Catatan Dari Pulau Buru #1

, , No Comments
"Periksa tiket, periksa tiket!"
Terdengar suara pemeriksa tiket berkeliling ke penumpang di atas Kapal Cantika 99 yang saya tumpangi dari Ambon menuju Pulau Buru, Maluku.
Saya bergegas menyerahkan kertas tiket seharga 105.000 rupiah itu dan petugas tak berseragam segera menyobeknya.


Kapal Cantika 99 jurusan Ambon - Buru

Suasana di atas geladak kapal
Saya memandang berkeliling, dengan perasaan antara senang, bersemangat, juga sesuatu yang tidak terdefinisikan. Mungkin takut, khawatir, atau sekedar hampa. Mencoba tersenyum pada penumpang lain yg berpapasan membuat saya merasa lebih baik

Saya mencari kasur nomor 329. Dekat pintu masuk, kata mbak penjaga tiketnya. Begitu melihat dapat kasur di sebelah bawah, my biggest nightmare is coming!
Mungkin saya jarang cerita, saya takut berada pada tempat yang di atas saya ada sesuatu yang lain. Kasur penumpang lain, dalam hal ini. Pikiran langsung terbayang bahwa kasur atas bisa sewaktu2 jatuh mengenai tubuh, khususnya bila sedang gelombang besar di laut, dan saya mati!

Saya mencoba berkeliling dan hanya duduk di bawahnya. "Haruskah berbaring?" Tapi demi melihat ratusan penumpang lain dengan santainya naik turun kasur di atas, tua dan muda, saya berpikir pasti kasur-kasur ini aman. PASTI. 1,5 jam menunggu proses masuknya seluruh penumpang, pukul 21.30 WIT akhirnya kapal cepat kami berangkat.


Kondisi di dalam kapal dari arah kasur saya
Enam setengah jam mengarungi Laut Banda, saya sempat bohong pada ibu bahwa kali ini pergi dengan teman. Maksud saya baik, agar tidak khawatir. Padahal semalam saya pergi sendirian. Bertaruh nyawa antara hidup dan mati di perairan terbuka tanpa tahu baju pelampung letaknya di mana, dan juga tak tahu ke Buru mau apa.

Air cukup tenang, hanya tengah malam gelombang datang lebih besar membuat kapal bergoyang keras. Angin tidak terlalu dingin, tapi menjelang jam 3 dini hari saya mulai menggigil. Pintu kapal yang dibuka membuat aroma jelas tercium: perpaduan antara asin laut, basah pekat, dingin malam, besi-besi kapal bercat, kasur agak apek, juga tumpukan barang2 penumpang.

Orang-orang Maluku ramah, tak ada bedanya dengan Jawa. Warna kulitnya juga beragam, seperti di Jawa. Ada yang sungguh manis, ada yang biasa-biasa saja. Sama persis dengan Jawa. Saya tersenyum. Saya suka tempat ini. Saya suka pulau ini.

0 komentar:

Post a Comment