Assalamu'alaikum

Haihaihai...
Senangnya pagi ini ada yang ngasih novel lagi, temen kuliahku. Katanya sih dia udah bosen sama novel-novelnya yang udah lama ada di kamarnya. Jadilah dia pendonor buku yang baik buatku, haha.
Ya kalo aku sih seneng-seneng aja dikasih buku gratis *ngek
Aku mulai belajar untuk senang membaca apapun, jadi setidaknya aku bisa nyambung kalo diajak ngobrol tentang penulis-penulis lain selain penulis favoritku atau yang biasa aku baca bukunya, misalnya Raditya Dika (teteuupp... disebutin nomer satu), Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Tere Liye, dan lain-lain.

Assalamu'alaikum

Cuma keinget, tanggal 7 Maret 2011 adalah malam di saat aku ber-chatting dengan Benakribo. Jeeng jeeng jeeenngg... *back sound: lagu Silet*
Haha mungkin ini postingan "ketika saya menggalau dan meng-ababil". Hal ini dikarenakan kayaknya dengan memposting ini, memori ketika malam itu SESUATU banget buatku. Tuuh kan, kalimatnya aja ababil *inget umuuuur doonkk*

Tapi suer deh, emang senenga banget beberapa bulan lalu itu bisa chat sama blogger keren kayak dia. Secara gitu loh, dari segi umur, dia lebih muda daripada aku, tapi udah aktif banget ngeblog *dan aku salut sama orang yang seneng nulis dan berbagi hal-hal bermanfaat buat banyak orang*. Selain itu, kok ya dia masih menyempatkan waktu buat membalas chat dari para penggemarnya ya?

Ini copy-an chatnya yang emang sengaja aku simpen *nah lho, ababil kuadrat*. Cekidot yah! :D

Assalamu'alaikum

Kemaren baru ngobrol sama mbak-mbak di PJB (PT. Pembangkitan Jawa Bali) dimana aku magang sekarang. Ada mbak Oki yang "menantang" nyanyi lagu jadul, yaitu judulnya Aku Anak Sehat. Haha aku bahkan baru ingat ada lagu itu... Untunglah aku lumayan hafal lagunya. Bagi yang lupa, ini nih:

Aku anak sehat
tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat

Semasa aku bayi
slalu diberi ASI
makanan bergizi
dan imunisasi

lanjutan dari Cinta Itu Kita, Rossa (eps.1)

Esoknya, mereka berpapasan di lift kantor. Kebetulan hanya mereka berdua di dalamnya. Sebenarnya Rossa selalu risih ketika harus berduaan dengan lelaki yang bukan keluarga atau kerabatnya. Tapi ia juga sadar tak mungkin memaksa satpam di depan lift ikut masuk bersama mereka.

“Hai”, Satria menyapa duluan.
“Hai”
How was your night? Sleep tight?” Tanya Satria serius.
“Halah, sarapan gombal nih pagi-pagi”, Rossa mencibir.
“Lho, aku kan tanya beneran, jangan dikira gombal donk!” Satria protes.
Jalan lift masih agak lama. Ruangan Rossa ada di lantai 8, sedangkan Satria di lantai 9.
“Eh, emang kenapa kamu dikasih nama “Rossa” sama orang tuamu?”

“Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu!”
Lelaki itu menghentikan makannya. Ia melihat gadis di depannya.
“Apa? “Sa”, maksudmu? Kamu tidak suka dipanggil “Sa”?
Gadis itu mengangguk. Meneruskan makannya.
“Kenapa?”
Gadis itu diam. Ia memainkan sumpit yang dipegangnya.
Bayangan itu berkelebat-kelebat di depan matanya. Jelas. Sejelas ia mengingat rasa sakitnya. Dulu. Dulu sekali.
“Seseorang pernah memanggilku dengan sebutan itu. Dulu”, jawabnya singkat.
“Seseorang? Haha… pasti laki-laki. Pacarmu?”
“Tak perlu bertanya atau pura-pura ingin tahu kalau kamu cuma pengen mengejekku, Mas!”, ketus ia menjawab, tetap tak memalingkan mukanya dari nasi kotak restoran fast food Jepang itu. Makanan favoritnya.
“Iya iya, sori. Aku gak bermaksud kok. Oke oke… aku gak akan memanggilmu dengan nama “Sa” lagi. Eh maaf, Ros-sa”, katanya mengeja nama Rossa, mencoba sedikit bercanda dengan mimik dilucu-lucukan.
Rossa tak mempedulikannya.