Rating 2,5/5

Pernah nggak, beli buku cuma buat "biar punya aja"? Tidak didasari oleh keingintahuan besar pada isinya, atau minat pada karyanya, melainkan ya biar punya aja? Nah, ini buku yang saya beli karena alasan itu. Oya satu lagi alasan, agar saya dapat bonus kepingan CD yang bisa saya putar ketika perjalanan.

Jika saja bukan Fiersa Besari penulisnya, kemungkinan besar saya tak akan membelinya. Seri kedua dari Konspirasi Alam Semesta ini berjudul #11:11. Entah bagaimana membacanya. Sebelas titik dua sebelas? Sebelas sebelas? Sebelas adalah sebelas? Yang jelas, isinya memang sebelas cerpen dari si Bung penyanyi indie ini.
Sayangnya, kali ini saya harus memberikan rating rendah atas karyanya. Memang sejak buku Konspirasi, cerita yang diangkat adalah hal sederhana. Tidak ada sesuatu yang spesial dari diksi atau sudut pandang penceritaannya. Saya justru lebih suka buku #FiersaBesari yang Tapak Jejak. Yeah, traveling things. Sesuatu yang memang sudah dilakonya bertahun-tahun. Sehingga saya membacanya sambil membayangkan dia bercerita tentang perjalanannya sendiri keliling Indonesia.

11:11 isinya beragam. Ada soal cinta (tentu saja), metafor soal kecanggihan teknologi (ini paling absurd), keluarga, dan harapan. Jika harus memilih dua terbaik, cerpen berjudul Harapan dan Senja Bersayap yang cukup membuat saya merenung dan trenyuh. "Harapan" ini ide ceritanya mirip novel Guru Aini-nya Andrea Hirata. Tentang lulusan kampus yang harus mengabdi di pulau antah-berantah sebagai guru. Sedangkan "Senja Bersayap", tentang narapidana yang berkirim surat pada sebuah rumah yang bahkan ia tak tahu penerimanya siapa. Dua cerpen ini ditulis lebih baik daripada sembilan lainnya. 

Fiersa, bagaimanapun, saya menghargainya sebagai seorang seniman. Pemusik dan penulis buku. Dan layaknya beberapa penulis, tentu ada hal-hal dalam karyanya yang masih berlubang dan perlu ditambal di sana-sini :)
Senang sekali rasanya ketika diminta mbak @yunis_futihat untuk membedah buku karya teman2 @formadiksikip.iainkediri . Namanya panjang ya. Jadi ini adalah Forum Mahasiswa Bidik Misi - Kartu Indonesia Pintar - Kuliah.

Seprana-seprene saya menyukai buku, akhirnya ada yang ngundang juga untuk membicarakan hal yang saya sukai. Selama ini sih cuma jadi penonton acara bedah buku, baik di Surabaya maupun Kediri. Seolah saya baru sadar kembali: "hobimu akan membawamu ke suatu tempat. Walau belum jelas kapan, di mana, dan sama siapa".


Assalamu'alaikum

Wuaaah... Akhirnya dua novel yang sejak awal diumumkan agar membaca berurutan ini, tuntas sudah saya nikmati. Selena dan Nebula, buku ke-8 dan 9 dari penulis yang sangat produktif sepanjang tahun. Mari kita intip bagaimana isinya!

Kover novel Selena dan Nebula

Identitas buku 1:
Judul: Selena | Pengarang: Tere Liye | Co-author: Diena Yashinta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2020 | Tebal: 368 halaman | Harga: Rp 85.000,-

Identitas buku 2:
Judul: Nebula | Pengarang: Tere Liye | Co-author: Diena Yashinta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2020 | Tebal: 376 halaman | Harga: Rp 85.000,-

Dua novel ini pembahasannya tidak bisa saya pisahkan, karena ceritanya saling terkait. Berbeda dengan tujuh novel sebelumnya (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor) -yang semua sudah saya baca-, novel sekuel ini menurut saya yang paling menarik. Selain buku pertamanya, Bumi, tentu saja. Yang membuat saya terbelalak bahwa Bang Tere Liye ternyata bisa membuat novel fantasi yang kualitasnya tidak main-main.

Sesuai dengan judulnya, Selena adalah guru matematika Raib, Seli, dan Ali di sekolah. Setelah mengalami beberapa petualangan bersama antarklan, sungguh saya tidak menyangka bagaimana awal mula kehidupan Selena. Perempuan yang sering dipanggil Miss Keriting oleh ketiga muridnya ini, ternyata memiliki kisah yang tak kalah rumit di fase hidup sebelumnya.

Saya sangat terhubung dengan cerita bagaimana Selena kuliah di Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT), karena saya sendiri kebetulan pengajar di sebuah kampus yang tiap hari berinteraksi dengan mahasiswa. Rasanya meringis terus ketika membaca bagaimana para mahasiswa ikut seleksi masuk, berhasil lolos di kampus terbaik di Klan Bulan, lalu menjalani kehidupan kuliah penuh tugas, sesekali menggosipkan dosen, bersaing soal indeks prestasi, nongkrong di kantin, dan segala tetek bengeknya. Oleh karena itu, saya sangat terhanyut membaca kisahnya. Memang kurang lebih seperti itulah kehidupan kampus. Tapi ABTT ini versi orang-orang yang punya kekuatan, kecerdasan, telah hidup ratusan hingga ribuan tahun, dan setting tempat yang tidak biasa.

Cerita dimulai ketika Selena kehilangan ayah dan ibunya, dan terpaksa harus pindah kota untuk tinggal bersama om dan tantenya, Paman Raf dan Bibi Leh. Lengkap dengan kelima anak mereka, sepupu Selena. Untung bukan sinetron, sehingga Selena hidup dengan cukup nyaman walau harus ikut bekerja pamannya membangun lorong-lorong kereta bawah tanah. Hal ini di kemudian hari memegang peranan penting pada penemuan bakat Selena untuk mengamati hal di sekelilingnya dengan sangat jeli, meskipun itu hanya retakan tipis di dinding. Namun, entah baik atau buruk, di rumah ini jugalah Selena kali pertama didatangi Tamus. Saya baru mengerti hubungan mereka berdua yang diceritakan di novel-novel sebelumnya. Seperti guru dan murid, tapi dalam versi yang penuh teka-teki.

Hidup Selena di ABTT sudah spesial sejak pertama menginjakkan kaki di kampus itu. Apalagi setelah berteman dengan Tazk, mantan anggota boyband terkenal sekaligus cucu Panglima Tertinggi Pasukan Bayangan. Serta Mata, yang belakangan diketahui sebagai pewaris kekuatan dan keturunan murni dari Distrik Sungai-sungai Jauh.

Kedua novel ini memiliki alur maju-mundur. Sebenarnya settingnya adalah Selena yang sedang tertangkap di Klan Nebula sedang berusaha menghubungi Raib, Seli, dan Ali melalui alat komunikasi rahasia. Tapi karena Selena menceritakan dengan detail kisahnya selama di ABTT, sehingga seolah alurnya mundur ke masa lalu, saat ia berusia 16 tahun dan seterusnya.

Ketegangan paling saya rasakan ketika Selena harus mengikuti mata kuliah "Malam dan Misterinya" bersama Bibi Gill. Saya tidak bisa membayangkan harus mengadakan kuliah di tengah hutan sunyi, dimana mahasiswa dibekali semacam GPS untuk menuju tempat itu. Tak heran, hanya Selena yang spesial lah yang berhasil sampai di tempat kuliah. Adegan simulasi bertarung dengan robot juga paling mengerikan. Mereka harus bertahan hidup bagaimanapun caranya, tanpa bisa meminta bantuan pada orang lain. Karena di ruangan itu hanya ada Selena, Tazk, Mata, dan sebuah drone yang hanya mengikuti perintah tuannya.


Sedangkan di novel Nebula, meceritakan ketiga mahasiswa ABTT itu sudah sampai di tingkat akhir dan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Distrik Sungai-sungai Jauh. Selena yang telah mendapat mandat dari Tamus untuk mencari tahu isi perkamen tua yang ternyata petunjuk portal menuju Klan Nebula, akhirnya berbagi kisah dengan Tazk dan Mata. Ia yang kritis dan cerdas, tidak memberikan informasi sebenarnya kepada Tamus. Ia justru menjadi penasaran sendiri untuk memecahkan semua sandi berupa puisi itu. Selena menjadi sangat termotivasi untuk berkelana ke klan-klan lain, sesuatu yang juga baru disadarinya bahwa itu ada.

Namun, tentu perjalanan mereka tidaklah mudah. Ketika sampai di tempat KKN dan punya waktu santai sebelum kembali ke ABTT, Selena, Tazk, dan Mata, berusaha mencari portal Klan Nebula sendiri. Setelah sampai di sana, saya tidak mengira juga, ternyata ada satu kampung berisi penduduk yang hidup sederhana. Klan ini mempunyai riwayat panjang hingga sampai di tempat itu. Menilik dari kisah mereka yang berasal dari Klan Aldebaran, saya kok menduga akan ada judul lain dari serial ini berjudul "Aldebaran". Hehehe.

Kehadiran Selena, Tazk, dan Mata, ternyata justru membuat kekacauan tersendiri hingga membebaskan ratusan raksasa yang selama ini telah dikunci di dinding Klan Nebula. Ambisi Selena untuk mendapatkan Cawan Keabadian, ditambah dengan kecemburuan karena Tazk ternyata tidak menyukainya, membuat Selena gegabah. Ia mengulang pertarungan sengit 40.000 tahun lalu antara Klan Aldebaran dan raksasa. Tamus yang sangat kuat pun tidak mampu memenangkan pertandingan. Singkat cerita, mereka bertiga berhasil keluar dari Klan Nebula menuju Klan Bumi. Tazk dan Mata menikah, dan lahirlah Raib.

Bagaimanapun, cerita belum usai. Selena masih ditahan oleh Lumpu. Nah, tokoh baru lagi, bukan? Siapakah dia? Bagaimana kisah Raib, Seli, dan Ali selanjutnya setelah mendengar kabar dari Selena? Apa yang akan mereka lakukan?

Menurut saya, kedua novel ini memberi kebaruan pada kisah-kisah sebelumnya. Seri terdahulu yang penuh dengan perjalanan antarklan, kali ini sedikit istirahat dengan fokus menceritakan kehidupan Selena di ABTT. Sedangkan di Klan Nebula, tokoh kunci yang sedikit juga membuatnya fokus bercerita tentang sebab-akibat terjadinya sesuatu.

Oya, novel ini cocok untuk semua usia. Aman dikonsumsi oleh anak-anak, remaja, dan dewasa. Bahasanya juga sederhana. Seringkali diselingi dengan adegan dan dialog lucu, sehingga tidak membosankan.

Meski novel ini ditulis bersama dengan co-author bernama Mbak Diena Yashinta, tapi rasa bahasa Bang Tere Liye masih kental. Sebetulnya saya penasaran juga, bagaimana cara pembagian kerja antara dua orang dalam menulis sebuah novel yang utuh.

Jujur, kadang saya agak ragu membaca lanjutan serial ini karena kok tidak selesai-selesai setelah bertahun-tahun. Tapi begitu membacanya, saya jadi suka lagi. Ah, inikah yang dinamakan ragu tapi penasaran? Hehe.

Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum

Untuk mahasiswa mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi semester 3, silakan mencermati tugas berikut dan mengerjakan sesuai dengan instruksi. Keterangan lebih lengkap telah kita bahas lebih mendalam di dalam kelas.

1
2
3
4
5
6
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum.


Assalamu'alaikum

Berikut adalah tugas Psikologi Perkembangan untuk mahasiswa semester 2, Prodi Psikologi Islam, STAIN Kediri. Silakan membaca dengan cermat dan mengumpulkan hasilnya sesuai tenggat waktu yang telah saya informasikan melalui ketua kelas.

PANDUAN OBSERVASI DAN WAWANCARA “MASA BAYI”



TUJUAN KEGIATAN:

  • Mahasiswa memahami teori tentang perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosi masa bayi.
  • Mahasiswa terampil melakukan wawancara dan observasi sederhana kepada subjek yang relevan.
  • Mahasiswa mampu mempresentasikan hasil wawancara dan observasi lapangan ke dalam laporan yang komunikatif, atraktif, dan komprehensif.

TUGAS:

  1. Carilah satu orang subjek bayi usia 0 – 2 tahun beserta orangtua dan atau significant others-nya (orang yang hadir secara signifikan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam hidupnya, seperti kakek-nenek, pengasuh, dll).
  2. Lakukanlah observasi terhadap bayi dan wawancara kepada orangtua/ significant others-nya berdasarkan panduan berikut. Boleh menambahkan aspek lain yang penting/ dianggap menarik dalam temuan data lapangan.
  3. Tuliskan/ gambarkan hasilnya dalam bentuk poster di kertas plano (kertas coklat besar) sekomprehensif dan sekreatif mungkin. Boleh dengan menempel-nempel informasi, foto, bagan, tabel, ataupun dituliskan langsung di kertas. Mata subjek ditutup untuk melindungi identitas.
  4. Beri keterangan di poster: nama mahasiswa, NIM, kelas.
  5. Pengumpulan tugas sesuai kelas asli (Selasa 26-3-2019 atau Kamis 28-3-2019) di ruang dosen gedung baru.

ASPEK YANG DIOBSERVASI DAN DIWAWANCARA:
Untuk dapat menggali informasi berikut, silakan baca ulang terlebih dahulu seluruh teori pada Masa Bayi. Keliru dalam memahami, mengamati, dan menanyakan, akan keliru pula dalam menyimpulkan data penelitian.

ASPEK FISIK

  1. Bagaimana kondisi kehamilan ibu dan janin dahulu? Adakah hal tertentu yang ternyata berpengaruh pada kehidupan janin sebelum dan setelah dilahirkan?
  2. Bagaimana proses melahirkan si bayi dahulu? Normal/ caesar, proses pembukaan 1-10, adakah kontraksi, dll?
  3. Bagaimana perkembangan fisik bayi hingga saat ini? (jika boleh, pinjam kartu Posyandu yang merekam data kesehatan dan pertumbuhan fisik bayi: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, sakit yang diderita, dll)
  4. Bagaimana perkembangan motoriknya? (gerak refleks, motorik kasar, motorik halus)
  5. Bagaimana perkembangan sensasi dan persepsinya? (berkaitan dengan panca indera. Lakukan percobaan dengan alat-alat inderanya)
  6. Bagaimana pemenuhan Tugas-tugas Perkembangan pada masa bayi? Klik laman https://id.theasianparent.com/perkembangan-bayi/ dan cari milestone usia yang sesuai dengan subjekmu. Idealnya, ketika bayi mampu melakukan tugas-tugas di usia tertentu, tugas-tugas di usia sebelumnya juga sudah menguasai.

ASPEK KOGNITIF

  1. Bagaimana perkembangan kognitif Tahap Sensorimotor menurut teori Piaget? Apakah benar teori itu jika dilihat dari subjekmu?
  2. Bagaimana kemampuan atensi, mengingat, meniru, dan kategorisasi pada subjek? Lakukan percobaan sederhana untuk memastikan.
  3. Bagaimana perkembangan bahasanya?

ASPEK SOSIOEMOSI

  1. Bagaimana perkembangan emosi, temperamen, dan kepribadiannya?
  2. Bagaimana gaya pengasuhan dan kelekatan bayi dan orangtua/ significant others?
  3. Gambarkan konteks sosial bayi saat ini! Bagaimana dinamika keluarga, tetangga dekat, orang-orang yang berinteraksi dengan subjek? Bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangannya?

Terima kasih.



Satu kata untuk menggambarkan keseluruhan film ini: E K S O T I S!
Mungkin ini adalah film superhero-science-fiction-action terbaik yang pernah aku tonton. Salah satu mahakarya Marvel Studios yang amat sayang dilewatkan para penikmat film. Rating 5/5

Mengangkat isu soal jagoan super berkulit hitam dari negeri antah barantah bernama Wakanda, yang tersembunyi di benua Afrika. Narasi di awal sangat membantu penonton seperti aku yang tidak selalu runtut mengikuti cerita sebelumnya. Yeah, Black Panther adalah salah satu jebolan tim Captain Amerika sekuel Civil War, yang bahkan dulu tidak sempat aku perhatikan keistimewaannya.

Dilan, rindu kamu masih berat nggak?
Eh maksudku, jadi wanita memang berat, Dilan.

Wanita bekerja dibilang tidak mengutamakan keluarga, wanita di rumah dikatakan "kok enak banget gak ngapa2in di rumah?"
Sampai aku kepikiran lebih baik kerja Daud. Kayak puasa Daud gitu. Jadi sehari kerja, sehari enggak.
Biar celaannya pada wanita bisa paripurna.
Sehari dicela oleh pro ibu bekerja, sehari dicela oleh pro ibu rumah tangga.
Gitu terus sampai kiamat.

Anaknya kurus dibilang "kok kurus banget? Gak dikasih makan bergizi ya?"
Anaknya gendut dibilang "ih jangan gendut2 loh, nanti penyakitan."
Oalah Lan... Dilan.
Mana ada ibu yang gak memperhatikan makanan anaknya.

Wanita LDR dengan suaminya dibicarakan di belakang, "kok mau sih jauh2an sama suami? Gak enak banget pernikahannya."
Wanita serumah terus sama suami dibilang, "pasti sering tengkar tuh kalau tiap hari ketemu."
Nganu, Lan. Kayaknya orang2 itu kurang piknik.
Mbok sesekali dilihat, itu ibu2 LDR tiap hari gedebukan ngurusi rumah sendiri, anak2 sendiri, memastikan anak2 sehat, menguat2kan diri biar gak sakit, mengatasi masalah tanpa masalah, eh tetep aja digosipin.

Sampai yang paling aneh adalah ketika sambang bayi yang baru dilahirkan, muncullah kalimat bak petugas sensus penduduk, "wah, anaknya cewek semua ya, bikin lagi lah satu cowok."
Atau "masih satu ya, tambah lagi dong 2 anak biar rame."
Atau tiba2 kayak petugas KB, "ibu anaknya banyak banget. Udah lima. Stop stop!"
Jadi, Dilan...
Punya anak tunggal salah. Anak 2 cowok semua juga salah. Anak 3 cewek semua juga salah. Anak banyak juga salah. Belum punya anak juga salah.

Yang paling parah adalah...
Temannya teman kemarin cerita, ketika keluarga kecilnya belum memiliki keturunan, ada ceploooosss gitu yang tanya, "yang mandul sebenernya kamu atau suami?"
Helloooowhhh!
Coba tanya Milea nanti kalau udah gak jadi ABG labil lagi, gimana perasaan wanita itu.
Mungkin kayak luka, ditaburi garam, dikucuri air jeruk nipis, disayat2 pakai silet.

Sekali lagi,
JANGAN JADI WANITA, Dilan. Itu berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja.

Lagian, ngapain kamu harus jadi wanita ya?

#dilan #wanita #strong
Rating 4/5.


sumber: google.com
Buku ini kali pertama terbit tahun 2007 di New York dan cetakan pertama Indonesia tahun 2012. Aku nemu buku ini di obralan Gramedia beberapa bulan lalu, juga di bazar buku GNI seharga 35rb. Murah sekali untuk ukuran buku 543 halaman. Sering aku kepo, kenapa Mizan kerap kali mengobral bukunya. Padahal bagus2.

Karya ini merupakan novel bergambar. Jadi tulisannya sendiri kira2 hanya sepertiga bagiannya. Selebihnya berupa goresan tangan Brian Selznick, penulis sekaligus ilustrator buku ini sendiri. Jarang lho ya, orang terampil menulis sekaligus bisa menggambar manual dengan rapi dan apik.

Aku yang sebetulnya antipati terhadap buku terjemahan (beberapa kali mencoba baca dan menyerah di tengah jalan karena bahasanya-yang-enggak-banget), kali ini harus mengacungi jempol untuk Selznick dan penerjemahya.

Bercerita tentang Hugo Cabret, bocah cilik lelaki yang hidup di Paris dengan setting tahun 1931. Rupanya novel ini diangkat dari kisah nyata.
Cabret menemukan sebuah mesin berbentuk manusia yang sedang menulis, di reruntuhan museum tempat ayahnya dahulu bekerja. Sedangkan ayahnya sendiri tewas ketika museum itu terbakar, entah karena sebab apa.

Hugo Cabret yang mewarisi keterampilan ayah dan pamannya dalam hal mengutak-atik mesin dan bertugas menjaga seluruh jam di stasiun agar tetap berjalan tepat waktu, sangat tertarik dengan mesin itu. Ia berusaha membetulkan setiap inchi mesin manusia tersebut dengan barang2 yang dicurinya dari sebuah toko mainan di stasiun. Iya, Cabret adalah bocah penuh penasaran sekaligus pencuri ulung.

Yang tidak disadari Cabret, ternyata mesin misterius itu menyimpan rahasia besar masa lalu tentang seseorang yang kini telah menua. Masa lalu yang sangat ingin dilupakan.

Yang jelas, buku ini cukup aman dibaca bahkan untuk anak SD. Bahasa dan alurnya sederhana, konfliknya proporsional dan ada pesan moral manis di akhirnya. Gambar yang disuguhkan membantu anak berimajinasi mengenai penokohan dan jalan cerita.

Yuk, kita bantu anak2 menyenangi buku!
Tangerang Selatan & Kediri berjarak tak kurang dari 700 km.
Perpisahan resmi kita dimulai sejak sehari setelah pernikahanmu, mbak, ketika ibu mendudukkanmu & mas di meja makan, sembari menunggu travel yang mengantar kalian ke Surabaya, utk lanjut ke perantauan.

Tidak mungkin aku lupa bagaimana pesan terakhir ibu sebelum melepasmu ke tangan mas selamanya.
"Ndhuk, aku ridhai pernikahan kalian. Semoga diberkahi Allah, dimudahkan dalam segala urusan, dituntun dlm setiap langkah & dikaruniai anak2 shaleh shalehah.
Ibuk gak bisa ngasih kalian harta benda apa2 sebagai sangu, hanya bekal ilmu yang cukup & doa yang akan selalu menemani kemanapun kalian pergi.
Mas Yudho, titip Rahma. Jaga dia, bimbing dia. Ingatkan kalau dia salah. Tolong jangan pernah sakiti hatinya, apalagi fisiknya.
Rahma anaknya perasa. Mungkin dia tidak akan bicara banyak, tapi kadang2 air matanya menetes begitu saja kalau hatinya sedang resah. Tanyai dia, ada apa."

Kalimat selanjutnya sudah tak sanggup aku dengar krn bendungan air mataku nyaris jebol.
Di titik dimana kau bukan milik kami lagi sepenuhnya, tapi milik suami & keluarganya juga.

Ibuk sering juga berkata padaku, "Ndhuk, ibuk gak bisa kasih contoh bagaimana melayani suami yg baik, krn bapakmu sudah lama tiada."

Lalu aku diam2 memperhatikanmu mbak, bagaimana kau melayani suamimu.
Kau hampir tidak pernah makan malam dulu sebelum suamimu pulang, kecuali jika terpaksa sekali atau sedang hamil.
Kau selalu bangun paling pagi utk menyiapkan sarapan bagi suami & anakmu, Zafran. Kau pisahkan kotak bekal untuk dibawa ke kantor & sekolahnya.
Padahal pekerjaanmu sebagai dosen juga menuntut untuk masuk pagi pulang sore. Sesekali bertugas ke luar kota, mengantar mahasiswa studi ke Singapura, presentasi hasil riset ke Thailand dan Vietnam, survey lokasi ke Kepulauan Seribu, dll.

Apalagi kini bertambah kehadiran si kecil, Gibran, yang menuntut perhatian lebih.
Belum lagi urusan asisten rumah tangga yang perlu disiapkan sebelum cutimu habis, serta suami yang akan sekolah di sini & Jepang.

Menariknya hidup ya, selalu penuh tantangan & kejutan.
Dan kita bisa, karena selalu terpaut dalam untaian doa.

Selamat ulang tahun ❤❤❤
Rating 4/5

Raditya Dika kembali menelurkan karya terbaru pada 1 Februari 2018. Sesuatu yang telah lama aku tunggu di tengah kesibukannya menyutradarai film layar lebar, syuting youtube, membintangi iklan, mengisi workshop menulis, standup comedy, memersiapkan pernikahan dan sederet aktifitas lain.



Buku ini masih sama seperti semua buku sebelumnya, yaitu kumpulan cerita sehari2 Radit. Bedanya, ketika buku pertama Kambing Jantan dulu berisi murni kisah hidupnya yang masih kocak dan random, buku ini menceritakan posisi Radit yang sudah menjadi "selebriti, seniman" seperti sekarang.

Aku yang mengikuti perjalanan hidupnya dan membaca seluruh bukunya, merasa betul ada pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam dirinya. Aku selalu yakin bahwa orang yang sukses dari bawah, akan tetap bisa rendah hati meskipun kini ia telah memiliki penghasilan milyaran (mungkin?) dan hidup di tengah2 bisnis yang gemerlap.

Buku ini antara lain berisi tentang pertemuan dan perpisahannya dengan Kathu, mantan tetangga dari India; tentang orang2 yang tetap dan berubah setelah sekian tahun; tentang patah hati kecil; tentang percakapan dengan Prilly Latuconsina, aktris yang tengah naik daun; tentang nostalgia pada seorang nenek di Jepang; tentang rasanya menjadi orang terkenal; dan tentang ia yang akhirnya percaya hantu setelah syuting film Hangout.

Awalnya aku skeptis dengan buku tipis yang mahal ini (231 hal, 66 ribu), apakah masih tetap komedik. Ternyata sampai tengah2, aku tetap bisa tersenyum dan menangis sekaligus. Radit tetap jadi orang jujur yang menulis dari hati. Tulisan dari hati akan sampai ke hati juga.

Bacaan ini cocok dilahap sekali duduk. Aku membacanya 4 jam di dalam kereta Kdr-Jkt.
Buku ini juga inspiratif. Sepertinya aku menemukan gol baru untuk diraih tahun ini.
Sweet book, Radit!
Dilan, apa kamu tahu hal yang lebih berat daripada merindui Milea?
Menjadi wanita, Dilan.
Iya, menjadi wanita.


Wanita itu harus tangguh dari hari ke hari.
Harus bisa menjalani hidup mandiri.
Harus berjuang sendiri, jika seluruh dunia berbalik menyerangnya.

Nggak boleh capek,
Boro-boro lengah,
Apalagi payah.

Kudu kuat, tahan banting, juga cantik.
Tetap berperangai lembut, berwibawa nan bersahaja.

Dilan, setiap bagian tubuh wanita itu bisa menjadi fitnah.
Jangankan wanita berpakaian seronok. Milea yang kamu lihat cuma jalan kaki menuju sekolah saja bisa merebut perhatianmu. Ya mungkin rambut panjangnya memang indah sih. Badannya bagus, betisnya mulus, juga parasnya menawan.

Tapi aku sungguh pernah melihat temanku yang berhijab tertutup mulai atas sampai kaus kaki, disuitin dan digoda oleh lelaki ketika ia melintas di hadapan mereka.

Bukan hanya wanita dewasa, tapi juga anak2 perempuan jadi korban.
Tetangga desaku belasan orang disetubuhi kawan remaja lelakinya tanpa bisa melawan dan takut melapor.
Tadinya aku geram. Tapi diagnosis psikiater, ia kelebihan hormon seksual, hingga harus dipondokkan dan minum obat untuk mengendalikan birahinya.

Dilan, teman2ku juga baru saja menangani kasus seorang guru tua lelaki yang menggerayangi payudara dan kemaluan belasan murid2 perempuan SD nya di kelas, di hadapan murid lainnya.
Ia memang akhirnya dipecat, tapi para gadis cilik tak berdaya itu kadung terluka.

Menjadi wanita itu berat, Dilan.
Cara bayi keluar dari alat kemaluannya pun diatur dalam undang2 tak tertulis masyarakat.
Melahirkan normal dianggap lebih heroik daripada cesar.
Padahal yang bisa merasakan perihnya perut dibelek atau vagina dijahit itu ya cuma wanita itu sendiri.

Cara air keluar dari susunya pun dibahas dan diperdebatkan. Anak ASI melulu lebih hebat daripada anak susu formula.
Sampai aku menjadi saksi mata saudaraku nyaris baby blues karena air susunya tak kunjung keluar dan bayinya menangis meraung. Hati siapa tak teriris?
Makanya lalu ada ibu baru melahirkan bayi merah lalu bunuh diri bersama2 karena tekanan sekitar.

JANGAN JADI WANITA, Dilan. Itu berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.

Rating 4/5.

Ini buku @andreahirata__ pertama yang kubaca tuntas. Dulu sempat membaca beberapa halaman Laskar Pelangi dan urung melanjutkan karena sudah keduluan nonton filmnya. Apalagi setelah itu Sang Pemimpi dan Edensor juga rilis di bioskop.

Novel dengan tiga alur yang berbeda, yang membuat bingung di awal. Baru setelah halaman 80an ke atas, aku mulai bisa menikmati pelintiran-pelintiran plotnya. Antara plot Tara dan Tegar, plot Hob dan Instalatur Suruhudin, juga plot si pohon delima.

Aku rasa, Andrea menabrak banyak sekali tatanan EYD dan tata tulis baku bahasa Indonesia. Banyak kata berulang dalam satu kalimat, pemisahan dan penggabungan kata yang semena-mena, juga penempatan tanda baca seenak jidat. Tapi justru itu yang membuat menarik. Rasa bahasa yang berbeda dari novel kebanyakan.

Sirkus Pohon cerita soal fenomena yang umum terjadi (bersetting di tanah Melayu) dengan analogi sebuah sirkus. Walau juga ada cerita tentang pertunjukan sirkus betulan juga di dalamnya. Bagaimana Tuhan membuat rencana-rencana rahasia yang sulit dipahami manusia, yang kalau dipikir-pikir mirip sirkus: unik, tak terduga, bikin deg-degan, dan terkadang berakhir manis ataupun pahit. Suka-suka sutradaranya.

Secara umum aku bisa menikmati buku ini dan mengakui kepiawaian Andrea dalam mengolah kata.

Btw, Museum Kata Andrea Hirata di Belitung bagus loh. Pariwisata Belitung moncer sejak Laskar Pelangi booming. Bukunya telah diterjemahkan dalam 40 bahasa dan diedarkan ke 130 negara. Aku sudah jatuh cinta duluan dengan sosok Andrea sebelum membaca karyanya. Ahey!

Rating 4/5.

Buku pertama Leila S. Chudori yang kubaca. Pasti setelah ini kupertimbangkan untuk membaca novelnya yang lain berjudul Pulang.

Sejak tahu Leila adalah wartawati majalah berita Tempo dari 1989 hingga sekarang, sudah kuduga sosok Nadira yang menjadi sentral cerita ini tak jauh2 dari kehidupan asli dia. Leila yang pernah kuliah di Victoria, Kanada, barang tentu fasih sekali menceritakan detail seting di sana. Juga soal suka duka menjadi reporter dan kehidupan jurnalistik Indonesia.

Membaca novel ini seolah suram sekali. Gelap, sedih, getir, dan penuh teka-teki. Entah kenapa kecepatan membacaku menurun. Mungkin spasi antar baris yang lebih rapat, atau alur yang butuh dicerna lebih baik.

Aku membayangkan Leila membuat plot maju-mundur dengan repot sekali. Tokohnya banyak. Alurnya banyak. Setiap tokoh tak luput dari pendeskripsian yang unik mengenai sebab-akibat dari suatu kejadian.

Ada alur soal Kemala dan Bram tahun 1963, lalu meloncat ke alur ketika Kemala mati bunuh diri tahun 1991, kemudian tahun 1974 ketika Arya, Nina dan Nadira masuk masa remaja, hingga tahun 2011 yang menjadi pungkasan cerita.

Tokoh Utara Bayu sang pimred majalah Tera, Tito sang konglomerat, Niko Yuliar sang aktivis dan penyair, Gilang Sukma si koreografer dan Satimin si office boy turut diceritakan dengan menarik.

Secara psikologis, novel ini membantu pembaca untuk menyadari bahwa tidak ada penyebab tunggal dari suatu kejadian. Ada benang ruwet di belakang kisah masing2 orang yang saling berkait dan menyumbang munculnya sebuah pemikiran, perasaan dan perbuatan tertentu. Apakah akhirnya Nadira tahu alasan ibunya memutuskan mengakhiri hidup?

Mbak Leila, you made it!
Selasa, 14 Maret 2017.

Selepas shalat Dhuhur jam 14.00 WIT, perut saya keroncongan. Sebetulnya sudah ngantuk dan lelah dengan senam jantung soal penginapan yang ternyata terletak di Lorong Arab, sebuah gang sempit yang tidak kearab-araban sama sekali di Ambon, Maluku. Namun waktu menuju senja masih panjang. Rugi rasanya jika hanya dihabiskan untuk tidur di penginapan.

Dengan menahan rasa kantuk dan membulatkan tekad, saya menyiapkan tas punggung. Laptop dan dompet ditinggal di dalam koper, di tengah-tengah tumpukan baju, menggembok, dan menyimpan kuncinya baik-baik. KTP selalu saya bawa, dengan asumsi jika terjadi apa-apa, misal kecelakaan atau meninggal, orang akan dengan mudah mengenali identitas saya. Tidak perlu protes soal ini, karena seperti itulah yang saya pikirkan setiap kali bepergian. Bersiap untuk hal terburuk sekalipun. Saya hanya membawa uang receh beberapa puluh ribu karena memang tidak berencana beli-beli, hanya ingin jalan kaki dan menikmati Ambon sore sendirian.

Saya mengganti sepatu kerja dengan sandal jepit seharga Rp 13.000,- di toko kecil ujung Lorong Arab, di daerah Waihaong. Saya mencari-cari makanan halal apa yang sekiranya ada di sekitar sana. Mie ayam cukup menggoda untuk mampir ke kedai yang sepi, di sebelah Masjid Raya Al-Fattah. Harganya Rp 15.000,- dan masih cocok untuk kantong.

Benteng Victoria yang Menipu
Setelah kenyang, saya membuka google map dan melacak keberadaan Benteng Victoria yang dijanjikan mbak resepsionis sangat dekat dengan hotel. Ternyata benar, hanya 3 menit berjalan kaki dari tempat saya makan. Saya kembali ke Lorong Arab yang sebelah selatan, dan memanglah benar bahwa di Indonesia masih buruk soal fasilitas untuk para pejalan kakinya. Trotoar dipenuhi orang-orang yang menjajakan dagangan atau sekedar menggeret kursi untuk duduk santai sambil mengobrol dengan temannya. Di tepi jalan yang sempit, mobil-mobil pengunjung/ tamu/ pembeli berparkir paralel dari ujung ke ujung. Saya terpaksa harus berkali-kali melihat ke belakang karena khawatir terserempet kendaraan yang lewat. Tampak ada lebih dari sepuluh penginapan di sana. Beberapa namanya pernah saya baca di internet selama proses pencarian penginapan kemarin. Saya asumsikan, mereka adalah penginapan murah yang memang dikhususkan untuk tamu yang tidak terlalu mencari fasilitas mewah. Hanya sekedar numpang tidur. Bahkan saya bertemu dengan backpacker dari Batam yang juga menginap di Lorong Arab dengan harga kamar Rp 80.000,-/malam. Haha kalah jauh saya kalau soal berani-beranian tidak nyaman begitu.

Saya yang terbiasa berjalan agak cepat, terus mengikuti arahan dari google map. Sampai di persimpangan, saya bingung ini petanya mengarah kemana. Tampak sudah dekat betul, tapi saya tidak melihat ada tanda-tanda, plang, atau tulisan benteng apapun di sana. Berbekal nekat, saya belok kiri. Agak jauh, kok malah melenceng dari peta. Bahkan sampai mentok lagi ke pelabuhan. Saya tanya mbak-mbak yang sedang parkir di SPBU dimana letak Benteng Victoria, dia hanya menggeleng. Keanehan pertama terjadi. Oke, saya memutuskan untuk berbalik arah dan mengikuti peta lagi. Saya tanya ke mas-mas penjaga toko, tapi cukup dongkol karena mendapat jawaban serupa. Ketika petunjuk di map sudah dekat, ternyata saya kembali ke titik awal ketika saya bingung tadi. Oh, saya jadi bisa mengimajinasikan bentuk daerah itu. Dimana penginapan saya, dimana pelabuhan, dan dimana perempatan sumber nyasar tadi. Bentuknya kotak saja.

Akhirnya saya memutuskan belok kiri, tapi mentok juga. Bapak-bapak bilang dekat SPBU khusus marinir. Sudah ketemu SPBU nya, tapi kok ya cuma seperti itu, tidak tampak benteng sama sekali. Belok kiri sekali lagi untuk mencari orang yang bisa ditanyai, ada ibu-ibu yang mengangkat bahunya ketika saya tanya. “Ibu asli orang sini?” tanya saya jengkel. Padahal google map saya jelas-jelas sudah membunyikan “You are arrived!” Tiga orang saya temui dan tidak ada jawaban yang memuaskan. Akhirnya saya bertemu dengan anggota TNI dan dia bilang masuk bentengnya dari depan. Saya berputar sekali lagi, mencari mana depan yang dimaksud si bapak. Melewati ATM BRI, belok kiri, ada pos penjagaan di sana. Saya mengatakan ingin mengunjungi benteng Victoria, mereka ganti bertanya saya siapa dan ada keperluan apa. Lhah!

Sebetulnya malas sekali menjelaskan saya dari blablabla, untuk tujuan blablabla ke Ambon, dan seterusnya. Tapi daripada nanti dibedhil senjata laras panjang di pundak mereka, terpaksalah saya beramah-tamah dalam kondisi kaki setengah mau copot seperti itu. Saya hanya mengatakan berasal dari Jawa dan ingin cari tempat wisata, googling, nemulah nama Benteng Victoria, dan ingin melihatnya. Sesederhana itu. Bapak penjaga piket bilang, saya masih harus jalan lurus, nanti ada pos piket lagi di dalam. Kok aneh ya? Ke dalam, berarti saya masuk ke kompleks TNI dong? Karena penasaran, jalan lagilah saya. Di pos dalam, ditanya ulang saya ini siapa, dari mana, mau apa ke benteng. “Wartawan, ya?” tebaknya. “Bukaaaaaan! Saya cuma orang biasa pak, mau jalan-jalan aja, mau lihat benteng yang terkenal di internet itu loh!”

Ternyata oh ternyata, lokasi Benteng Victoria memang di dalam kompleks TNI dan harus ada surat izin dari pos piket sebelah entahlah mana lagi. Kecuali saya berombongan, akan lebih mudah memintakan surat izinnya. Dulu memang pernah dibuka untuk umum, tapi sekarang tidak. Seperti menjadi lokasi yang dilindungi ketat. Saya yang melihat jam sudah semakin sore, tidak sudi untuk jalan ke pos selanjutnya hanya untuk ditanya hal serupa dan dioper-oper lagi demi mendapatkan surat izin masuk benteng.

Jadi, apakah saya merekomendasikan Benteng Victoria untuk dikunjungi selama di Ambon? TENTU TIDAK! Kecuali Anda datang berombongan, dengan tujuan tertentu yang “jelas”, memiliki surat izin dari pos piket yang resmi, atau memberitahukan akan kunjungan Anda beberapa hari sebelumnya, bolehlah mencoba keberuntungan ke sana. Jadi kalau ingin lihat gambar bentengnya seperti apa, cari di internet sendiri ya, hehehe. 

Taman Pattimura (Pattimura Park), Lokasi Pahlawan Nasional Thomas Matulessy Digantung
Berjarak seperseberangan jalan dari Kompleks TNI yang bikin sewot, ada Taman Pattimura yang terkenal. Saya yang tidak suka sejarah, seolah baru tersadar kembali bahwa Pattimura alias Thomas Matulessy adalah pahlawan yang berasal dari Ambon, Maluku. Dan tersadar untuk ke dua kalinya, bahwa Pattimura meninggal dengan cara digantung pada tahun 1817, kemudian konon jenazahnya ditenggelamkan di lautan. Tidak ada makam Pattimura di Ambon.

Tamannya luas, dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Ada dua lapangan basket yang biasa dibuat olahraga para pemuda Ambon, tepat di depan patung yang berdiri menjulang kokoh seolah menyebarkan semangat untuk terus berjuang sampai akhir hayat ini. Di bawah patung, ada relief yang menceritakan perjuangan Pattimura zaman dahulu. 


Lapangan Pattimura
Yang paling bikin merinding, di prasastinya yang dibuat pada 15 Mei 2008 dan ditandatangani oleh Walikota Ambon pada saat itu, Drs. M. J. Papilaja, MS, tertulis seperti ini:
“Pattimura Park (Taman Pattimura) ini adalah apresiasi penghargaan atas semangat kejuangan Kapitan Pattimura dan kawan-kawan, agar kita selalu mengingat pesan terakhir Kapitan Pattimura sebelum menaiki tiang gantungan pada tahun 1817 di tempat ini, bahwa “Beta akan mati..., tapi nanti akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan...”

Relief yang menceritakan Pahlawan Pattimura digantung



Wow! Saya menarik nafas panjang. Perjuangan yang gigih dan impian yang optimis. Tidak mengenal takut, dan lebih memilih mati daripada harus menyerah pada penjajah Belanda. Hati rasanya gerimis. 

(bersambung)
Jujur, perasaan saya campur aduk saat membayangkan akan jalan-jalan sendirian satu setengah hari berikutnya di pulau yang baru kali pertama saya injak, tanpa saudara tanpa teman. Mules-mules sedap. 

Sejak semalam sebelumnya, saya sudah sibuk selancar di internet penginapan murah di Ambon Kota, yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat dari Teluk Ambon tempat kami menginap saat itu. Saya yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi tertentu untuk mencari penginapan, sepenuhnya mengandalkan arahan dari google. Di laman pertama memang dipenuhi oleh situs ternama seperti pegipegi.com, traveloka.com, agoda.com, dan trivago.co.id. Mereka memang mengkhususkan diri untuk mencari, membandingkan, serta memesan tiket pesawat maupun hotel secara daring (online). Saya masuk ke situs-situs tersebut hanya untuk mengetahui harga penginapan serta review dari para pengunjungnya. Penting untuk melihat kondisi kamarnya juga. Enggan saja dapat hotel murah tapi ternyata malah tidak bisa tidur nyenyak setelah lelah seharian beraktivitas.

Prinsipnya, saya mencari harga penginapan di bawah Rp 200.000,-/malam. Tidak ada penganggaran khusus ketika merencanakan extend alias memperpanjang waktu bepergian di sana. Yang jelas, harus berhemat sedapat mungkin. Jika ada harga yang memenuhi budget, saya akan mencari alamat dan nomor teleponnya. Termasuk juga melihat melalui google map, dimana letak penginapannya dan dekat dengan lokasi wisata apa saja. Akan lebih bagus jika bisa dijangkau dengan jalan kaki. 

Saya menelepon beberapa penginapan murah. Beberapa mengangkat telepon dan beberapa tidak. Ada yang sudah cocok dengan lokasi dan kamarnya, ternyata harganya masih Rp 275.000,-/malam. Tentu itu terlalu mahal buat kantong. Akhirnya saya deal memesan Golden Inn seharga Rp 175.000,-/malam. Dan ternyata, harga termurah tersebut ada di lantai... enam! Tanpa lift! Wajib memastikan bahwa akan ada room boy yang akan membantu mengangkat koper saya seberat 10 kilogram setinggi enam lantai. Yah, walaupun tidak ada, toh akan tetap terpaksa mengangkat koper sendirian demi menghemat pengeluaran.

Pesan penginapan beres.

Saya dan teman-teman menyempatkan untuk singgah di toko besi putih, yang merupakan kerajinan khas Ambon. Selepas dari sana, saya diantar ke Golden Inn, calon penginapan yang saya pesan melalui telepon. Rupanya di Ambon pun banyak jalan satu arah, sehingga jika tampak dari toko tersebut ke penginapan hanya beberapa menit perjalanan menurut google map, menjadi berputar-putar dan agak lama. “Lorong Arab”, begitu pesan mbak resepsionis penginapan untuk memudahkan mencari daerahnya. Wow, terbetik di imajinasi, Lorong Arab adalah sederet kompleks tempat para ras Arab tinggal dan berwirausaha. Juga kuliner-kuliner Arab dan segala hal yang berbau sakral karena kearab-arabannya.

Kami melalui perempatan Tugu Trikora, lalu jalan-jalan padat kendaraan, Masjid Al-Fatah, dan... pelabuhan! Tertulis jelas Port of Ambon di sana. Saya mulai cemas karena google map masih menunjukkan jalan menuju gang-gang sempit penuh para lelaki yang menggotong barang ini itu, toko kayu gelondongan, toko kelontong kecil-kecil, mas-mas yang berkumpul duduk di depan toko sambil mengobrol santai, truk yang menurunkan dan memuat barang, dan para lelaki bertelanjang dada. Teman saya lima orang bergantian mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin didengar saat itu, seperti:
“Lho mbak, ini daerah apa?”, 
“Beneran mbak, penginapannya di sini?”, 
“Mana ya, kok belum sampai-sampai?”, 
“Ati-ati lho mbak, ini wilayah pelabuhan?”, 
“Jangan keluar sendirian kalau malam lho mbak. Pokoknya maksimal jam 9 malam harus sudah di penginapan lagi!”, 
“Yakin mbak, mau nginap di sini?”

Aaarrgghhh...

Pelabuhan Ambon
Sebelum mereka cemas, sebenarnya saya sudah cemas sendirian sejak semalam. Tapi tolong lah, jangan menambah kecemasan lagi berkali-kali lipat.

Akhirnya sampai juga kami di Golden Inn. Saya sendiri pun tidak menyangka bahwa Lorong Arab itu benar-benar menyerupai lorong beberapa lajur... tapi tanpa ada Arab-arabnya sama sekali! Konon memang dahulu wilayah itu dihuni oleh ras Arab beserta keturunannya. Sepertinya mirip wilayah Ampel-nya Surabaya. Tapi sekarang tidak lagi. Sudah bercampur baur dengan segala suku bangsa.

Saya menurunkan koper di depan penginapan yang lebih mirip ruko tujuh lantai dengan pintu besi yang cara membukanya digeser ke kanan dan kiri. Tarik nafas panjang, buang nafas, sambil berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ketika mata tertumbuk pada rak minuman di belakang resepsionis yang berjejer bir bintang dan minuman beralkohol, saya tidak tahu apakah akan baik-baik saja satu setengah hari ke depan atau tidak. Dengan senyum yang terpaksa dimanis-maniskan, saya melongok ke dalam mobil dan mengatakan kepada teman-teman bahwa memang ini penginapannya, sudah browsing, yakin aman, dan akan mempercayai intuisi yang datang. Jika merasa tidak aman, mencurigai sesuatu, atau melihat potensi bahaya, tentu akan segera ambil tindakan.

Setelah teman-teman pergi, saya dengan sok percaya diri menuju resepsionis. Mengatakan bahwa tadi pagi sudah menelepon dan booking kamar di lantai enam. Mencoba berlagak jadi traveler berpengalaman yang pemberani, padahal kaki dan hati sudah keder lebih dulu. Setelah membayar kamar, tiba-tiba ada telepon oleh salah seorang teman yang mengantar tadi, ibu-ibu. “Mbak Fatma, ini lho di dekat tugu ada penginapan yang lebih bagus. Jangan disana ah, ngeri!” Saya menjelaskan, ini penginapannya juga sudah bagus kok, bersih. Si ibu masih bersikeras, “Iya, tapi itu tadi lho, jalannya sempit, banyak orang laki-lakinya,saya khawatir ah Mbak! Pindah saja sudah, pindah Mbak!”

Aaarrrggghhh...

Berusaha mengabaikan kekhawatiran si ibu, saya bertekad untuk tetap menginap di sini saja. Untuk naik ke lantai enam, ada mas-mas staf hotel yang membantu membawakan koper. Saya memberinya tips atau uang lelah sekedarnya, dan dia menolak dengan malu-malu. Biasanya di hotel besar pun, room boy hampir tidak pernah menolak tips dari tamu. Ini masnya kok menolak dan cara memandang saya agak berbeda. Saya jadi parno sendiri.

Penampakan kamar Golden Inn. Bersih dan nyaman kok. Karena bangunan baru.
Kamar mandinya juga bersih dan modern. Cuma saya parno bayangin ada kamera tersembunyi yang siap ngintip :(
Lima belas menit kemudian, ada yang mengetuk kamar. Saya parno lagi. Tidak ada yang berkepentingan dengan saya langsung di pulau antah barantah ini. Tidak mungkin ada tamu pribadi. Saya tidak kenal satupun makhluk di kota. Toh kalau ada apa-apa, resepsionis bisa menelepon langsung dari bawah ke kamar. Saya membuka pintu, ternyata mbak staf hotel yang saya lihat di bawah tadi yang mengetuk. Dia bilang, apakah bisa meminta nomor ponsel saya. “Untuk apa?” tanya saya. Karena sejak booking penginapan, saya sudah memberikan nomor ponsel ke resepsionis. Dia bilang ini beda. Mas-room boy tadi yang meminta nomor ponsel. Saya kaget. Dengan sopan tapi menahan geram, saya menjelaskan bahwa nomor ponsel tamu tidak boleh diberikan ke sembarang orang dan saya tidak mau memberikannya karena bersifat privasi. “Oh begitu Mbak, ya sudah. Saya juga nggak tahu, masnya tadi pokoknya yang menyuruh saya untuk memintakan ke mbak. Masnya pengen kenalan sama mbak,” ujarnya polos.

Aaarrrggghhh...


Hari yang bikin deg-degan!
Jatah sarapan dari penginapan. Agak tidak manusiawi untuk perut. Sesuap langsung habis.
Makan malam cuma mampu beli indomie goreng telor ceplok 15 ribu. Nyesek tapi tetep nikmat.

(bersambung)
Ini surat ke sekian puluh yang aku tuliskan tentang kita//
Tentang dua orang sahabat/ yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun//
Soal bahagia/ sedih/ luka/ duka dan ketawa//
Tentang engkau yang menua/ IBU//
Dan aku yang mendewasa//
Dan dua sahabat itu/ adalah kita//


Aku teringat kemarin/ saat akan pergi bekerja//
Engkau menangkupkan kedua tanganmu menengadah ke atas//
Meminta Tuhan agar menjaga diriku//
Menjadikanku anak yang terus berguna bagi nusa/ bangsa dan agama//
Yang baaaanyak rizkinya/ luuuuas pengetahuannya/ dan baaaaik akhlaknya//

Aku selalu hampir ketawa ketika engkau menyebutkan doa seperti ini/ “Semoga engkau jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama”.
Kenapa aku ketawa? Karena aku ingat betul//
Doa itu/ adalah doa yang kau panjatkan/ sejak anak-anakmu ini masih kecil//
Terlalu kecil tentunya/ untuk tahu apa itu makna menjadi manusia yang berguna//
Yang ada kemudian/ dahulu aku selalu bertanya dalam hati: Seperti apa sih menjadi manusia yang berguna itu?
Apakah seperti dokter? Polisi? Presiden? Atau apa?
Kemudian aku menyerah untuk mencari jawabannya. Itu dulu//

Ibu/
Terima kasih telah menjadi wanita terhebatku//
Engkau telah memperjuangkan/ segala yang perlu diperjuangkan dalam hidupmu//
Hanya demi anak-anakmu//

Terima kasih telah mengizinkanku untuk menjelajahi dunia yang lebih luas//
Melihat Sumatera sampai Papua//
Menjelajah/ berenang/ mengunjungi museum/ bermain di pantai//
Berkenalan dengan orang-orang baru/ dari banyak suku dan agama//
Belajar tentang ilmu Tuhan yang amat luas/ dengan keterbukaan pikiran dan kerendahan hati//

Ingatkah suatu kali aku pernah bertanya padamu, ibu?
“Mengapa engkau tidak khawatir anak perempuanmu pergi jauh sendirian? Menjelajah kota dengan jalan kaki/ tidak tahu arah/ uang terbatas/ menyeberangi lautan/ kemungkinan jatuh dari pesawat/ kemungkinan disakiti orang asing/ dicopet/ dirampok/ dan segala hal yang mungkin terjadi ketika traveling?”
Jawabmu hanya singkat, “Kan ada Allah, Yang Maha Menjaga? Tidak ada sebaik-baik pelindung kecuali Allah.”
Dan jawaban itu sudah cukup bagiku//

Ternyata… Engkau ingin melatihku menjadi perempuan yang tangguh/ yang banyak pengalaman berharga selagi muda/ yang mampu mengatasi berbagai rintangan di jalan/ yang mandiri dan tidak menggantungkan hidup pada orang lain//

Ibu/ mungkin cara mengajimu/ membaca Alquran mu/ tidak lebih indah daripada teman-temanku/ bahkan mahasiswaku//
Namun engkau adalah salah satu orang dengan kepercayaan pada Tuhan yang paling tinggi/ yang pernah kukenal//
Mungkin memang kita pernah sekali dua kali berkeluh kesah tentang hidup//
Tentang takdir yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan//
Tapi kemudian di ujung kalimat/ engkau selalu menyadari dengan mengatakan, “Ah, tidak boleh mengeluh, Tuhan Maha Adil. Tuhan Maha Kaya. Tuhan Maha Pemurah.”

Ibu, pada usia ini//
Aku telah memiliki segaaaaala apa yang Tuhan ingin aku miliki saat ini//
Aku punya teman-teman yang baik/ mahasiswa-mahasiswi yang baik/ perpustakaan yang penuh buku, seperti impianku saat sekolah dulu/ pekerjaan yang baik/ penghasilan yang halal/ dan lingkungan yang baik pula.
Sedangkan apa yang belum aku miliki pada usia ini, seolah Tuhan berkata, “AKU memang belum menginginkanmu memiliki itu!”
Dan aku tidak berani menggugatnya.

Engkau selalu berkata, “Sabar, nduk. Cukuplah Allah bagi kita. Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu apa-apa.”
Kemudian tidak ada kata lain selain selalu bersyukur/ berbaik sangka/ dan berbuat kebajikan//

Ibu/ doakan aku menjadi wanita hebat sepertimu//
Yang teguh pendirian/ yang sedikit mengeluh/ yang selalu memikirkan nasib orang lain/ yang profesional dalam bekerja/ yang mencintai anak-anak dengan tulus//
Bukan hanya cinta yang lebih banyak/ tetapi cinta yang lebih baik//
Menjadi wanita yang mudah memaafkan/ yang tidak berkata kecuali yang benar/ yang kuat menghadapi segala ujian hidup/ sekeras apapun itu//

Doakan aku mewujud seperti doamu sejak kami kecil dulu: MENJADI WANITA YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA DAN AGAMA//
Menjadi orang yang berdampak luas pada masyarakat//
Doakan aku menjadi pendampingmu di surga/ seperti mimpimu selalu/ untuk dapat bersanding dengan Rasulullah kelak di sana///
=========================================================


nb: Proses penulisan puisi di atas berlangsung beberapa jam, menjelang hingga lewat tengah malam. Semalam sebelum aku bacakan di depan teman-teman dosen dan mahasiswa di rumah. Ditemani lagu Virgoun berjudul "Surat Cinta untuk Starla" yang aku putar berulang kali. Semakin dalam aku renungi liriknya, semakin menunjukkan betapa besar cinta seorang ayah (Virgoun) untuk anaknya (Starla). Dan ini menambah inspirasi sekali mengenai hubungan cinta antara orangtua dan anak.

Kutuliskan kenangan tentang… caraku menemukan dirimu.
Tentang apa yang membuatku mudah… berikan hatiku padamu.
Takkan habis sejuta lagu… untuk menceritakan cantikmu.
Kan teramat panjang puisi... tuk menyuratkan cinta ini.
"Biadab!" makiku dalam hati ketika mendengar kasus semacam ini, untuk kesekian kalinya.
Hatiku tercabik karena kejahatan kepada sesama manusia terus terjadi. Ketika kulihat sorot mata anak 5 tahun itu dan ibunya, yang kulihat hanyalah kepedihan tak terperi.
Dan ini, aku, di sini, harus melakukan sesuatu. Atas nama Tuhan yang Maha Memberi Kekuatan dan Kemampuan, aku berdoa untuk semua.
=====

Liburan semester akan segera berakhir. Tapi justru hati rasanya masih kebat-kebit dengan hal-hal yang menggelisahkan. Semakin kemari aku semakin menyadari bahwa tanggung jawab sosial setiap manusia jauuuuh jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Jika manusia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin (minimal untuk dirinya sendiri) di muka bumi ini, rasa-rasanya waktu harus selalu dimanfaatkan sebaik mungkin, bahkan setiap detiknya.

Kemudian ketika ada yang berkomentar, "Klien lagi... Klien lagi! Sibuk banget sih!" ingin rasanya kubejek-bejek orang itu. Seandainya ia tahu detail kasus yang sedang kami hadapi, mungkin ia dapat melihat segala sesuatunya lebih objektif. Tapi sayangnya, aku tidak selalu punya energi berlebih untuk menjelaskan satu per satu ke orang yang berbeda-beda. Apalagi jika berhubungan dengan profesi kami di Psikologi, setiap kasus sifatnya rahasia. Kalaupun perlu dibahas dalam ranah akademik sebagai pembelajaran, kami tidak dapat menginformasikan segala data personal klien.

Atau juga ada yang bilang, "Mumpung masih single ya mbak, jadi dipuas-puaskan kerja, jalan kesana kemari. Cari pengalaman, masih muda. Nanti kalau sudah berkeluarga kayak saya, susah deh mau kemana-mana."

Ah, jika saja mereka tahu. Bahwa doaku adalah, dalam kondisi apapun nanti, agar tetap diberi kekuatan, kemampuan membagi waktu dengan baik, tetap memberi manfaat seluas-luasnya kepada orang lain. Toh manusia tercipta adaptif dan fleksibel. Mampu menyesuaikan diri dengan situasi tanpa menjadi bebal.
Ah, jika saja mereka mau sejenak mengingat. Bahwa jangankan amal, tapi usia, harta, waktu, kondisi sehat, dan masa muda pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan kelak.
Ah, jika saja tidak ada seorang pun yang mendekonstruksi makna pernikahan menjadi sesuatu yang mengekang kebebasan, maka status apapun yang dimiliki tidak akan menghentikan untuk berbuat kebaikan.
Ah, jika saja orang nyinyir lebih banyak piknik dalam arti sebenarnya, mereka akan tahu bahwa dunia tidak hanya sesempit apa yang terlihat oleh kedua matanya. Menemui lebih banyak orang tanpa berusaha menilai, berbincang dari hati ke hati tanpa merasa paling benar, merasakan ditolong di negeri antah barantah oleh umat agama dan suku bangsa lain, mengamati kearifan setiap diri lawan bicara, dan berusaha untuk menjadi bijak tanpa menasihati atau menggurui. Hal ini benar adanya: Pikniklah! Yang jauh ya!

Begitulah, masih banyak "PR sosial" yang kami miliki. Dosen bukan sekedar pengajar di kelas dan kampus. Kami juga memiliki kewajiban pengabdian kepada masyarakat, sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Seringkali ketika kami menghadapi kasus-kasus yang urgent, tidak ada lagi yang bertanya, ini masuk poin di laporan BKD (Beban Kerja Dosen) gak ya? Ada bayarannya gak ya? Mengganggu waktuku gak ya? Ada manfaatnya buatku pribadi gak ya? Dll.

Karena yang terlintas kali pertama hanyalah: "BUDHAL! TANGANI!"

Siang ini aku berkesempatan menghadiri sebuah diskusi internasional bertajuk "Interfaith Tolerance in Thailand and Indonesia" di Universitas Darul Ulum, Jombang.

Sebetulnya bukan tema-ku banget. Hanya saja dengar kata 'interfaith', aku langsung teringat dengan kata-kata pak Maufur, temanku dosen. Beliau kapan hari ke Amerika dan besok September ke Oslo, Norwegia. Aku bilang ingin juga academic trip seperti itu, dan beliau mengatakan tidak harus dalam rangka penelitian kalau ke luar negeri, tapi juga bisa "sekedar" diskusi, misalnya tentang interfaith. Singkatnya, begitulah kenapa aku tertarik dengan judul seminar yang aku datangi ini, karena ada kata interfaith-nya. Semacam studi antaragama atau kepercayaan.
Haha demikianlah... alasan yang sepele.

Aku dulu sering berpikir bahwa diskusi yang dihadiri oleh orang dari multinegara akan terkesan wah dan sangar gitu. Ternyata... nggak sebegitunya kok. Hehe. Ini kebetulan hanya dihadiri oleh pembicara dari Chulalongkorn University Thailand dan kandidat doktor Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. Pembicaranya pun karena bukan native English, jadi bahasanya juga Thai-nglish dan Indo-nglish. Atau apalah namanya.

Satu hal yang aku pelajari dari forum semacam ini: bahwa aku pun suatu saat bisa juga bicara di forum internasional, bahkan mungkin lebih baik. Jika calon doktor saja masih sangat medhok dalam bicara bahasa Inggris tetapi berani tampil di depan publik, kenapa aku yang Jawa-nglish takut?

Jadi ingat satu kejadian lagi. Ketika salah satu saudaraku, bu Sirikit Syah, kuundang untuk menceritakan kisah inspiratifnya di Kediri dan mengatakan bahwa beliau dengan bekal bahasa Inggris yang medhok nya bisa keliling dunia dan tidak pernah ditertawakan oleh orang negara lain (malah dianggap lucu dan unik), maka aku pun semakin terpacu juga untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dalam hidup.

"Jika kita mungkin diremehkan atau ditertawakan ketika bicara bahasa Inggris di Indonesia karena aksen atau karena tepatah-patah, maka orang luar negeri justru lebih menghargai kita, kok. Mereka akan salut pada kita yang mau belajar bahasa internasional. Kalaupun tampak lucu, mereka menganggapnya sebagai keunikan, bukan kelemahan," begitu papar bu Sirikit. Nah.

Yuuuuk, semangat belajar!
Ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul sama sebelumnya, tentang mengapa alasanku tidak selalu membawa oleh-oleh ketika pergi. Tentang bagaimana situasi, kondisi, pikiran, dan perasaan memengaruhi pengambilan keputusan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan tentang, hidup kita yang tidak perlu selalu membahagiakan orang lain, jika membuatnya tidak sedih saja sudah cukup.

DIKIBULI TUKANG OJEK
Dari Pelabuhan Balohan-Sabang, aku dan dua temanku yang baru aku kenal dari Malaysia dan Padang, langsung mencari moda transportasi yang dapat mengantar kami kemana-mana secara fleksibel. Ojek ternyata yang paling memungkinkan.

Hal menjengkelkan dimulai ketika tukang ojek yang kunaiki awalnya meminta tarif 70 ribu untuk keliling seharian di Sabang, mengantar mencari penginapan, hingga besoknya dijemput kembali dari penginapan ke pelabuhan. Karena esok paginya jam 08.00 aku harus sudah kembali ke Banda Aceh untuk terbang pulang ke Surabaya. Muter-muternya sih enak, hanya terasa panas nyelekit semakin siang. Aku yang cuma memakai sandal jepit, sudah pasrah jika nanti punggung kaki, tangan, dan wajah gosong.

Namun ketika sudah sampai di Pantai Iboih yang mana berjajar penginapan, snorkeling and diving agencies, warung makan, dan pantai bening di sepanjang jalan, pak ojek mulai berulah. Kan aku bilang minta ditemani cari penginapan paling murah, di bawah 100 ribu/malam. Fasilitas minim tidak masalah, kamar mandi di luar tidak masalah, pakai kipas angin dan kamar sempit juga oke. Demi menghemat biaya tentunya. Eh, dia ngeyel menurunkan aku di tempat dia kongkalikong dengan pemilik penginapan setempat. Sebetulnya kalau dipikir secara jernih, wajar saja begitu. Dengan mengantar penumpang ke penginapan langganan, pak ojek mendapatkan komisi sejumlah tertentu dari pemilik karena dianggap sudah mempromosikan penginapan tersebut. Setelah balik kanan-kiri sambil dongkol, akhirnya aku menyerah dengan harga kamar 150 ribu/ malam. Dua kali lipat jauh lebih mahal daripada yang aku anggarkan.

Master Bungalow. Tempatku menginap di Sabang. Paling capek saat mengangkat koper berat melalui tangga sempit di sisi kiri bangunan itu menuju lantai 2. Sumber: google
Selasar lantai 2. Dimana aku menjumpai para penginap lain gegoleran tidur malam di selasar ini pakai tikar. Mungkin untuk menghemat duit kali ya, daripada membuka satu kamar lagi. Sedangkan teman mereka cewek-cewek bebarengan menginap di dalam kamar. Tampak seperti serombongan muda-mudi yang berlibur bersama. Untung daerah pantai ini cukup hangat ketika malam. Sumber: google.
Kamar seharga 150 ribu/malam. Jika untuk sendiri, kamar ini tergolong luas. Longgar untuk meletakkan barang-barang dan sholat. Tapi sayang, kamarku yang jendelanya menghadap ke belakang, tidak cukup baik aliran udaranya, jadi agak pengap dan gerah. Sumber: google
Aku minta harga antara 70-80 ribu/ malam sebetulnya juga tidak ngawur karena aku sudah selancar di internet untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Namun alasannya waktu itu cukup logis, yaitu saat aku ke sana hari Sabtu siang, merupakan liburan akhir pekan yang panjang. Yaitu Sabtu-Minggu-Senin. Sehingga hampir semua penginapan penuh.

Tidak sampai di situ. Pak ojek juga meminta bayaran lebih kepadaku. Memang sih, uangnya baru akan aku berikan esok hari ketika aku dijemput. Dijelaskan dengan logika yang aku sengaja bolak-balik, untuk ngeyel bahwa yang dia sampaikan tidak masuk akal dan mengingkari perjanjian di awal, sampai suara dia yang keras ikut meninggi, akhirnya aku terpaksa menyerah (lagi). Tarif 70 ribu menjadi 150 ribu. Dua kali lipat lebih dari perjanjian awal. Sebetulnya bukan hanya punya atau tidak punya uang, tapi aku tidak suka orang yang tidak fair di awal. Bilang murah, ternyata “nggepuk” di belakang. Lha sudah jelas-jelas aku beri gambaran rute yang akan dikunjungi, artinya sejak awal kan dia bisa mengira-ngira itu seberapa jauh, butuh bensin berapa, berapa jam perjalanan, dan tarifnya berapa. Jika kemudian tiba-tiba dia minta bayaran lebih, itu sangat amat menjengkelkan.

Mungkin kalian bayangkan mengeluarkan uang ekstra 150 ribu (tambahan anggaran ojek dan penginapan) itu termasuk sedikit. Tapi jangan salah, 150 ribu itu bisa untuk makan 5 kali ketika bepergian. Atau beli tiket kapal Banda Aceh-Sabang PP. Atau urunan 1x snorkeling ke tengah laut bebarengan. Intinya, anggaran harus diperhitungkan secermat mungkin. Karena kalau sampai kehabisan duit dan tidak mungkin minta orang rumah mengirimi uang, hanya satu jalan yang bisa dilakukan: pulang!

Bisa bayangkan, dalam kondisi emosi naik turun begitu, apakah aku masih bernafsu membeli oleh-oleh? Tentu tidak. Dan sekali lagi, tidak semua orang yang bepergian tujuannya membeli oleh-oleh :)

TERSENGAT UBUR-UBUR API
Ini kali pertama pengalamanku disengat ubur-ubur. Itu loh, hewan yang menggemaskan, transparan, tubuh lunak, dan berekor panjang yang tampak anggun jika berenang. Sebetulnya ada jenis ubur-ubur yang tidak menyengat juga, tapi kok ya rezekiku, di Pantai Iboih jam 5-6 sore sedang banyak-banyaknya ubur-ubur itu. Sampai di garis pantai terluar juga. Kata pasutri tempat aku menyewa peralatan snorkeling lengkap seharga 40 ribu, bulan-bulan itu memang ubur-ubur sedang banyak di pantai.

Jenis ubur-ubur ada banyak. Intinya, dia cantik tapi mengerikan!
Setelah tersengat beberapa kali di tangan dan kaki yang memang tidak berpelindung, dengan rasa seketika yang membuat kaget karena campuran antara panas, perih, dan sedikit gatal, maka aku memutuskan untuk menyudahi snorkeling. Oleh agen, tangan dan kakiku ditaburi dan sedikit digosok dengan gula pasir kasar. Katanya untuk menetralisir racun. Aku yang belum berpengalaman soal pergulaan, manut saja. Ketika berbilas, ternyata masih terasa sangat perih. Memang tidak tampak luka dari luar sama sekali, hanya agak bengkak, merah, dan temperatur kulit meningkat.

Tangan bergula
Malamnya, aku jalan kaki sendirian di pulau kecil paling ujung barat Indonesia ini dengan perasaan tak menentu. Ada bahagia yang membuncah, ada syukur yang melimpah, juga ada ketakutan akan keselamatan jiwaku karena aku tak mengenal seorang pun di sana.

Aku berjalan untuk mencari makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Ada beberapa orang yang masih hilir mudik menikmati malam, turis domestik maupun mancanegara. Di warung tempatku makan yang rasa masakannya seperti makanan padang, rupanya aku pengunjung terakhir. Makan dengan ditatap ibu-ibu penjual seolah berkata, “Ayo cepatlah selesaikan makan, aku sudah ngantuk!”.

Aku juga ke dermaga kecil untuk untuk melihat beberapa bulu babi, ikan bertubuh panjang, serta semacam teripang yang jelas terlihat dari atas saking jernihnya air. Sebetulnya aku ingin sedikit mendaki ke atas, melihat beberapa penginapan yang aku cari di internet, juga rekomendasi Nina Van Poll. Jika sendirian, aku disarankan ke Iboih Inn karena kadang ada pertunjukan musik akustik gratis di sana. “You can chilling out there!”, kata Nina. Tapi aku urung. Selain belum cukup berani untuk ke atas sendiri melewati anak tangga banyak, aku juga agak tidak enak badan.

Sesampai kembali ke penginapan, aku rebahan sejenak di kursi biru depan penginapan sambil menikmati sate gurita yang lezat. Aku memandang sekeliling yang gelap, menyimak beberapa tembang lawas dan country yang dimainkan beberapa pemusik dari penginapan sebelah. Mendengarkan desir air pantai, merasakan tangan dan suhu badanku yang menghangat karena tersengat ubur-ubur, serta berpikir berulang kali, “Apa yang sedang aku lakukan di sini? Apa sebenarnya yang aku cari? Berkelana sendirian di pulau asing. Bahagiakah aku? Pengalaman apa saja yang sudah aku dapat?” Dan pikiran lain yang berkecamuk dalam kantuk. Kemudian semuanya bermuara pada kesimpulan firman Tuhan, “Sesungguhnya Kami memberimu nikmat yang sangat banyak. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Lalu aku tersenyum dengan puas dan kembali ke kamar untuk istirahat. Aku merasa cukup dalam perjalananku. Aku tidak berpikir hal lain di luar petualangan ini. Apalagi berpikir membeli oleh-oleh.

Sabang, 45 menit naik kapal cepat dari Banda Aceh. Pulau paling barat Indonesia, diabadikan dalam lagu nasional "Dari Sabang sampai Merauke".
Akhir kata, terima kasih kepada yang tidak meminta oleh-oleh kepadaku ketika aku bepergian. Terima kasih juga kepada yang meminta oleh-oleh tapi tidak aku penuhi. Karena kalianlah, tulisan ini ada sebagai responnya.

Seringkali aku tidak bisa berbicara ketika ditanya, “Mana oleh-olehnya?” setelah pulang dari bepergian. Entah mengapa, seolah seseorang yang pergi (untuk urusan apapun) wajib membawakan oleh-oleh berupa barang atau makanan bagi yang tidak pergi.

Padahal, bepergian bukanlah sesuatu yang amat mudah dijalani. Ada lika-likunya tersendiri. Tentu bepergian dengan agen perjalanan dan bepergian sendiri akan berbeda pengalamannya. Pergi dengan agen biasanya lebih nyaman, aman, dan tidak terlalu banyak mikir. Kita sudah membayar segala “fasilitas” di muka, sehingga tinggal duduk manis menikmati perjalanan. Sedangkan jika pergi sendiri, boro-boro dengan mudahnya duduk manis. Yang ada adalah kita selancar di internet mencari penginapan murah, makan murah, transportasi murah, dan segala yang murah-murah lainnya. Khususnya ketika melakukan budget-traveling alias bepergian dengan biaya terbatas atau hemat. Kecuali kalau uang berlebih, nah baru bisa menikmati fasilitas di kelas yang lebih atas.

Seperti halnya ketika aku bepergian ke daerah lain, saat pulang dari Aceh pun aku masih saja ditagih oleh-oleh beberapa orang. Aku cuma bisa tersenyum... kecut.

Traveling memang banyak enaknya. Tapi yang orang lain kadang tidak tahu adalah, kami juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, yang kami memilih untuk tidak sering menceritakannya kepada siapapun. Nah, agar berimbang, ini beberapa cerita yang menyebalkan dan menyedihkan selama aku bepergian ke Aceh akhir April lalu:

KOPER DIBOBOL DI BANDARA
Badan langsung lemas ketika tahu resleting koperku terbuka mulai atas sampai bawah, begitu aku mengangkatnya dari pengambilan bagasi di Banda Aceh. Awalnya sempat menduga itu kerusakan yang tidak disengaja sebab terlempar selama proses memasukkan atau mengeluarkan koper dari dalam pesawat. Namun, demi melihat kerusakannya yang sistematis, dimana gembok tetap utuh tapi resleting terbuka lebar, pindah posisi dari atas ke bawah melintasi tali di tengah koper, maka aku yakin sekali itu ulah petugas bagasi yang mencari sesuatu di dalam koperku. Lebih yakin lagi ketika resleting di dalam koper juga terbuka, yang sepertinya tidak sempat dikembalikan seperti semula.

sumber: google
Dengan kepala mendidih, badan berkeringat mendadak, aku langsung melapor ke bagian pengaduan maskapai. Seorang petugas memintaku untuk membuka koper dan memastikan bahwa tidak ada barang yang hilang. Sambil mencari tempat yang lebih tersembunyi, aku mencoba membuka sedikit koperku dan memang tidak ada yang hilang.

“Mbak, dibuka yang lebar saja kopernya, biar bisa lihat ada barang yang hilang tidak”, pinta petugas.
Aku yang hafal betul ada pakaian dalam yang tidak terbungkus apa-apa di tumpukan paling atas, langsung memandang tajam petugas sambil berkata ketus, “Dibuka di depan mas, masnya mau liat pakaian dalam saya?!?!” Kemudian si petugas langsung mlipir ke pinggir.

Syukurlah tidak ada satu barang pun yang hilang dari dalam koper. Aku juga terbiasa memastikan bahwa di dalam koper tidak ada barang berharga yang disimpan. Sehingga jika sesuatu yang buruk terjadi, seperti kali ini, tidak perlu ada penyesalan yang mendalam. Paling banter cuma baju yang hilang.

Petugas menjanjikan akan memperbaiki resleting koper begitu aku sudah check-in di hotel dan mengeluarkan barang-barang. Aku bilang, tidak akan lama tinggal di Banda Aceh, hanya 2 malam. Melihat tumpukan koper bernasib serupa, jiwa nyinyirku muncul. “Mas, itu banyak banget kopernya yang bermasalah dan perlu diperbaiki? Sering ya koper penumpang dibobol kayak begini?”
Di ruangan itu yang ada tiga orang petugas, salah satunya menjawab dengan agak tersinggung dengan kalimat menggantung, “Ya...”
“Emang kenapa gitu, sering rusak kopernya? Petugas bagasinya yang nakal ya? Biasanya dimana kejadiannya?” lanjutku.
“Ya nggak tahu, mbak. Kami kan petugas darat. Yang melakukan jelas bukan kami. Kami nggak tahu apa-apa. Jadi nggak bisa menjawab pertanyaan mbak. Tanya aja ke petugas bagasinya. Kami cuma melakukan pencatatan.” Terlihat sekali posisi mempertahankan dirinya.

Kemudian aku sengaja menghujaninya lagi dengan kalimat-kalimat hanya untuk memuaskan nafsu marahku, “Meskipun mas cuma petugas darat, harusnya bisa dong ikut mengevaluasi kejadian kayak gini. Mas bagian yang kena komplain, karena langsung menghadapi penumpang. Sedangkan mereka petugas bagasi, kami pun tidak tahu itu siapa. Bisa dicari solusinya bersama antar seluruh kru, masalahnya dimana. Ini kan juga menyangkut reputasi maskapai mas jika sering ada masalah seperti ini. Nih, tumpukan kopernya yang banyak begini, penumpang jadi bisa menilai, seperti apa layanan maskapai ini.”

Petugas buru-buru menyerahkan selembar kertas berisikan data diriku, alamat hotel, dan jenis kerusakan yang terjadi. berfungsi sebagai alat kontrol ketika memperbaiki koperku nanti.

Nah, jika di posisi seperti itu, apakah aku masih bisa berpikir untuk membeli oleh-oleh untuk orang lain di Banda Aceh? Tentu tidak. Bahkan ngenesku masih jauh lebih terasa nikmat diresapi daripada pergi ke toko kue atau souvenir untuk membeli oleh-oleh.

DIPINDAH KAMAR HOTEL SEPIHAK
Aku tidur di MARS HOTEL, Banda Aceh. Memang bukan hotel wah. Termasuk hotel kecil di tepi jalan besar. Harganya kalau tidak salah sekitar 400 ribuan semalam. Kasur berukuran double mepet di dinding kanan dan kirinya, yang langsung berbatasan dengan kamar mandi yang mungil, tanpa fasilitas air panas.

Sumber: google
Naas, AC nya bocor. Awalnya aku tidak menyadari ada yang aneh. Namun setelah beberapa jam AC kunyalakan, dan ketika melewati lantai di bawah AC, aku sedikit terpeleset karena ada air yang menggenang. Aku cek, dari mana asal air. Kemudian kepalaku tiba-tiba kena tetesan air dari atas. Oalah, AC nya bocor. Kemudian aku mengambil keset kamar mandi. Pagi hari, keset sudah tidak mampu menampung air, sehingga air cukup meluber kemana-mana.

Kesal, tentu saja. Baru kali ini selama sejarah aku menginap, AC bocor begitu parahnya. Saat sarapan, aku melapor ke resepsionis. Aku hanya minta tolong kamarku dibersihkan dan dicek AC nya. Lalu seharian itu aku ada kegiatan formal. Masih diselingi juga dengan telpon-telponan dengan pihak masakapai untuk memastikan jam berapa koperku diambil dan diperbaiki. Berkali-kali telepon, tetap tidak diangkat. Antara cemas dan gemas, karena esok paginya aku sudah harus menyeberang ke Sabang. Tapi akhirnya setelah malamnya sampai hotel, resepsionis bilang koperku sudah diambil dan dikembalikan sore tadi. Alhamdulillah.

Kamar di Mars Hotel. Mepet kanan kiri. Sebelah kanan mepet kamar mandi. Sumber: google
Aku meminta kunci nomor 214, kamarku di lantai 2. Begitu masuk kamar, aku kaget bukan kepalang. Semua barangku tidak ada di tempat. Berusaha untuk emosi tidak meledak, aku melapor ke resepsionis. Petugas juga terlihat bingung dan menghubungi temannya yang mungkin shift tadi pagi. Setelah ditelusur, ternyata kamarku dipindah ke lantai 1, dekat resepsionis. Benar saja, barang-barangku sudah di sana semua.

Bagiku, ini sudah pelanggaran etika. Barang yang ketika kutinggalkan memang tergeletak semua di atas kasur dan meja karena koper akan dibetulkan oleh pihak maskapai, tentu tersentuh sepenuhnya oleh tangan petugas. Dipindahkan tanpa izin, pula. Lalu aku menegaskan ke petugas resepsionis bahwa hal tersebut tidak etis dan memohon untuk tidak melakukannya lagi kepada tamu siapapun.

Di tengah kekesalan ini, masih mungkinkah aku berpikir untuk mencari oleh-oleh untuk orang rumah atau siapapun yang meminta? Hehe, sayangnya tidak.

(bersambung)