya ia tahu detail kasus yang sedang kami hadapi, mungkin ia dapat melihat segala sesuatunya lebih objektif. Tapi sayangnya, aku tidak selalu punya energi berlebih untuk menjelaskan satu per satu ke orang yang berbeda-beda. Apalagi jika berhubungan dengan profesi kami di Psikologi, setiap kasus sifatnya rahasia. Kalaupun perlu dibahas dalam ranah akademik sebagai pembelajaran, kami tidak dapat menginformasikan segala data personal klien.

Atau juga ada yang bilang, "Mumpung masih single ya mbak, jadi dipuas-puaskan kerja, jalan kesana kemari. Cari pengalaman, masih muda. Nanti kalau sudah berkeluarga kayak saya, susah deh mau kemana-mana."

Ah, jika saja mereka tahu. Bahwa doaku adalah, dalam kondisi apapun nanti, agar tetap diberi kekuatan, kemampuan membagi waktu dengan baik, tetap memberi manfaat seluas-luasnya kepada orang lain. Toh manusia tercipta adaptif dan fleksibel. Mampu menyesuaikan diri dengan situasi tanpa menjadi bebal.
Ah, jika saja mereka mau sejenak mengingat. Bahwa jangankan amal, tapi usia, harta, waktu, kondisi sehat, dan masa muda pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan kelak.
Ah, jika saja tidak ada seorang pun yang mendekonstruksi makna pernikahan menjadi sesuatu yang mengekang kebebasan, maka status apapun yang dimiliki tidak akan menghentikan untuk berbuat kebaikan.
Ah, jika saja orang nyinyir lebih banyak piknik dalam arti sebenarnya, mereka akan tahu bahwa dunia tidak hanya sesempit apa yang terlihat oleh kedua matanya. Menemui lebih banyak orang tanpa berusaha menilai, berbincang dari hati ke hati tanpa merasa paling benar, merasakan ditolong di negeri antah barantah oleh umat agama dan suku bangsa lain, mengamati kearifan setiap diri lawan bicara, dan berusaha untuk menjadi bijak tanpa menasihati atau menggurui. Hal ini benar adanya: Pikniklah! Yang jauh ya!

Begitulah, masih banyak "PR sosial" yang kami miliki. Dosen bukan sekedar pengajar di kelas dan kampus. Kami juga memiliki kewajiban pengabdian kepada masyarakat, sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Seringkali ketika kami menghadapi kasus-kasus yang urgent, tidak ada lagi yang bertanya, ini masuk poin di laporan BKD (Beban Kerja Dosen) gak ya? Ada bayarannya gak ya? Mengganggu waktuku gak ya? Ada manfaatnya buatku pribadi gak ya? Dll.

Karena yang terlintas kali pertama hanyalah: "BUDHAL! TANGANI!"

Siang ini aku berkesempatan menghadiri sebuah diskusi internasional bertajuk "Interfaith Tolerance in Thailand and Indonesia" di Universitas Darul Ulum, Jombang.

Sebetulnya bukan tema-ku banget. Hanya saja dengar kata 'interfaith', aku langsung teringat dengan kata-kata pak Maufur, temanku dosen. Beliau kapan hari ke Amerika dan besok September ke Oslo, Norwegia. Aku bilang ingin juga academic trip seperti itu, dan beliau mengatakan tidak harus dalam rangka penelitian kalau ke luar negeri, tapi juga bisa "sekedar" diskusi, misalnya tentang interfaith. Singkatnya, begitulah kenapa aku tertarik dengan judul seminar yang aku datangi ini, karena ada kata interfaith-nya. Semacam studi antaragama atau kepercayaan.
Haha demikianlah... alasan yang sepele.

Aku dulu sering berpikir bahwa diskusi yang dihadiri oleh orang dari multinegara akan terkesan wah dan sangar gitu. Ternyata... nggak sebegitunya kok. Hehe. Ini kebetulan hanya dihadiri oleh pembicara dari Chulalongkorn University Thailand dan kandidat doktor Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. Pembicaranya pun karena bukan native English, jadi bahasanya juga Thai-nglish dan Indo-nglish. Atau apalah namanya.

Satu hal yang aku pelajari dari forum semacam ini: bahwa aku pun suatu saat bisa juga bicara di forum internasional, bahkan mungkin lebih baik. Jika calon doktor saja masih sangat medhok dalam bicara bahasa Inggris tetapi berani tampil di depan publik, kenapa aku yang Jawa-nglish takut?

Jadi ingat satu kejadian lagi. Ketika salah satu saudaraku, bu Sirikit Syah, kuundang untuk menceritakan kisah inspiratifnya di Kediri dan mengatakan bahwa beliau dengan bekal bahasa Inggris yang medhok nya bisa keliling dunia dan tidak pernah ditertawakan oleh orang negara lain (malah dianggap lucu dan unik), maka aku pun semakin terpacu juga untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dalam hidup.

"Jika kita mungkin diremehkan atau ditertawakan ketika bicara bahasa Inggris di Indonesia karena aksen atau karena tepatah-patah, maka orang luar negeri justru lebih menghargai kita, kok. Mereka akan salut pada kita yang mau belajar bahasa internasional. Kalaupun tampak lucu, mereka menganggapnya sebagai keunikan, bukan kelemahan," begitu papar bu Sirikit. Nah.

Yuuuuk, semangat belajar!
Ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul sama sebelumnya, tentang mengapa alasanku tidak selalu membawa oleh-oleh ketika pergi. Tentang bagaimana situasi, kondisi, pikiran, dan perasaan memengaruhi pengambilan keputusan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan tentang, hidup kita yang tidak perlu selalu membahagiakan orang lain, jika membuatnya tidak sedih saja sudah cukup.

DIKIBULI TUKANG OJEK
Dari Pelabuhan Balohan-Sabang, aku dan dua temanku yang baru aku kenal dari Malaysia dan Padang, langsung mencari moda transportasi yang dapat mengantar kami kemana-mana secara fleksibel. Ojek ternyata yang paling memungkinkan.

Hal menjengkelkan dimulai ketika tukang ojek yang kunaiki awalnya meminta tarif 70 ribu untuk keliling seharian di Sabang, mengantar mencari penginapan, hingga besoknya dijemput kembali dari penginapan ke pelabuhan. Karena esok paginya jam 08.00 aku harus sudah kembali ke Banda Aceh untuk terbang pulang ke Surabaya. Muter-muternya sih enak, hanya terasa panas nyelekit semakin siang. Aku yang cuma memakai sandal jepit, sudah pasrah jika nanti punggung kaki, tangan, dan wajah gosong.

Namun ketika sudah sampai di Pantai Iboih yang mana berjajar penginapan, snorkeling and diving agencies, warung makan, dan pantai bening di sepanjang jalan, pak ojek mulai berulah. Kan aku bilang minta ditemani cari penginapan paling murah, di bawah 100 ribu/malam. Fasilitas minim tidak masalah, kamar mandi di luar tidak masalah, pakai kipas angin dan kamar sempit juga oke. Demi menghemat biaya tentunya. Eh, dia ngeyel menurunkan aku di tempat dia kongkalikong dengan pemilik penginapan setempat. Sebetulnya kalau dipikir secara jernih, wajar saja begitu. Dengan mengantar penumpang ke penginapan langganan, pak ojek mendapatkan komisi sejumlah tertentu dari pemilik karena dianggap sudah mempromosikan penginapan tersebut. Setelah balik kanan-kiri sambil dongkol, akhirnya aku menyerah dengan harga kamar 150 ribu/ malam. Dua kali lipat jauh lebih mahal daripada yang aku anggarkan.

Master Bungalow. Tempatku menginap di Sabang. Paling capek saat mengangkat koper berat melalui tangga sempit di sisi kiri bangunan itu menuju lantai 2. Sumber: google
Selasar lantai 2. Dimana aku menjumpai para penginap lain gegoleran tidur malam di selasar ini pakai tikar. Mungkin untuk menghemat duit kali ya, daripada membuka satu kamar lagi. Sedangkan teman mereka cewek-cewek bebarengan menginap di dalam kamar. Tampak seperti serombongan muda-mudi yang berlibur bersama. Untung daerah pantai ini cukup hangat ketika malam. Sumber: google.
Kamar seharga 150 ribu/malam. Jika untuk sendiri, kamar ini tergolong luas. Longgar untuk meletakkan barang-barang dan sholat. Tapi sayang, kamarku yang jendelanya menghadap ke belakang, tidak cukup baik aliran udaranya, jadi agak pengap dan gerah. Sumber: google
Aku minta harga antara 70-80 ribu/ malam sebetulnya juga tidak ngawur karena aku sudah selancar di internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Namun alasannya waktu itu cukup logis, yaitu saat aku ke sana hari Sabtu siang, merupakan liburan akhir pekan yang panjang. Yaitu Sabtu-Minggu-Senin. Sehingga hampir semua penginapan penuh.

Tidak sampai di situ. Pak ojek juga meminta bayaran lebih kepadaku. Memang sih, uangnya baru akan aku berikan esok hari ketika aku dijemput. Dijelaskan dengan logika yang aku sengaja bolak-balik, untuk ngeyel bahwa yang dia sampaikan tidak masuk akal dan mengingkari perjanjian di awal, sampai suara dia yang keras ikut meninggi, akhirnya aku terpaksa menyerah (lagi). Tarif 70 ribu menjadi 150 ribu. Dua kali lipat lebih dari perjanjian awal. Sebetulnya bukan hanya punya atau tidak punya uang, tapi aku tidak suka orang yang tidak fair di awal. Bilang murah, ternyata “nggepuk” di belakang. Lha sudah jelas-jelas aku beri gambaran rute yang akan dikunjungi, artinya sejak awal kan dia bisa mengira-ngira itu seberapa jauh, butuh bensin berapa, berapa jam perjalanan, dan tarifnya berapa. Jika kemudian tiba-tiba dia minta bayaran lebih, itu sangat amat menjengkelkan.

Mungkin kalian bayangkan mengeluarkan uang ekstra 150 ribu (tambahan anggaran ojek dan penginapan) itu termasuk sedikit. Tapi jangan salah, 150 ribu itu bisa untuk makan 5 kali ketika bepergian. Atau beli tiket kapal Banda Aceh-Sabang PP. Atau urunan 1x snorkeling ke tengah laut bebarengan. Intinya, anggaran harus diperhitungkan secermat mungkin. Karena kalau sampai kehabisan duit dan tidak mungkin minta orang rumah mengirimi uang, hanya satu jalan yang bisa dilakukan: pulang!

Bisa bayangkan, dalam kondisi emosi naik turun begitu, apakah aku masih bernafsu membeli oleh-oleh? Tentu tidak. Dan sekali lagi, tidak semua orang yang bepergian tujuannya membeli oleh-oleh :)

TERSENGAT UBUR-UBUR API
Ini kali pertama pengalamanku disengat ubur-ubur. Itu loh, hewan yang menggemaskan, transparan, tubuh lunak, dan berekor panjang yang tampak anggun jika berenang. Sebetulnya ada jenis ubur-ubur yang tidak menyengat juga, tapi kok ya rezekiku, di Pantai Iboih jam 5-6 sore sedang banyak-banyaknya ubur-ubur itu. Sampai di garis pantai terluar juga. Kata pasutri tempat aku menyewa peralatan snorkeling lengkap seharga 40 ribu, bulan-bulan itu memang ubur-ubur sedang banyak di pantai.

Jenis ubur-ubur ada banyak. Intinya, dia cantik tapi mengerikan!
Setelah tersengat beberapa kali di tangan dan kaki yang memang tidak berpelindung, dengan rasa seketika yang membuat kaget karena campuran antara panas, perih, dan sedikit gatal, maka aku memutuskan untuk menyudahi snorkeling. Oleh agen, tangan dan kakiku ditaburi dan sedikit digosok dengan gula pasir kasar. Katanya untuk menetralisir racun. Aku yang belum berpengalaman soal pergulaan, manut saja. Ketika berbilas, ternyata masih terasa sangat perih. Memang tidak tampak luka dari luar sama sekali, hanya agak bengkak, merah, dan temperatur kulit meningkat.

Tangan bergula
Malamnya, aku jalan kaki sendirian di pulau kecil paling ujung barat Indonesia ini dengan perasaan tak menentu. Ada bahagia yang membuncah, ada syukur yang melimpah, juga ada ketakutan akan keselamatan jiwaku karena aku tak mengenal seorang pun di sana.

Aku berjalan untuk mencari makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Ada beberapa orang yang masih hilir mudik menikmati malam, turis domestik maupun mancanegara. Di warung tempatku makan yang rasa masakannya seperti makanan padang, rupanya aku pengunjung terakhir. Makan dengan ditatap ibu-ibu penjual seolah berkata, “Ayo cepatlah selesaikan makan, aku sudah ngantuk!”.

Aku juga ke dermaga kecil untuk untuk melihat beberapa bulu babi, ikan bertubuh panjang, serta semacam teripang yang jelas terlihat dari atas saking jernihnya air. Sebetulnya aku ingin sedikit mendaki ke atas, melihat beberapa penginapan yang aku cari di internet, juga rekomendasi Nina Van Poll. Jika sendirian, aku disarankan ke Iboih Inn karena kadang ada pertunjukan musik akustik gratis di sana. “You can chilling out there!”, kata Nina. Tapi aku urung. Selain belum cukup berani untuk ke atas sendiri melewati anak tangga banyak, aku juga agak tidak enak badan.

Sesampai kembali ke penginapan, aku rebahan sejenak di kursi biru depan penginapan sambil menikmati sate gurita yang lezat. Aku memandang sekeliling yang gelap, menyimak beberapa tembang lawas dan country yang dimainkan beberapa pemusik dari penginapan sebelah. Mendengarkan desir air pantai, merasakan tangan dan suhu badanku yang menghangat karena tersengat ubur-ubur, serta berpikir berulang kali, “Apa yang sedang aku lakukan di sini? Apa sebenarnya yang aku cari? Berkelana sendirian di pulau asing. Bahagiakah aku? Pengalaman apa saja yang sudah aku dapat?” Dan pikiran lain yang berkecamuk dalam kantuk. Kemudian semuanya bermuara pada kesimpulan firman Tuhan, “Sesungguhnya Kami memberimu nikmat yang sangat banyak. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Lalu aku tersenyum dengan puas dan kembali ke kamar untuk istirahat. Aku merasa cukup dalam perjalananku. Aku tidak berpikir hal lain di luar petualangan ini. Apalagi berpikir membeli oleh-oleh.

Sabang, 45 menit naik kapal cepat dari Banda Aceh. Pulau paling barat Indonesia, diabadikan dalam lagu nasional "Dari Sabang sampai Merauke".
Akhir kata, terima kasih kepada yang tidak meminta oleh-oleh kepadaku ketika aku bepergian. Terima kasih juga kepada yang meminta oleh-oleh tapi tidak aku penuhi. Karena kalianlah, tulisan ini ada sebagai responnya.