Assalamu'alaikum Posting ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang berjudul Ungkapan Sederhana buat Ibuku. **Beberapa lama setelah bapakku meninggalSekitar sepuluh tahun yang laluDua orang lelaki berkunjung ke rumah kami, malam hariAku tahu mereka, mereka berdua adalah teman-teman kantor ibukuMereka baik, kadang membelikan aku dan mbakku makanan Atau buah tangan lainnya :) Mereka sudah beberapa kali main ke rumah kamiAku sih oke-oke sajaMereka baik, tak pernah bicara yang tidak sopan, ...
Assalamu'alaikum Orang bilang bahwa "Hati-hati dengan keINGINan Anda, karena itu bisa saja mewujud menjadi nyata!" Dengan kata lain "Hati-hati dengan PIKIRAN dan PERASAAN Anda, karena itu akan mengirim sinyal ke alam semesta, untuk dikembalikan lagi kepada Anda berupa terkabulnya apapun yang sedang Anda pikirkan dan rasakan saat itu." Well, kuliah di Kedokteran Psikologi merupakan salah ...
*lanjutan dari Jatuh Cinta Diam-diam (part 1)* Bagiku, mencintai dan dicintai sama-sama menyenangkannya. Seperti delapan tahun yang lalu, pas aku kelas 1 SMA. Ada cowok sekelasku yang “dengan Ge-eR nya aku bilang” bahwa dia suka sama aku. How come? Soalnya tiap aku memandang ke arah dia, dia selalu mempraktikkan yang namanya “kiss-bye” yang kayak orang tua sekarang banyak ajarkan ke bayi-bayinya yang masih polos saat mereka akan pamitan. Bukannya diajari salam ...
Assalamu’alaikum Post kali ini terinspirasi dari salah satu cerita Raditya Dika dalam buku kelimanya, Marmut Merah Jambu. CINTA itu abstrak, tak berbentuk, tak berwujud, tapi dia nyata. Tiap orang (yang normal) pasti pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Orang sebenernya gak pernah ada yang bisa mendefinisikan cinta secara tepat, sebuah kamus sekalipun. Ada yang bilang cinta itu pengorbanan. Iya, kalo itu lagi pas Idul Adha. Cinta mungkin sebuah rasa sayang. ...
Assalamu'alaikum You know what, ini lagi nulis blog di Narita loh, di Jl. Barata Jaya Surabaya itu. Well, ni lagi ngurus pembayaran hotel para peserta yang nginep disini dalam rangka acara Konferensi APIO IV (Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi) yang tahun ini diadakan di Surabaya. Panitianya adalah temen-temen MaPro di Unair, dibantu juga sama beberapa temen-temen laen yang kayaknya emang hobi banget "ngerjain kegiatan". Kayaknya muka-mukanya tuh seneng banget, ikhlas, gak ada beban, padahal ...
Assalamu'alaikum Aku tergelitik setelah membaca status salah satu temanku di facebook, Aku lupa itu facebook milik siapa, tapi intinya dia bilang: “Pernah bayangin gak sih kalo sebenarnya jangan-jangan SEMUA HUBUNGAN di dunia ini hanya didasari pada KEPENTINGAN semata???” Yah, kepentingan. Siapa sih yang gak punya kepentingan di dunia ini? Awalnya aku merasa janggal membaca status ini, Aku protes dalam hati tanda tidak setuju. Masak sih semuanya hanya karena ada kepentingan di dalamnya? PEMIMPIN ...
Assalamu’alaikum... Kalian pasti tau yang namanya poliklinik. Ya, di poliklinik biasanya ada poli gigi, poli anak, poli umum, poli jantung, poli kandungan, dan sebagainya. Nah, kenapa kita ngomongin hal ini? Karena kita akan membahas tentang poligami *maksa meski gak nyambung*. Hehe. Ini juga sebagai janjiku untuk menulis sedikit tentang poligami, terkait dengan resensi buku Tere-Liye pada postingan sebelumnya disini. Well, poligami itu fenomena menarik, menurutku. Dimana seorang laki-laki ...
Assalamu'alaikum... Fenomena memakan LIDI tampaknya makin marak akhir-akhir ini. Hmm... entahlah, tapi teman-temanku juga ikut meramaikannya. Yah... manusia kan kurang lebih termasuk omnivora, jadi apapun bisa dimakan (asal halal) :) Tapi tunggu dulu, mereka bukan memakan lidi seperti ini: lidi asli Tapi mereka (dan aku) makan jajanan lidi (alias biting - bahasa ...
Kalau ada yang bertanya, novel apa yang bisa membuatku menangis tersedu-sedu, itu salah satunya adalah novel karya Tere-Liye, “Bidadari-bidadari Surga” judulnya. Special thank’s to Dik Ria yang telah memberikan kado yang sangat indah itu, juga Afina, rekan kerjanya, sahabat baikku :) Saking semangatnya, aku membaca novel ini hanya kurang dari 24 jam, hehehe… Serius!
![]() |
Sampul depan |
Sampul belakang |
Pengarang : Tere-Liye
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2008 (cetakan I), 2010 (cetakan VI)
Tebal buku : vi + 368 halaman
Ukuran buku : 20,5 x 13,5 cm
Ide ceritanya aku rasa sederhana saja, tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) demi kesuksesan keempat adik tirinya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta). Juga cinta, semangat, kerja keras, dan doa kepada Tuhan. Namun, Tere-Liye mengemasnya dengan begitu cantik, apik, menyentuh, dan sangat manusiawi. Deskripsinya tentang keindahan alam Lembah Lahambay yang dikelilingi batu cadas setinggi lima meter, Gunung Kendeng, sungai, hutan rimba, dan kebun strawberry nyaris sempurna. Pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri panorama-panorama tersebut di depan matanya, persis menonton sebuah film dengan alur maju-mundur yang begitu rapat.
Dalam novel ini kita bisa belajar banyak hal, selain yang aku sebutkan di atas. Salah satunya adalah tentang takdir Tuhan, yaitu bahwa HIDUP, JODOH, REZEKI, dan MATI adalah sepenuhnya milik Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, tapi keputusan akhir tetaplah di tangan Allah.
Kak Laisa, seorang teladan dalam keluarga yang sudah terbiasa bekerja keras setelah babak (ayah) nya meninggal karena dimakan harimau Gunung Kendeng. Kak Lais, begitu ia dipanggil, memiliki keterbatasan fisik. Tubuhnya pendek (ketika dewasa hanya setinggi dada adik-adiknya), hitam, rambut kumal, dan gemuk serta dempal. Berbeda sekali dengan keempat adiknya yang tampan-tampan dan cantik. Ia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang mungkin sebetulnya lebih dibutuhkan oleh semua lelaki.
Bagaimana tidak, Kak Lais dengan ikhlas meminta kepada mamak (ibu) nya untuk berhenti sekolah saja saat kelas 4 SD, demi melihat keempat adik tirinya bisa sekolah, karena ia tahu saat itu mamaknya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan kelima anaknya sekaligus. Dengan ketekunan kerjanya bersama mamak, akhirnya Lais berhasil memiliki ribuan hektar kebun strawberry yang sebelumnya sama sekali belum pernah ditanam oleh penduduk Lembah Lahambay. Dari kampong terpencil di pinggir hutan, Dalimunte akhirnya berhasil menjadi profesor di bidang fisika yang terkenal di seluruh dunia, dengan penelitian terbarunya tentang “Badai Elektromagnetik Antar Galaksi” yang akan menghantam planet ini sebelum kiamat. Ikanuri dan Wibisana meskipun beda jarak usianya satu tahun tetapi sering dianggap kembar, berhasil mendirikan bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport, dan Yashinta si bungsu yang mendapat beasiswa S2 ke Belanda dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi, meneliti tentang burung Peregrin atau Alap-alap Kawah dan sejenisnya, serta menjadi kontributor foto untuk majalah National Geographic.
Keempat adiknya tergolong mudah dalam mencari jodoh. Bagaimana tidak, mereka secara fisik menarik, pandai, shaleh, bisa menempatkan diri dengan baik, dan tetap rendah hati. Sedangkan Kak Lais? Hingga usianya 40 tahun lebih, belum juga mendapatkan jodohnya. Kak Lais bukannya tidak peduli dengan omongan penduduk kampung, apalagi setelah dilintasi (ditinggal menikah lebih dulu) tiga kali oleh adik-adiknya, tetapi Kak Lais selalu mengatakan kepada Dalimunte bahwa Allah telah mengirimkan keluarga terbaik dalam hidupnya, dan itu sudah cukup. Ia menerima takdir Tuhannya dengan lapang dada, meski tak dipungkiri setiap habis shalat tahajjud ia sering menghabiskan waktu sendirian di lereng bukit, bernostalgia tentang adik-adiknya yang dulu nakal sekali sekarang sudah sukses semua, dan tentunya merenungi tentang hidupnya sendiri; memandangi kebun strawberry yang luas, menuggu hingga langit menyemburatkan cahayanya tanda subuh menjelang. Dalimunte lah yang sering menemani kakaknya disana, setiap dua bulan sekali kepulangannya dari luar negeri.
Hingga hari kematian Kak Lais tiba karena kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun, Allah belum juga menurunkan jodohnya ke bumi. Tapi mamaknya yakin sekali bahwa Lais adalah bidadari surga.
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (QS Al-Waqiah: 22),
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (QS Ar-Rahman: 70),
Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (QS Ash-Shaffat: 49).
Maka, dalam epilog novel ini, Tere-Liye menulis:
"Dengarkanlah kabar gembira ini.
Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah), yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar biasa."
Jika di-rating dalam rentang 1 – 10, aku akan memberi nilai 9. Novel ini nyaris sempurna. Namun, ada beberapa kalimat awal dalam bab 39 (halaman 309) dan bab 44 (halaman 353) yang sedikit mengganggu alur cerita. Di bab 39, paragraf pertama, pengarang menulis seperti ini:
"Terus terang, mengungkit masa lalu Laisa bukanlah bagian yang menyenangkan. Tetapi tidak adil jika kalian tidak tahu ceritanya. Apalagi untuk mengerti utuh semua kisah ini. Mengerti betapa Kak Laisa tulus melakukan semuanya. Maka, dengan melanggar janjiku kepada keluarga mereka, ijinkanlah aku menceritakannya."Dan di bab 44, sebanyak dua halaman, pengarang menulis tentang apa perannya dalam cerita di novel ini. Tere-Liye adalah saksi hidup atas peristiwa dalam keluarga mamak dan Laisa. Dan dia adalah salah satu penerima SMS mamak (selain keempat anaknya yang lain) yang mengabarkan tentang kondisi Laisa yang sedang kritis. Setelah dua halaman tersebut, pengarang kembali melanjutkan ceritanya dengan alur maju.
Agak janggal membaca novel seperti ini. Dimana sedang enak-enaknya menikmati alur cerita yang begitu indah, harus “terganggu” dengan fakta yang disampaikan pengarang yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting bagi pembaca. Misalnya, tentang apa hubungan pengarang dengan kisah yang ditulisnya, bagaimana perang batin dalam diri pengarang tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikisahkan dalam novel ini, dan sebagainya. Mungkin hal-hal tersebut bisa dituliskan pengarang dalam kata pengantar atau dalam ucapan terima kasihnya, bahwa novel ini diangkat dari kisah nyata, misalnya, lalu proses perjuangan yang dilalui pengarang selama menulis, dst, dan bukan dalam “isi” novelnya.
Overall, novel ini sangat layak diapresiasi! Di tengah situasi negara ini yang “dibuat” oleh media seolah-olah sudah sangat bobrok dan tidak bermoral, Tere-Liye dengan cerdas dan menyentuh mampu mengangkat kisah sebuah keluarga kecil yang mungkin keberadaannya tidak diperhitungkan di tanah Indonesia yang begitu luas ini.
Apalagi jika benar bahwa ini cerita nyata dan telah dibaca oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata, tidaklah mustahil jika suatu saat hikmah dalam novel ini akan memberi perubahan besar terhadap Indonesia khususnya, karena masyarakat kita telah memahami pentingnya kerja keras, doa, cinta, semangat, pantang menyerah, dan kerja keras serta kerja keras lagi.
Good job! I like it! *baca dengan gaya dan intonasi Rianti Cartwright di salah satu acara ajang pencarian bakat di stasiun TV swasta* :)
***
Maaf kalo ada yang protes tentang cara penulisan resensi ini, karena jujur aku lupa bagaimana cara menulis resensi yang baik dan benar. Ini hanya mengandalkan ingatanku pada pelajaran Bahasa Indonesia saat SMP/ SMA (dan sayangnya ingatanku payah). Dan rasanya menulis resensi tidak perlu sepanjang ini, hehe.
By the way, kalo ada yang pengen aku meresensikan sebuah buku atau yang sedang ingin tahu apa isi buku tertentu, cukup beri aku satu sampelnya (beri lo ya, bukan meminjami), lalu akan aku baca dan tulis resensinya. Muahahahaha *ketawa setan*
Eh ada yang tertinggal. Setelah membaca novel ini, aku jadi tergelitik untuk mengulas sedikit tetang poligami (nggak, disini nggak ada cerita poligaminya, hanya Kak Laisa hampir pernah dipoligami, tapi urung), juga cinta. Aku akan membahasnya secara ringan saja, karena aku juga bukan ahli fiqih atau ahli cinta (nah lo). Hanya menceritakan pengalaman yang pernah aku dapatkan saja, dari teman-temanku.
Hmm… semoga Tuhan memberiku kekuatan untuk menulisnya suatu saat kelak, di blog ini. Amin :)
Wassalamu’alaikum.
Assalamu'alaikum Hai guys, being 24 years old is bad good! And i think really-really good! Yah, apa lagi yang bisa aku katakan? Mau bilang menyesal karena usia bertambah dan jatah umur berkurang? Nyatanya justru bertambahnya usia membuat seseorang (harusnya) tambah matang alias mature. Mensyukuri apa yang telah ada, Berusaha menggapai impian dan cita-cita yang belum terwujud, Dan selalu ...
Assalamu'alaikum Hari ini, 24 tahun yang lalu... Ibuku menunggu kelahiranku dengan H2C (harap-harap cemas), Ibuku bilang ingin sekali melahirkan aku tanggal 1 Oktober, pas hari kesaktian Pancasila, mungkin biar momennya asik dan diperingati seluruh masyarakat Indonesia, Ah, tapi apa daya aku tidak keluar-keluar waktu itu dari perutnya,,, Setelah air ketuban ibuku pecah, Bapakku segera ...
Malam ini, aku teringat semuanya Tentang ibuku Tentang kulitnya yang mulai keriput Di wajahnya, tangannya, lehernya, punggung kakinya, Tentang ubannya yang mulai banyak Tentang suaranya yang galak tapi lembut Tentang pelukannya, senyumannya, semuanya Ibuku baik sekali, tapi juga galak Kalau kata bapakku, ibuku mempunyai hati seperti benang emas Kalau kataku, ibuku seperti macan berbulu kucing Hatinya mudah tersentuh, mudah mengasihani orang lain Tapi kalau sudah disakiti atau dikecewakan, Maka ...
16 Maret 2010, jam 22.30 WIB, in my room, Surabaya Assalamu’alaikum teman-temaaaaaaannn Pety is back! Maap yah baru bisa nulis lagi. Maklum kemaren-kemaren si inem ini masih bantu-bantu majikan, jadi...ehm, kebanyakan deh pengantarnya =) Here goes. Brek! Fiuuhh, aku letakkan tubuhku di atas kursi empuk bis jurusan Surabaya-Kediri, tanggal 10 April yang lalu. Syukurlah dapat bis Patas ...
Assalamu’alaikum teman-temaaaannn... Hai hai, jumpa lagi dengan saya di note kali ini. Hmm...kalo Pak Mario Teguh nyebut note-nya dengan Super Note, apa ya nama note-ku? Mungkin “Super-Santai-Note” aja yah (butuh masukan/ saran nama neh, hehe). Kenapa SUPER SANTAI NOTE? Karena aku nulisnya juga dengan gaya santai aja, dari kehidupan sehari-hariku. Karena aku gak mau, atau lebih tepatnya gak bisa berbahasa yang berat-berat, yang buat nulisnya aja butuh “mikir”, apalagi buat yang baca, tambah berat ...
23.00 WIB – Entah note ini penting atau tidak, tapi aku rasa cukup penting untuk masa depanku. Tsaaahhh... “Fatma, kenapa namamu jadi Pety?” “Pety, kenapa namamu Pety? Dari mana? Kok bisa?” “Pety, apakah namamu benar-benar Pety?” “Pety, kamu cantik deh, minta makan donk!” Ehm, yang terakhir itu ungkapan dari seorang teman yang sedang kelaparan. Well, jutaan orang tanya kenapa namaku yang ...
22.30 WIB Well, finally i come back to write a simple note, here it is.. :D Pagi yang cerah, seperti biasa aku turun dari bemo (angkutan umum) jurusan terminal Bratang, bemo S. Aku turun di bunderan kampus ITS Manyar, karena tempat kerjaku di jalan Kalibokor. Dari bunderan itu aku jalan kaki, menyeberang jalan dua kali, dan sampailah di kantorku. Tidak jauh, hanya sekitar 100 meter. Tiba-tiba ...
Assalamu'alaikum Huah, lamo sekali sayo tidak menulis di blog ini :( Kalau istilahnya Raditya Dika (www.radityadika.com) sih "Blogger yang Murtad". Jadi sedih sendiri kalo dibilang kayak gitu.. Well, some things happened these days, misalnya: - Tiba-tiba dapat kabar kalau Pakpuh saya (om atau kakaknya ibu saya) sakit dan dirawat di RS Graha Amerta Surabaya. So, saya gak mungkin gak menjenguk ...
Satu kejadian yang kayaknya aku gak bisa lupa pas MOS SMP ku, SMPN 1 Kediri. Waktu itu baru beberapa hari aku ikut MOS di sekolah. Pagi itu kayaknya aku ketiban apes, yaitu telat. TELAT dateng MOS adalah a big no-no buat siswa baru. Fiuhh... udah keringetan karena tiap hari aku naek sepeda pancal, buru-buru lari sepanjang parkiran sampe kelasku yang paling belakang letaknya, eh... masih ngos-ngosan udah disuruh berdiri baris bersama anak-anak yang pada telat. Gak bisa dihindari, aku disembur sama ...