Terjemahan judul: Mengapa Aku Menjadi Dosen?

Januari 2014.

“Ndhuk, ning endi?” suara ibuk memecah keheningan melalui ponsel.
(Nak, dimana?)

“Ning nggone kancaku, buk. Perpustakaan. Enek apa?” jawabku.
(Di tempat temanku, buk. Perpustakaan. Ada apa?)

“Ngene lho. Sampeyan ditimbali ustadz Fulan. Dienteni saiki ning kampus. Isa?”. Pembicaraan khas ibuku yang to the point.
(Begini lho. Kamu dipanggil ustadz Fulan. Ditunggu sekarang di kampus. Bisa?)

Terjemahan judul: Penasaran dengan Penjual Ayam.

“Buk, ibuk sik eling enek wong dodol pitik ning njero kae, sing tak arani nggantheng?”, tanya saya pada ibuk, sesaat sebelum memasuki pintu pasar Setono Bethek Kediri.

“Sing endi to? Nggir endi?”, balas ibuk.

“Alah, sing ning jalur awake dewe biasa liwati kae. Rada pojokan. Wonge putih nggantheng, dhuwur, tegap. Eling to, buk?", jawab saya mendeskripsikan fisik sang penjual ayam.

“Oalah, kae to? Ho oh. Nyapo?”. Aku senang ibuk ingat.

Terjemahan judul: Tidak Bangga Disebut “Wanita Karir”
---

“Buk, aku kok ora bangga yo diarani dadi ‘wanita karir’?, kataku suatu ketika pada ibuku.
(Buk, aku kok tidak bangga ya disebut sebagai ‘wanita karir’?)

“Lha nyapo, Ndhuk?”
(Lha kenapa, Ndhuk?)

“Hmmm... Merga cita-citaku ket biyen pancen dudu dadi wanita karir kok. Aku luwih seneng lek wong liya mengidentifikasikan aku wanita sing lembut misale, wanita sing pangerten, setia, lan sak piturute.”
(Hmmm... Karena cita-citaku sejak dulu memang bukan menjadi wanita karir kok. Aku lebih senang jika orang lain mengidentifikasikan aku sebagai wanita yang lembut, misalnya, wanita yang pengertian, setia, dan sejenisnya.)

Aku tidak percaya bahwa sesuatu yang hebat akan datang dengan mudah.
Datang dengan tergesa, berkata cepat, terbuai, lalu pergi begitu saja.

Aku menaruh curiga pada sesuatu yang datang dengan tetiba.
Seolah tanpa perlu sebuah alasan, kemudian dapat bertahan selamanya.

Aku tak mengenyampingkan Dia yang membuat sesuatu mungkin dengan sangat mudah.
Yang tak perlu alasan mengapa dan bertanya bagaimana, tiba-tiba sudah ada di hadapan.

Terlalu banyak peristiwa untuk diceritakan.
Sejak posting terakhirku beberapa bulan yang lalu, aku menjalani hal-hal baru dalam hidupku.

Beberapa bulan ini aku berkunjung ke Kupang (untuk kali ke dua), Bontang (Kaltim), lalu ke Palembang (Sumsel), trus ke Palembang (lagi).
Setelah ini aku akan ke Semarang (Jateng) dan Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Semuanya untuk urusan pekerjaan.

Aku menjalani sebuah hubungan yang serius dan kupikir akan berakhir baik, ternyata tidak, walau kami mengakhirinya dengan sangat baik-baik.
Aku menjadi sadar (dan tidak sadar) bahwa harusnya memang masih ada rahasia tersembunyi dari Tuhan mengapa Ia menjadikan seperti ini.